Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 25 - Perjalanan



Hendra berangkat ke Jakarta bersama dengan Alice dan juga Aaron. Mereka bertiga memutuskan untuk berangkat dengan menggunakan pesawat.


Salah satu alasannya adalah agar cepat sampai di Jakarta dan bisa mempersiapkan diri untuk rapat yang akan diadakan.


Hanya saja....


"Apa?! Manusia bisa terbang?! Aku sama sekali tak percaya dengan itu! Dan kau bilang kita harus menaiki burung besi raksasa itu?! Lihat! Bahkan benda itu tak bisa mengepakkan sayapnya!"


Aaron terlihat begitu heboh di dalam bandara ini. Membuatnya menjadi pusat perhatian dari banyak sekali orang yang sedang berada di bandara.


Di sisi lain, Alice nampak berjuang sekuat tenaga untuk menenangkan Aaron. Bahkan jika tak mampu sekalipun, Ia perlu membungkam mulutnya yang berisik itu.


Setelah perjuangan keras menantang maut, Alice akhirnya berhasil membawa Aaron ke dalam pesawat. Mereka bertiga duduk di bagian tengah pesawat, dengan posisi Aaron berada di tengah agar mudah untuk membungkamnya jika terjadi apa-apa.


"Komandan, barusan kau dan Alice menyerahkan beberapa kartu dan berkas tapi, kenapa aku tidak?" Tanya Aaron penasaran.


Dengan bisikan yang cukup lirih, Hendra pun menjawab.


"Jangan lupakan kau berasal darimana. Aku telah mengurus berkasmu dengan kuasa yang kumiliki."


"Lain kali jangan menarik perhatian sebanyak itu, Aaron. Jika hanya kau yang mempermalukan dirimu sendiri maka aku takkan mempermasalahkannya. Tapi saat ini kau juga mempermalukan kami berdua." Bisik Alice pada telinga kiri Aaron.


Dengan perkataan itu, Alice berhasil membungkam Aaron selama perjalanan pesawat ke Jakarta.


......***......


Jakarta.


Sebuah kota metropolitan yang sangat besar dan juga padat. Bahkan kota ini menduduki sebagai salah satu kota terpadat di dunia.


Beragam bangunan yang menjulang tinggi hingga ke langit terlihat di beberapa arah. Sebuah pemandangan yang sangat jarang terlihat di Yogyakarta.


"Gila.... Apakah manusia yang membuat semua ini?!" Teriak Aaron dengan penuh antusias setelah melihat kemegahan kota ini.


"Tentu saja. Memangnya siapa lagi?" Balas Alice dengan nada yang cukup sinis.


Segera setelah mereka keluar dari bandara, Hendra mencarikan sebuah taksi dengan aplikasi di dalam ponselnya. Membuat Aaron sendiri kebingungan.


"Kau bisa memanggil kendaraan hanya dengan ponsel?!"


"Berbeda denganmu yang hanya menggunakan ponsel untuk MeTube, aku memanfaatkan seluruh kemampuan ponselku kau tahu?" Balas Hendra yang saat ini sudah sangat lelah untuk mengurusi pertanyaan aneh dari Aaron.


Mereka bertiga segera bergerak ke arah sebuah hotel ternama di kota ini. Setelah memesan 3 kamar yang saling bersebelahan, mereka akhirnya meletakkan semua barang bawaan ke kamar masing-masing.


Setelah itu, rapat singkat diadakan di kamar Hendra.


"Aaron. Aku akan menegaskannya sekali lagi. Jangan buat kehebohan dan memancing perhatian banyak orang di tempat ini. Terutama di tempat rapat." Jelas Hendra dengan tatapan yang cukup tajam.


Menjawab hal itu, Aaron segera mengangkat tangan kanannya dan meletakkannya di depan keningnya.


"Siap komandan!" Ucap Aaron sambil memberikan hormat.


"Bagus. Sekarang, kita akan mulai membahas mengenai kemungkinan yang akan terjadi pada rapat itu."


Yang pertama. Mereka sama sekali tidak menjelaskan detail dari apa yang akan di bahas dalam rapat. Kemungkinan besar hal ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan dari rapat itu sendiri.


Kemudian yang kedua, semua komandan dari seluruh Provinsi di Indonesia telah dipanggil dalam rapat ini. Dengan kata lain, 34 orang komandan dan 68 pengawal akan menghadiri rapat besar ini. Dengan total jumlah anggota rapat mencapai 102 orang ditambah dengan 3 orang dari pemerintahan pusat sebagai penyelenggara.


