
"Buku ini.... Jangan-jangan adalah buatan Iblis itu?" Pikir Aaron dalam hatinya sambil memperhatikan buku itu.
Tanpa Ia duga sama sekali, terdengar suara langkah kaki di dalam perpustakaan raksasa ini. Sebuah langkah kaki yang cukup ringan. Tapi karena ruangan ini begitu sunyi, maka suara itu terdengar menggema ke segala arah.
"Selamat datang di perpustakaan ini, Tuanku telah menanti kedatangan Anda." Ucap seorang Iblis tua yang memiliki wujud setengah manusia dan setengah hewan itu.
Iblis itu memiliki kulit hitam dengan tinggi badan yang hanya mencapai 1.5 meter saja. Pakaian yang dikenakannya adalah jubah yang cukup rapi hingga menyentuh lantai.
Kepalanya terlihat telah botak, tapi Ia masih memiliki jenggot yang cukup panjang dengan warna putih bersih. Tak lupa sebuah kacamata membantu penglihatannya.
Karena telah cukup tua, Iblis itu terlihat membutuhkan bantuan tongkat kayu untuk berjalan.
"Tuanmu.... Siapa yang kau maksud?" Tanya Aaron sambil tetap menjaga kewaspadaannya. Tangan kanannya telah siap untuk menarik pedang suci yang ada di pinggang kirinya.
Dengan senyuman yang ramah, Iblis tua itu pun menjawab.
"Siapa lagi jika bukan Tuan Muda, Chronoa? Beliau telah menanti kedatangan Anda disini. Yah, meskipun kini Tuan Muda tak lagi bisa menemui Anda."
Aaron menjadi sangat kebingungan setelah mendengar perkataan dari Iblis tua itu. Apa yang dimaksud dengan pernyataan bahwa dirinya telah dinanti? Apakah itu juga berarti pada masa lalu, Iblis tua ini juga masih menanti kedatangan Aaron yang tak kunjung datang?
Di saat seluruh pemikiran Aaron berada dalam tanda tanya yang besar, Iblis tua itu mulai berjalan secara perlahan ke arah buku yang baru saja akan dibaca oleh Aaron.
"Ini adalah karya terakhir Tuan Muda, sebuah usaha terakhir untuk menyelamatkan seluruh Iblis dari keenam penguasa utama." Ucap Iblis tua itu dengan suara yang cukup lirih. Kesedihan terdengar dengan jelas di setiap perkataannya. Meski begitu, Ia mampu menahannya dengan sangat baik.
"Apa yang kau maksud dengan itu?" Tanya Aaron bingung. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Iblis yang ada di hadapannya dapat berpikir secara rasional seperti itu.
Menyelamatkan bangsa Iblis? Apa yang dimaksudkan dengan itu?
Dengan senyuman yang tipis, Iblis tua itu mulai berjalan ke suatu arah. Memberikan isyarat kepada Aaron untuk mengikutinya.
Dengan sikap yang terus waspada, dan pikiran utama yaitu bersiap untuk segala jenis perangkap, Aaron pun mengikuti langkah pelan Iblis tua itu.
'Bagaimana bisa aku tak merasakan keberadaannya di sini sebelumnya?' Pikir Aaron dalam hatinya. Ia terus memperhatikan Iblis tua yang cukup bungkuk itu.
Setibanya mereka di hadapan sebuah rak buku, Iblis tua itu terlihat meraih beberapa buku.
'Bbrrruuuukk!!'
Secara tiba-tiba, rak buku itu pun bergerak dengan sendirinya ke arah belakang sebelum kemudian bergerak ke samping. Membukakan jalan rahasia dari balik rak buku itu.
"Te-tempat ini?!" Teriak Aaron terkejut.
"Ikutlah denganku, Pahlawan Manusia. Aku akan memperlihatkan kepadamu beberapa hal yang telah ditinggalkan Tuan Muda untukmu." Ucap Iblis tua itu dengan tenang.
Ia seakan sama sekali tak takut bahwa dirinya akan dibunuh oleh Aaron. Seakan percaya bahwa manusia itu takkan pernah melukainya.
Meski pada kenyataannya, Iblis tua itu hanya mempercayai perkataan Tuannya.
Di dalam ruangan rahasia itu, terdapat sebuah lorong yang menuntun ke arah sebuah tangga batu. Tangga itu menuntun mereka berdua untuk bergerak ke lantai bawah. Semakin dalam ke bawah tanah itu.
Selama perjalanan, Aaron memperhatikan berbagai lukisan yang terpampang di sekitar dinding ruangan rahasia itu.
