Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 21 - Perubahan



"Terimakasih banyak, Tuan! Anda telah menyelamatkan kami semua!"


"Luarbiasa! Bagaimana bisa kau menutup Dungeon secepat itu?!"


"Ini adalah rekor terbesar sepanjang sejarah!"


Sorakan demi sorakan terus menerus terdengar di telinga Aaron. Tapi Ia hanya terus berjalan secara perlahan dengan menundukkan kepalanya untuk terus menatap tanah.


'Apa yang kulakukan.... Merasakan lunaknya dunia manusia ini sesaat membuatku lupa mengenai keberadaan mereka....' Pikir Aaron dalam hatinya.


Mereka yang dimaksud adalah Raja dan Ratu Iblis tingkat tinggi.


Di dunia Iblis yang begitu luas itu, Raja Iblis yang pernah hampir menghancurkan dunia manusia, Chronoa, hanyalah seorang Raja Iblis tingkat rendah.


Jika disamakan dengan jajaran Hunter manusia, maka Chronoa adalah Raja Iblis tingkat E atau D. Sedangkan Thiria yang baru saja ditemuinya berada di tingkat SS atau lebih tinggi lagi.


Penilaian itu sama sekali tidak dilebih-lebihkan. Bahkan Raja Iblis kedua yang dikalahkan oleh Aaron dengan susah payah di tahun terakhirnya di dunia Iblis, hanyalah Raja Iblis tingkat rendah yang setara dengan Chronoa.


'Bukankah aku sendiri bilang bahwa perjalananku masih jauh? Kenapa aku melupakannya?'


Aaron terus berjalan melewati semua orang tanpa sedikitpun memberikan balasan. Bahkan hanya sekedar salam sekalipun.


Di sisi lain, Putra yang baru saja tiba bergegas untuk pergi ke lokasi kejadian. Yaitu untuk memberi dukungan kepada sosok Hunter yang masuk ke dalam Dungeon itu sendirian.


Di situlah, Ia bertemu dengan sosok Aaron.


"Kau.... Jadi kau telah berhasil menyelesaikan Dungeon itu sendirian?" Tanya Putra dengan wajah keheranan. Bagaimana mungkin seorang Hunter bisa menyelesaikan Dungeon tingkat A sendirian.


Akan tetapi....


"Maaf, kau salah orang. Aku sama sekali tak melakukan apapun." Ucap Aaron sambil terus berjalan melewati tubuh besar Putra.


"Ah, begitu kah? Maafkan aku." Balas Putra sambil segera kembali berlari ke arah lokasi gerbang Dungeon itu. Sopir pribadinya nampak berdiri dengan tenang di samping mobilnya itu.


Dengan tatapan yang sedikit tajam ke arah Aaron, Ia pun berbicara.


"Kau terlihat begitu terpuruk. Apa yang terjadi?" Tanya sopir itu.


"Tidak ada. Permisi."


Aaron pun segera pergi meninggalkan tempat itu dengan bantuan sihir suci Anemos untuk meningkatkan kecepatan gerakannya.


Pikirannya kini bercampur aduk.


'Bagaimana jika bukan Thiria, tapi Raja Iblis Agung lain yang datang? Mereka bisa saja memusnahkan seluruh negara ini hanya dengan sedikit usaha.'


Aaron terus menerus menyibukkan pikirannya dengan skenario buatannya sendiri sambil terus berlari ke arah Selatan.


Hingga tanpa disadari, Aaron telah sampai di salah satu bagian paling Selatan pulau ini. Yaitu pantai Samas.


'Aaah.... Aku kembali ke tempat ini. Bahkan Sea Serpent itu sekalipun sulit kutangani. Apa yang kupikirkan? Hanya karena aku lebih kuat dari manusia, bukan berarti aku bisa melawan semua Iblis yang ada....'


Aaron duduk di bibir pantai itu sendirian. Memandangi gelapnya lautan di malam hari, dan betapa indahnya bintang-bintang yang ada di langit.


'Spraaassshh!'


Sesekali, ombak mengenai dirinya hingga membuat Aaron basah kuyup.


Tapi Ia sama sekali tak bergerak dari duduknya. Hanya terdiam dan terus terdiam. Memikirkan segala kesalahan yang telah dibuatnya.


'Bahkan pedang ini sekalipun takkan berguna di hadapan Thiria.' Pikir Aaron sambil memegang pedang hitam usang itu dengan tangan kirinya.


"Sialan.... Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Tanya Aaron pada dirinya sendiri di tengah gelapnya malam itu.


Suasana hening menyelimuti Aaron. Hanya suara ombak dan juga terpaan angin yang terdengar di telinganya.


Lambat laun, Ia mulai menikmati suasana yang tenang dan damai ini.


"Aah.... Benar juga. Aku bertarung hanya untuk kedamaian ini. Sebuah kedamaian yang seharusnya dirasakan oleh semua orang." Ucap Aaron setelah menyadari betapa indahnya kedamaian.


Tapi tanpa di duga....


'Syyyuuutt! Ssyuuuutt!!'


Tembakan enam buah anak panah telah melesat ke arah Aaron.


Tak hanya cepat, tapi panah itu juga tak menimbulkan sedikitpun suara. Hingga akhirnya....


'Jleeebbb! Jleebb!!'


Panah itu menancap dengan sangat kuat ke bibir pantai ini. Membunuh setidaknya beberapa ekor hewan yang ada di balik pasir itu.