"Kau benar. Tidak mungkin mereka hanya akan membahas sebuah masalah yang sepele setelah memanggil semua komandan dari seluruh Indonesia. Mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing hingga tak memiliki waktu banyak untuk bersantai." Balas Hendra setelah mendengar perkataan Alice.


Kemudian yang terakhir....


"Aku memiliki firasat yang buruk tentang pertemuan ini." Ucap Hendra setelah mendiskusikan masalah rapat ini bersama dengan Aaron dan juga Alice.


"Komandan, apa maksudmu dengan itu?" Tanya Alice kebingungan.


Tapi Aaron yang selalu bekerja di lapangan dan tidak pernah melakukan pekerjaan kantoran, mengutarakan pendapatnya.


"Kalian tahu aku selalu memburu Iblis kesana kemari kan? Dari pengalamanku, penilaian para petugas terhadap tingkat sebuah gerbang hampir selalu salah.


Beberapa kali aku memasuki gerbang tingkat C. Tapi kesulitan yang ada jauh lebih dari itu dan bisa kusetarakan dengan sebuah gerbang normal tingkat B. Terlebih lagi gerbang tingkat A Fellbeast sebelumnya...." Jelas Aaron sambil memasang raut wajah yang cukup tegang.


Aaron sendiri tidak pernah dan sama sekali tidak ada niatan untuk menceritakan apa yang telah terjadi di dalam Gerbang tingkat A itu.


Sebuah gerbang yang dibuka dan diperlebar oleh satu dari enam penguasa mutlak dunia Iblis.


Kenyataan itu saja akan membuat seluruh dunia ditelan Terror dan rasa panik. Dan kemungkinan besar manusia akan menghancurkan diri mereka sendiri sebelum para Iblis benar-benar datang karena informasi itu.


Itulah mengapa Aaron hanya menyampaikan bahwa lawan yang dihadapinya di Dungeon tingkat A itu sangat sulit.


"Hmm.... Jadi seperti itu ya? Saat ini aku lebih sibuk menjaga keamanan publik terhadap para iblis yang berhasil lolos dari pengawasan, jadi aku tak begitu sadar akan hal itu." Balas Alice sambil menopang dagu dengan tangan kanannya.


"Apakah kalian lupa? Bagaimana Dungeon tingkat B yang kalian remehkan itu? Sebuah Dungeon yang membawa kalian ke gunung salju yang mematikan itu?" Tanya Aaron sekali lagi untuk mengingatkan mereka berdua.


Akhirnya, Hendra dan Alice menyadari hal yang aneh tersebut.


Selama karir mereka, pengukuran kekuatan Dungeon memang pernah mengalami kesalahan. Itu karena yang diukur hanyalah energi sihir yang dipancarkan saja. Tapi perbedaannya tak pernah sejauh ini.


"Kau benar.... Kami berdua memang sudah sering menyelesaikan Dungeon tingkat B hanya berdua. Tapi baru kali itu saja...." Balas Alice samb menyadari keanehan yang terjadi akhir-akhir ini.


"Musuhnya terlalu kuat bukan?" Timpa Aaron untuk mempertegas.


"Aku hanya pernah tiga kali memasuki Dungeon tingkat A. Bukan hanya jarang muncul, tapi keberadaan Dungeon itu sendiri terkadang berada di tempat yang cukup aneh. Membuat orang-orang terlambat menyadarinya dan para Hunter tingkat S sudah menyelesaikannya terlebih dahulu.


Tapi.... Ada satu hal yang jelas. Yaitu kekuatan Boss yang ada di dalam Dungeon tingkat A itu, sama seperti Dungeon tingkat B yang aneh itu. Tidak.... Kemungkinan Boss Frost Giant itu bahkan lebih kuat daripada Boss Dungeon tingkat A yang pernah ku hadapi bersama dengan puluhan Hunter lainnya."


Jawaban dari Hendra ini semakin mempertegas keanehan yang mereka rasakan.


Yaitu sebuah kenyataan dimana gerbang Dungeon memiliki kekuatan yang lebih besar daripada standar yang sebenarnya.


Dan kemungkinan besar....


Hal itulah yang akan dibahas dalam rapat kali ini. Sebuah informasi yang sangat sensitif, yang bisa jadi membuat kepanikan dan kehebohan yang besar pada semua Hunter yang ada.