Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 37 - Keturunan Kehancuran



'Tap! Street!'


Aaron dengan cepat memutar tubuhnya di tanah, menendang kaki kedua iblis itu dengan sekuat tenaga.


'Bruukk!'


Kedua iblis itu pun terjatuh ke tanah. Sedangkan Aaron kini telah berdiri dan mulai menggunakan sihirnya.


"Ignis." Ucap Aaron sambil mengangkat tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya terus menerus mengalirkan energi sihir untuk mengaktifkan seluruh Rune yang ada di dalam pedang itu.


Huruf Runic yang tertulis di pedang itu mulai menyala dengan warna biru yang indah secara perlahan. Tapi tak hanya itu, kekuatan dari pedangnya juga meningkat dengan drastis.


'Swuuuoosss! Swuusshh!'


Salah satu dari Iblis itu telah bangun dari jatuhnya dan mulai menyerang Aaron dengan tangan kosongnya.


Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan....


Semuanya berhasil dihindari dengan baik oleh Aaron yang kini telah sepenuhnya dalam pertarungan ini.


Meski begitu, Ia masih belum bisa memberikan serangan balasan. Itu karena Aaron masih perlu memenuhi pedang itu dengan energi sihirnya. Terlebih lagi....


'Blaaaaarrr!!!'


Aaron mengarahkan tangan kirinya ke depan dan melepaskan sihir suci, Ignis.


Api kuning kemerahan itu mulai melahap apapun yang ada di hadapannya. Sebuah kekuatan yang sangat mematikan.


Tapi Aaron tahu, bahwa tak ada lagi manusia di tempat ini.


'Swaaasshh!'


Iblis yang sedang dihadapi oleh Aaron itu nampak sama sekali tak menderita luka sama sekali setelah mengenyahkan seluruh api itu dengan ayunan tangannya.


Meskipun memiliki elemen api yang sama seperti iblis itu, tapi Ignis juga memiliki elemen suci yang seharusnya memberikan luka yang besar.


'Tak berguna ya? Tapi aku tak bisa kehilangan satu tanganku saat ini.' Pikir Aaron dalam hatinya. Ia berpikir untuk menggunakan api biru tapi segera diurungkan mengingat kekuatan lawannya saat ini. Oleh karena itu....


'Tap! Sraaaaatt!'


Aaron mengangkat pedang putih itu dengan kedua tangannya. Setelah memberikan hentakan kaki yang cukup kuat untuk meremukkan sebagian besar jalanan di sekitarnya, Aaron mengayunkan pedang itu sekuat tenaga.


"Haaat!"


'KLAAAAAANGGG!! BLAAAARRR!!!'


Sebuah kilatan cahaya berwarna kebiruan nampak mengikuti arah tebasan Aaron. Melemparkan Iblis itu sejauh ratusan meter ke belakang. Akan tetapi....


"Sialan! Dia sempat menahannya ya?!" Teriak Aaron kesal.


Meskipun berhasil memberikan serangan telak, tapi hanya sesaat saja Iblis itu berhasil menggunakan kedua lengannya untuk bertahan dari serangan Aaron.


Sedangkan Iblis yang satunya lagi....


"Dimana dia?! Dimana?!"


Aaron berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan Iblis yang satunya lagi dengan seluruh inderanya, termasuk pelacakan energi sihir.


Tapi semua itu berbuah pahit. Ia tak bisa merasakan apapun. Ia tak bisa menemukan apapun. Hingga akhirnya....


"Mencariku?"


'BLAAAAARR!!!'


Iblis itu telah berada tepat di belakang Aaron, memberikan pukulan yang sangat telak ke kepalanya.


Tak berhenti disitu....


'Blaaarr! Bruuukkk! Braaakk! Blaarr!'


Rentetan pukulan terus menerus dilancarkan kepada Aaron yang kini telah mulai terbenam di bawah aspal jalanan itu.


Sepuluh detik....


Duapuluh detik....


Tigapuluh detik....


Aaron masih terus menerus menerima rentetan pukulan itu tanpa mampu bergerak ataupun membalas. Sebuah pukulan yang sangat berat dan kuat, tapi juga sangat cepat.


Hingga akhirnya, Ia sama sekali tak mampu untuk menemukan cara kabur. Ia tak mampu menemukan cara untuk melepaskan diri dari serangan ini.


Bahkan, Iblis yang baru saja menerima tebasan Aaron, kini telah berjalan secara perlahan ke arah rekannya berada.


Kedua lengannya nampak terpotong cukup dalam dengan luka yang terlihat sulit beregenerasi. Darah merah kehitaman bercuruan dengan sangat deras dari kedua lengan Iblis itu.


