Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 22 - Pemburu



Aura Kegelapan dan juga kejahatan yang begitu besar dapat dirasakan terpancar keluar dari pedang hitam usang yang digunakan oleh Aaron.


"Apa-apaan itu?!" Tanya sang pendekar pedang kepada dirinya sendiri.


Tak hanya itu, tapi tekanan angin yang sangat kuat juga terus menerus mereka rasakan. Semua itu terjadi semenjak Aaron mengucapkan satu kata itu.


"Oi! Pendeta! Apakah kau tak bisa melakukan sesuatu dengan ini?!" Tanya sang penyihir dengan kesal.


"Bukankah itu seharusnya bidang yang kau kuasai?!"


Sementara itu, sang Assassin hanya terdiam karena tekanan itu membuatnya tak mampu bergerak dengan bebas. Ia hanya bisa merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.


Tapi dari mereka semua, hanya sang pemanah yang menyadarinya.


"Semuanya.... Kurasa ini adalah kabar yang sangat buruk. Pedang itu.... Pedang itu...."


Belum sempat Ia menyelesaikan perkataannya, Aaron dengan tiba-tiba melesat dari tempatnya berdiri.


'Blaaaarrr!'


Hanya dengan satu hentakan kaki yang kuat itu, kini Aaron telah bergerak ke arah sang pendekar pedang. Sedangkan tangan kanannya telah mengayunkan pedang hitam itu.


Saat ini, pedang hitam itu memiliki dua jenis bentuk.


Bagi manusia biasa, pedang itu hanya akan terlihat seperti pedang hitam yang usang. Dengan perasaan yang cukup kuat, mereka mungkin akan merasakan hawa jahat dari pedang itu.


Tapi bagi kontraktor iblis....


'Jadi seperti ini wujudmu yang sebenarnya, Devourer?' Tanya Aaron pada dirinya sendiri setelah akhirnya menyadari wujud asli pedang itu.


Pedang itu memiliki warna hitam dengan bagian bilah yang sebenarnya menyerupai mulut iblis. Tapi bagian itu sendiri bersifat Ethereal atau tak terlihat dengan kasat mata.


Setiap kali Aaron mengayunkan pedang itu, mulut iblis dengan ratusan taring itu akan terbuka dan bersiap untuk memangsa.


Bukan fisik dari lawannya. Melainkan jiwa itu sendiri.


'Zraaasssshhh!!!'


Sang pendekar pedang berhasil sedikit menghindar karena pedang Aaron sedikit terpukul oleh panah yang dilesatkan lawannya.


Akibatnya, hanya tangan kanan sang pendekar pedang itu yang terluka.


"Terimakasih!" Teriak sang pendekar pedang untuk membalas kebaikan dari anggota timnya. Tapi sayangnya....


'Klaaaangg!!!'


Pedang besar itu tiba-tiba terjatuh dan terlepas dari tangan sang pendekar pedang.


'Eh?! Kenapa tangan kananku tak bisa digerakkan?'


Kini, tangan kanannya sama sekali tak bisa digerakkan akibat tebasan pedang itu.


Tentu saja, semua yang melihat kejadian ini merasa ketakutan setengah mati. Termasuk mereka yang ada di tempat yang jauh, yang memantau perburuan ini dengan Drone di langit.


"Tuan Direktur! Ini gawat! Pedang itu nampaknya memiliki kekuatan sihir yang sangat besar! Mohon perintah untuk menarik mundur seluruh Hunter!" Teriak salah seorang pegawai di ruangan yang dipenuhi oleh komputer itu.


"Perintah diberikan! Segera tarik mundur mereka semua!" Balas sang Direktur dengan wajah yang sangat panik sambil memperhatikan layar yang besar itu.


Dalam hatinya....


'Apa-apaan ini?! ID Blade adalah salah seorang Hunter dengan kekuatan dan ketahanan tubuh terbaik di dalam organisasi ini. Tapi itu semua hancur hanya dengan sebuah goresan di tangannya?!'


Ketakutan mulai membuat tubuhnya merinding. Tak ada satu pun hal yang bisa dijadikan sebagai penjelasan atas semua kejadian ini.


"Perintah! Kepada semua Hunter untuk segera kabur! ID Sorcerer! Gunakan sihir gerbang untuk kabur!" Teriak salah satu pegawai itu.


Kembali ke bibir Pantai Samas....


Aaron yang baru saja mengayunkan pedangnya merasa sedikit terkejut melihat reaksi dari lawannya.


Sementara itu, terdengar teriakan dari kejauhan.


Orang yang berteriak tak lain dan tak bukan adalah sang penyihir.