Sedangkan Aaron sendiri telah melompat dan menghindari tembakan panah itu.


'Zraaaaatttt!!!'


Sebuah ayunan pedang besar yang sangat kuat itu mengarah tepat ke arah leher Aaron tanpa sedikitpun keraguan.


'Klaaang!'


Tapi Aaron berhasil menanganinya dengan memukul pedang itu ke arah atas.


'Cukup berat juga. Orang ini....' Pikir Aaron dalam hatinya sambil memperhatikan Pria besar dengan kepala botak yang baru saja mengayunkan pedang besarnya itu.


Seakan tak ingin membiarkan Aaron beristirahat, kini tepat di belakang tubuhnya tiba-tiba muncul sosok seorang wanita dengan pakaian serba hitam dengan senjata yang berupa dua buah belati.


'Sraaasshh!'


Serangan dadakan yang dilancarkan wanita Assassin itu pun mampu dihindari dengan mudah oleh Aaron hanya dengan memutar tubuhnya. Tak hanya menghindar, Aaron juga berhasil menendang wanita itu hingga terlempar setidaknya sejauh 20 meter.


'Cepat sekali. Terlebih lagi aku tak merasakan hawa keberadaannya.' Pikir Aaron sambil melirik ke arah wanita berambut hitam yang diikat ekor kuda itu.


Menyadari dirinya telah terkepung, Aaron segera menjauh untuk memahami situasi ini dengan lebih baik.


Tapi ketika Ia sedang bergerak ke sisi samping, lingkaran sihir berwarna merah menyala segera muncul di tempat dirinya berdiri.


'BLAAAAAAAAARRRR!!!'


Sebuah ledakan yang cukup besar, namun ditahan oleh sihir angin itu membuat daya hancurnya terpusat hanya pada area sebesar 5 meter saja. Dengan tujuan utama tentu saja untuk melumpuhkan Aaron.


Di balik sisa asap ledakan itu, terlihat sosok Aaron yang berdiri dengan wajah yang cukup serius.


Sebagian besar tubuhnya terlihat terluka. Pakaiannya bahkan terlihat robek di beberapa sisi. Meskipun, semua lukanya itu dengan segera sembuh.


'Kekuatan sihir yang cukup tinggi. Lalu....' Pikir Aaron sambil melirik ke arah wanita Assassin yang sebelumnya hampir memenggal kepalanya itu.


Terlihat seorang wanita lain dengan pakaian serba hitam sambil membawa sebuah tongkat sihir. Cahaya kehijauan yang indah terlihat mengelilingi tubuh Assassin itu dan menyembuhkan lukanya.


'Seorang pendeta ya?'


Aaron terus menerus memikirkan situasi yang dialaminya saat ini dengan serius.


Kini, Ia menyadari bahwa dirinya sebenarnya bukanlah siapa-siapa di hadapan kekuatan mutlak Iblis. Itulah mengapa Ia tak lagi meremehkan lawannya dan bertarung dengan kekuatan yang setengah-setengah.


Sebuah sifat buruk yang diperolehnya ketika merasakan betapa damai dan juga lunaknya dunia manusia di zaman modern ini.


Apa yang terjadi pada Aaron saat ini bukanlah sebuah perubahan sifat dan sikapnya.


Sederhananya, Aaron hanya kembali pada dirinya sendiri ketika masih berada di dunia iblis. Sebuah dunia dimana kematian adalah hal yang wajar.


Sebuah dunia dimana Ia harus terus mempertaruhkan nyawanya bahkan untuk makan sekalipun.


Dan kini, Ia membawa kembali sifat itu ke dunia manusia.


"Hoo.... Kau benar-benar kuat sekali ya?"


"Mampu menghindari tembakan panah, tebasan pedang, serangan dadakan, serta sihir ledakan. Untung saja Direktur mengirim kita berlima." Ucap sang pemanah yang segera muncul dari persembunyiannya. Ia memiliki penampilan seperti gadis muda yang masih berumur 20 tahun.


Begitu pula dengan sang penyihir yang terlihat seperti pemuda di umur 25 tahun. Memamerkan tongkat sihirnya yang memiliki batu sihir yang kuat.


Sementara itu....


"Lima. Dan semuanya adalah kontraktor iblis. Aku tak bisa bicara banyak karena aku baru saja membuat kontrak dengan iblis tapi...."


Tangan kanan Aaron terlihat memegang gagang pedang hitam usangnya itu sebelum melanjutkan perkataannya.


"Aku tetap akan membunuh kalian semua."


Tekanan udara yang cukup kuat dengan hawa yang dingin mulai terasa menyebar dari tubuh Aaron.


Kelima Hunter itu merupakan Hunter peringkat S yang dikirim oleh organisasi kejahatan internasional, dengan tujuan utama yaitu untuk memperoleh informasi dari tubuh Aaron.


Maka dari itu, rasa percaya diri mereka begitu tinggi meskipun tak mengetahui apa yang akan mereka hadapi.


"Alysid."


Hanya dengan satu kata itu....


'Klaaaaaaangg!!!'


Sebuah rantai tak terlihat yang melilit pedang usang Aaron mulai menampakkan dirinya. Rantai itu segera patah dan hancur berkeping-keping.


Aura kegelapan yang sangat pekat dan kuat mulai menyebar dari pedang usang itu.


Dengan tatapan yang tajam tanpa sedikitpun fokus yang hilang, Aaron segera bergerak untuk menebas lawannya.