Tapi selain itu, Ia terlihat baik-baik saja. Bahkan kini perasaannya jauh lebih buruk lagi karena telah menerima serangan telak dari Aaron.


"Sialan, manusia ini benar-benar kuat. Sangat berbeda dari yang pernah kudengar selama di dunia iblis." Ucap Iblis itu sambil secara perlahan berjalan ke arah Aaron.


Kedua lengannya yang terpotong nampak berasap dan meneteskan cairan. Sedikit demi sedikit, kedua lengannya itu mulai beregenerasi.


"Jangan diam saja! Bantu aku membunuhnya! Orang ini benar-benar tangguh!" Balas rekannya yang sampai saat ini tak berhenti memukul Aaron.


Karena kedua lengannya dalam keadaan terluka cukup parah, Ia menggunakan kakinya yang besar itu untuk mulai menginjak-injak tubuh Aaron.


'Tak ada pilihan lain.... Aku akan melakukannya saat ini atau tidak sama sekali. Ignis.' Ucap Aaron dalam hatinya.


Tak tanggung-tanggung, kobaran api biru yang bahkan langsung melelehkan aspal yang ada di sekitarnya itu segera menyembur ke segala arah.


Dua keturunan Aznor yang sebelumnya bahkan tak menerima luka dari api itu, kini langsung melompat menjauh secara refleks.


Apa yang mereka rasakan bukan hanya panas yang teramat luarbiasa. Tapi juga rasa dingin yang sangat ekstrim, yang secara bergantian menghancurkan tubuh mereka.


Hanya dengan tersentuh sedikit oleh api biru itu, sebagian tubuh mereka mulai meleleh secara perlahan.


Tapi hanya itu saja.


Bahkan Aaron sekalipun juga akan ikut lenyap dari dunia ini jika Ia menggunakannya lebih dari 2 detik. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Itu karena....


"Alysid."


'KLAAANGG!!!'


Suara rantai yang patah terdengar menggema hingga ke segala penjuru. Suara itu cukup keras untuk membuat siapapun yang mendengarnya tuli selama beberapa saat.


Seketika, aura kejahatan yang sangat kelam dan mengerikan mulai keluar dari tubuh Aaron.


Tidak....


Lebih tepatnya keluar dari pedang usang yang saat ini masih disarungkan di pinggang kiri Aaron.


Aaron segera merubah posisi pedangnya. Kini, Ia menggunakan pedang Runic itu di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya terlihat akan menarik pedang hitam itu.


"Kalian benar-benar memuakkan, akan ku perlihatkan bagaimana aku membantai iblis yang tak lagi terhitung jumlahnya dengan pedang ini." Ucap Aaron sambil secara perlahan menarik pedang hitam itu.


Tak ada yang bisa melihat maupun mendengarnya. Kecuali mereka yang murni berasal dari ras iblis.


Yaitu sebuah bayangan hitam yang memiliki berbagai wujud, beserta teriakan yang keras. Semua itu berasal dari bilah pedang hitam yang terlihat usang itu.


Tapi itu bukanlah wujud permintaan pertolongan kepada iblis yang lain.


Melainkan perwujudan untuk menarik Iblis lain dan membawa mereka ke neraka yang sama. Yaitu sebuah neraka dimana jiwa mereka dimakan dan dihancurkan selamanya oleh pedang itu.


"Pedang itu.... Yang benar saja?! Death Bringer?!" Teriak salah satu Iblis keturunan Aznor itu.


"Jadi itu dia?! Jadi dia adalah manusia selama ini?!"


Tak banyak bicara, Aaron segera melompat sekuat tenaga ke arah Iblis yang baru saja memukulinya secara terus menerus itu.


Lompatan itu memperpendek jaraknya hanya dalam sekejap. Dan saat itu juga....


'Jlebbb!!'


Aaron menusuk dada Iblis itu dengan kedua pedangnya.


"Kuuugghh!!"


Dengan segera, Aaron menendangnya sekuat tenaga. Membuat Iblis itu terlempar hingga puluhan meter ke belakang.


Meskipun, Ia membiarkan pedang hitamnya menancap dan hanya menarik pedang putihnya.


Kini, tatapannya fokus pada satu ekor Iblis dengan tangan terluka yang ada di hadapannya.


"Tenang saja, aku juga akan mengantarkanmu pada tempat yang sama sepertinya." Ucap Aaron sambil mengarahkan pedang Runic itu ke arah lawannya.


Pertarungan pun kembali berlanjut. Tapi kini, keseimbangan kekuatan antara kedua belah pihak sudah jelas terlihat.