"Apakah kau tertarik dengan lukisan itu?"
Apa yang sedang dilihat oleh Aaron, adalah sebuah lukisan pertempuran yang luarbiasa besar. Pertempuran itu terlihat memiliki 5 pasukan utama dengan wujud dan perlengkapan yang jauh berbeda.
Satu memiliki warna merah menyala dengan kobaran api yang kuat.
Satu lagi memiliki warna kehijauan dengan balutan cahaya hijau muda yang aneh. Jika diperhatikan dengan lebih baik lagi, tubuh mereka terlihat terbuat hanya dari tulang belulang.
Tiga pasukan yang lain juga memiliki karakteristik yang jauh berbeda. Dengan ciri utama warnanya yaitu biru dengan tubuh seperti hewan dengan sisik dan juga sirip, kemudian emas dengan tubuh berupa batuan-batuan yang keras, serta terakhir yaitu hitam dengan tubuh seperti reptil dengan sayap di punggung mereka.
Beberapa naga dengan tubuh hitam terlihat terbang di sekitar medan pertempuran itu, membakar segalanya dengan api hitamnya.
Tapi ada satu hal yang aneh dalam lukisan itu. Yaitu sebuah kenyataan bahwa selagi mereka berperang satu dengan lainnya, mereka semua bergerak ke arah yang sama. Yaitu bagian tengah dari tanah lapang itu.
Di bagian tengah lukisan itu, terlihat sosok seorang wanita dengan gaun yang indah serta rambut perak yang begitu memukau. Setelah diperhatikan dengan seksama, senyuman yang lebar terlihat pada wajah wanita itu.
"Lukisan ini.... Jangan katakan bahwa mereka semua...." Ucap Aaron secara refleks setelah menyadarinya.
"Itu benar sekali, wahai Pahlawan Manusia. Mereka adalah pasukan dari 5 penguasa utama di dunia Iblis ini. Semuanya sedang berjuang sekuat tenaga untuk membunuh Iblis yang paling keji dan paling dingin dari semuanya.
Satu-satunya dari keenam penguasa yang sama sekali tak memiliki bawahan atau keturunan, Thiria Tou Mavrou." Jelas Iblis tu itu dengan cukup panjang lebar.
Itu benar, Aaron telah menyadarinya setelah bertemu dengannya secara langsung. Dan semua itu diperjelas dengan lukisan yang ada di hadapannya.
"Apa yang terjadi diantara mereka? Aku dengar mereka semua bertarung untuk memperebutkan dunia ini tapi.... Kenapa Thiria hanya sendirian?" Tanya Aaron kebingungan.
Iblis tua itu terlihat menghela sedikit nafasnya sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Itu karena Thiria adalah pembawa bencana itu sendiri. Ia tak memperdulikan wilayah, tak memperdulikan kekuasaan, tak memperdulikan kekayaan. Apa yang diinginkan olehnya hanyalah lawan yang dapat menghiburnya dalam sebuah pertarungan.
Meski begitu, kelima penguasa utama sekalipun tak mampu untuk menghentikannya. Setidaknya.... Itu karena mereka berlima juga masih berselisih satu sama lain. Sama seperti yang kau lihat di dalam lukisan itu."
Aaron akhirnya memahaminya. Alasan kenapa dunia ini dipenuhi dengan peperangan. Penyebab utamanya adalah pergerakan dari keenam penguasa utama dunia Iblis itu.
Kemudian yang kedua....
"Tak ada satupun yang ingin mati sia-sia, ya.... Jadi mereka semua membuat perlawanan." Ucap Aaron pada dirinya sendiri setelah melihat lukisan di sebelahnya.
Sebuah lukisan yang menunjukkan bagaimana ras iblis rendahan berusaha mempersenjatai diri mereka seadanya, untuk melawan pasukan dari para penguasa utama.
"Itu benar sekali. Seperti yang diramalkan oleh Tuan Muda, Anda adalah orang yang cerdas. Sekarang, mohon ikut denganku." Ucap Iblis tua itu sambil kembali melanjutkan perjalanannya.
Hingga akhirnya, mereka berdua pun tiba di hadapan sebuah pintu besi yang tak terlalu tebal.
Iblis tua itu pun mengeluarkan sebuah kunci untuk membukanya. Dan apa yang ada di balik pintu besi itu....
"Silakan masuk, wahai Pahlawan Manusia. Di dalam ruangan ini adalah seluruh peninggalan Tuan Muda untukmu." Ucap Iblis tua itu sambil memberikan jalan untuk Aaron.