
...-- Markas Utama Silver Guards --...
...-- Ruang Latihan Bawah Tanah --...
Di dalam sebuah ruangan yang nampaknya berada jauh di dalam bumi ini, berdiri dua orang di tengahnya. Orang lain nampak terlihat. Atau lebih tepatnya 101 orang lain yang merupakan tamu dalam undangan kali ini.
"Kau yakin akan membiarkan mereka semua melihatnya?" Tanya Aaron menyindir mengenai kekuatan sebenarnya dari sang Grandmaster.
Aaron sendiri telah menyadarinya, bahwa asal dari kekuatan sihir yang luarbiasa besar dari sang Grandmaster, salah satunya adalah karena jenis sihirnya itu sendiri. Sebuah sihir yang sangat langka, sihir penciptaan.
"Memangnya kenapa? Mereka juga merupakan para pemimpin yang dipercaya untuk menjaga wilayah ini. Terlebih lagi, tak perlu menahan dirimu. Atau kau akan mati." Balas Niko dengan wajahnya yang kini terlihat semakin mengantuk.
Di saat dua orang itu berdiri saling berhadapan, tanpa adanya aba-aba, mereka saling menjauhi satu sama lain.
Bersiap untuk melakukan latih tanding.
Lantai dan juga dinding yang ada di tempat ini terlihat begitu kokoh dengan logam sebagai bahan utamanya.
Semua orang yang ada di dalam ruangan latihan yang cukup besar ini berbaris dengan cukup rapi di sisi samping. Menantikan pertarungan yang sama sekali tak mereka duga.
Setidaknya.... Mereka ingin melihat kekuatan dari sang Grandmaster yang sejak dulu dianggap sebagai salah satu orang terkuat di negara ini.
Setelah beberapa saat mereka terdiam....
'Sreeett!!!'
Sang Grandmaster tak melangkahkan kakinya sama sekali, melainkan mengayunkan tangan kanannya. Dengan itulah, Ia mengaktifkan sihir penciptaannya.
Sebuah pedang nampak terbentuk dari cahaya, perlahan tapi pasti mulai memiliki wujud fisik yang jelas. Setelah penciptaan itu selesai, Niko kembali mengayunkan lengannya seakan memerintahkan senjatanya itu menyerang ke arah Aaron.
Jumlah yang dibuat juga tak tanggung-tanggung. Saat ini, terlihat ada ratusan pedang yang telah melesat ke arah Aaron. Bahkan Niko nampak masih terus menerus membuat pedang yang baru.
'Zraaasssh!! Zraaasshh!'
Di sisi lain....
'Yang benar saja.... Kau menyia-nyiakan sihir sehebat itu hanya untuk ini?' Pikir Aaron dalam hatinya.
Bahkan dirinya sekalipun tak pernah mampu menguasai sihir penciptaan. Itu karena Ia tak memiliki atribut yang tepat untuk menggunakan sihir yang termasuk dalam salah satu sihir kuno itu.
Meski begitu....
'Klaaang! Klaaang!! Klaaangg!!!'
Aaron menangkis semuanya dengan tangan kosongnya. Memukulnya tepat di sisi pedang sehingga sama sekali tak menerima luka.
"Oi! Jika kau tak serius, aku akan mengalahkanmu." Teriak Aaron sambil terus berjalan dengan santai.
'Sraasssh!!'
Meski mampu menahan sebagian besar dari serangan fatal yang diarahkan dari pedang itu, Aaron masih tak mampu untuk menghindari seluruhnya.
Beberapa pedang nampak menggores bahu, lengan, kaki dan juga wajahnya. Meskipun, luka yang diderita sama sekali tidak serius.
Sementara itu....
"Yang benar saja?! Siapa dia?!"
"Mampu mengimbangi Grandmaster?!"
"Bukankah dia berasal dari Yogyakarta?!"
Sebagian besar penonton latih tanding ini merasa terkejut dengan kekuatan yang ditunjukkan oleh Aaron.
Mereka yang awalnya menganggap Aaron yang menghentikan tusukan pedang di ruang rapat itu hanyalah sebuah kebetulan, kini terpaksa untuk mempercayainya.
Mempercayai bahwa Aaron sendiri, mungkin jauh lebih kuat daripada Grandmaster.
"Kau kuat juga ya?" Ucap Grandmaster dengan wajahnya yang penuh kantuk.
Secara tiba-tiba, Niko mengubah pola serangannya.
Ia mengambil salah satu pedang yang dibuatnya dan segera menerjang ke arah Aaron.
Tepat sebelum Niko melompat untuk menerjang ke arah Aaron....
'Braaakk!'
Hentakan kakinya memunculkan ratusan bilah pedang dari bawah tanah. Menusuk tubuh Aaron di berbagai bagian.
"Kuugghh!!"
Seragamnya yang baru saja dicuci dan disetrika dengan rapi, kini robek di berbagai bagian. Dapat dipastikan bahwa seragam ini tak lagi bisa diperbaiki. Membuat Aaron merasa cukup kesal.
Aaron terlihat terkejut dengan hal baru saja terjadi. Ia menganggap bahwa sihir penciptaan itu hanya bisa digunakan dengan telapak tangannya sebagai media.