Mendengar hal itu, Aaron segera menuju ke sumber suara tanpa sedikitpun keraguan. Hal yang wajar karena Ia tak ingin melihat lawannya kabur begitu saja setelah semua ini.


Tapi pada saat Aaron sampai di sumber suara....


Yang dilihatnya hanyalah sebuah lingkaran sihir berwarna biru. Lingkaran sihir itu memiliki wujud yang cukup rumit dan juga aneh bagi Aaron.


Dan dari lingkaran sihir itu juga....


"Semuanya! Kemari! Cepat sebelum Pria itu berhasil mengejar kita!"


Sebuah suara yang menyerupai sang penyihir itu pun terdengar dengan begitu jelas. Mengejutkan Aaron yang saat itu mendengarnya.


'Yang benar saja.... Sihir bisa digunakan seperti ini?' Pikir Aaron dalam hatinya sambil segera melihat sekeliling.


Di kejauhan, terlihat kumpulan lima Hunter barusan yang telah berkumpul. Termasuk sang pendekar pedang yang masih memegangi tangan kanannya.


"Selamat tinggal, Aaron. Kami akan kembali lagi dalam waktu dekat. Kali itu, kami akan benar-benar menangkapmu." Ucap sang penyihir yang berdiri di sebuah gerbang portal. Sebuah sihir yang mampu membuat manusia menempuh jarak jauh hanya dalam sekejap mata.


Semua Hunter itu telah berjalan melewati gerbang itu. Menyisakan hanya sang penyihir sendirian yang sedang memprovokasi Aaron.


Aaron pun segera berlari dengan sekuat tenaga.


Tapi sebelum Ia berhasil mendekati sang penyihir dan juga gerbangnya itu, lawannya telah kabur.


Gerbang itu juga telah tertutup hingga tak lagi berada di dunia ini.


Menyisakan Aaron sendirian di tengah kesunyian pantai ini sekali lagi.


"Hah.... Apa-apaan mereka itu? Tapi setidaknya, aku telah memberi sedikit pelajaran bahwa aku bukanlah mangsa yang mudah diburu. Selanjutnya, aku pasti yang akan memburu kalian." Ucap Aaron sambil memandangi lokasi gerbang itu sebelumnya berada.


Di sisi lain, Drone yang mengawasi semua kejadian ini di langit segera meninggalkan tempat ini secara perlahan.


Suaranya yang hampir tak terdengar itu disamarkan oleh suara angin dan juga ombak. Membuat Aaron sama sekali tak menyadari keberadaan benda mati itu.


Setelah itu, Aaron kembali duduk di bibir pantai dan memandangi pedang hitamnya.


"Aku tak pernah menyangka bahwa efeknya akan sebesar ini pada manusia." Ucap Aaron pada dirinya sendiri sambil melihat pedangnya.


Efek yang dimaksudkan olehnya adalah efek kehancuran jiwa yang disebabkan oleh pedang itu sendiri.


Ketika Aaron masih berada di dunia Iblis, Ia memang selalu mengayunkan pedang ini selama seribu tahun untuk membasmi apapun.


Pada awalnya, pedang ini jauh lebih tumpul bahkan daripada pedang terburuk sekalipun.


Tapi lama kelamaan, semakin banyak pedang itu merenggut nyawa iblis, pedang itu menjadi semakin tajam. Hingga cukup untuk setidaknya menebas sebagian besar Iblis di sana.


Sedangkan efek pemakan jiwa itu? Aaron sendiri hanya mampu merasakan efeknya tanpa mengetahui wujud aslinya itu. Sebuah efek dimana Iblis akan mulai melemah setelah 5 hingga 7 tebasan.


Tentu saja, efeknya akan semakin lemah untuk Iblis tingkat tinggi dan Raja Iblis.


Tapi untuk manusia....


"Kurasa aku akan menggunakan senjata yang lain. Ini hanya akan ku gunakan untuk keadaan kritis. Lagipula...."


Saat ini, tangan kanan Aaron mulai merasakan sedikit nyeri. Semua itu hanya karena Ia memegang pedang itu.


Sebuah perasaan yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya.


"Apakah ini karena aku juga telah membuat kontrak dengan iblis? Ah, sudahlah. Alyside...."


Kini, rantai tak kasat mata mulai muncul mengelilingi pedang yang telah disarungkan itu. Secara perlahan, rantai itu mulai melilitnya dan mengekang pedang itu.


Setelah semua itu selesai, rantai itu segera kembali menghilang. Membuat pedang itu berada dalam kondisi yang sama ketika Alice membuangnya.


Dengan pemikiran terakhirnya itu, Aaron memutuskan untuk segera kembali ke asrama. Pekerjaan di keesokan harinya telah menanti.