Tapi kenyataannya....
"Sama seperti yang lain. Kau tertipu ya?"
Dengan kalimat itulah, Niko sang Grandmaster mengayunkan pedang perak dengan alur emas itu ke arah leher Aaron.
Sementara penonton yang lainnya menunjukkan ekspresi yang seakan menyatakan bahwa mereka telah menduga kejadian ini. Seakan mereka telah mengira bahwa Grandmaster tak mungkin dikalahkan.
Tapi pada kenyataannya....
'Sraaassshh!!'
'Kreeeekkk!!'
"Eh?"
Aaron menahan tebasan pedang itu dengan menggunakan tangan kanannya sendiri. Tebasan itu mampu melukai separuh lengan Aaron dan terhenti ketika mengenai tulangnya.
Wajah terkejut tergambar dengan sangat jelas di wajah Niko. Bahkan mampu menghapuskan ekspresi kantuknya.
Pada saat itulah....
"Sudah ku duga, kau menyalahgunakan kekuatanmu. Sungguh sia-sia sekali. Tapi tenang, aku akan mengajarkanmu setelah ini." Jelas Aaron yang masih tertancap di tusukan ratusan pedang itu.
Melihat tingkat percaya diri dari Aaron, Niko mulai mengambil beberapa langkah untuk mundur.
'Yang benar saja?! Menahan salah satu pedangku hanya dengan tangan kosong?'
Itulah apa yang sedang dipikirkan oleh Niko saat ini.
Sedangkan Aaron?
"Ignis."
Secara perlahan, seluruh tubuhnya diselimuti dengan api merah kekuningan yang indah. Meski terlihat tak begitu kuat, tapi api itu sebenarnya sangat panas.
Bahkan mampu melelehkan seluruh bilang pedang yang menancap di sekujur tubuh Aaron. Mengembalikannya kepada cahaya.
Setelah selimut api yang ada di tubuhnya menghilang, Aaron terlihat sama sekali tak terluka. Kecuali bekas robekan pada seragamnya.
"Yang benar saja.... Apakah kau masih manusia?" Tanya sang Grandmaster sambil membuat senyuman yang cukup pahit.
Semua orang pun juga mulai meragukan hal itu. Meski begitu....
"Tentu saja aku manusia. Memangnya aku terlihat seperti apa? Sekarang, akan ku perlihatkan padamu bagaimana caranya menggunakan sihir penciptaan itu. Ignis." Ucap Aaron sambil mengarahkan tangan kanannya ke depan.
Pada saat itu juga, ratusan api kecil berwarna kuning mulai muncul di sekitar tubuh Aaron dan dengan segera melesat ke arah Niko.
'Wuuusshh! Wwuuusshh!!'
Merasa terancam, Niko segera menggunakan sihirnya untuk menciptakan sebuah perisai yang cukup besar. Setidaknya untuk bersembunyi dari api itu.
Tapi pada kenyataannya, api itu bahkan tak memberikan luka yang berarti.
Meskipun cukup panas, tapi bahkan api suci itu sekalipun tak begitu berguna ketika memiliki ukuran sekecil itu.
"Bagaimana? Sakit?" Tanya Aaron sambil memasang wajah yang terlihat begitu santai.
Niko sendiri kebingungan dengan apa yang dimaksud oleh Aaron. Tapi Ia akan segera mengetahui jawabannya.
"Kalau begitu, akan ku perlihatkan berikutnya. Kali ini hanya satu. Tapi dengan jumlah energi sihir yang sama persis seperti barusan. Ignis." Ucap Aaron sambil membuka telapak tangannya.
Sebuah bola api kecil berwarna kuning kemerahan nampak muncul. Secara perlahan tapi pasti, bola api itu mulai berubah warna menjadi biru.
Ukurannya hanya sebesar setengah genggaman tangan. Tak jauh berbeda daripada ratusan bola api kecil yang sebelumnya digunakan.
Akan tetapi....
"Bersiaplah. Kali ini cukup panas." Ucap Aaron sambil tersenyum dan mengarahkan tangannya kepada Niko.
'Swuuuoosshh!!!'
Bola api berwarna biru itu melesat dengan sangat cepat.
Seketika, insting Niko mengatakan bahwa bahaya yang besar sedang datang ke arahnya. Ia dengan cepat membuat dua buah perisai besar tambahan di hadapannya.
Tapi entah kenapa....
Ia merasa bahwa Ia harus menghindarinya.
Dengan cepat, Ia meninggalkan perisai besar yang menancap di tanah itu.
Bisa dibilang, sebuah keputusan yang sangat tepat.
'Swuuuoosshh!!!'
Tak hanya menembus tiga buah perisai itu, api kecil berwarna biru itu bahkan mulai menembus dinding tempat latihan ini hingga sedalam 20cm. Melelehkan logam keras yang ada di sekitarnya.
Semua orang termasuk Niko merasa ngeri melihat pemandangan ini.
Segera setelah itu, Niko mengalihkan pandangannya ke arah Aaron.
"Kau sudah paham? Itulah letak kesalahan penggunaan kekuatanmu." Ucap Aaron yang kini sedang sibuk memandangi seragamnya sambil berduka karena telah rusak parah.