Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 41 - Keraguan



Segera setelah Aaron memasuki ruangan itu dengan pakaian yang sangat mencolok, mata semua orang langsung tertuju padanya.


Di satu sisi, Satria dan juga Hendra berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya. Hal yang lumrah ketika melihat orang mengenakan pakaian yang sangat konyol.


Sedangkan di sisi lain, orang yang tak mengenali sosok Aaron itu hanya mampu memasang wajah kebingungan. Mereka tak tahu harus bereaksi seperti apa setelah melihat tingkat Aaron barusan.


"Buahahahahaha! Aaron! Ada apa dengan pakaianmu?! Hahaha!"


Hendra terlihat tertawa dengan sangat puas sambil terus menerus memukul meja. Membuat imagenya yang sebelumnya terkesan berwibawa dan gagal luntur seluruhnya.


"Ppfftttt! Aaron! Siapa yang mengajarimu mengenakan pakaian itu?" Ucap Satria sambil terus menutupi mulutnya. Ia tak ingin terlalu tertawa lepas dengan banyaknya orang yang melihat.


"Hah? Kenapa kalian tertawa. Aku baru saja berjuang hidup dan mati lalu ini balasan kalian? Aku tahu kalian iri karena kacamata baruku, tapi setidaknya berikanlah sedikit rasa iba padaku!"


Aaron yang berkata seperti itu justru membuat semua orang mulai tertawa.


Dalam pikiran mereka....


'Tak mungkin ini adalah Hunter kuat yang selalu dibicarakan menutup banyak Dungeon sendirian.'


Tapi di saat semua orang berpikir seperti itu, hanya ada satu orang yang berbeda.


'Swuuusshh!'


Sesuatu berwarna hitam nampak bergerak di dalam ruangan ini.


Gerakannya sangatlah cepat, sama seperti hembusan angin yang kencang. Meski begitu, tak ada sedikitpun suara yang terdengar.


Tiba-tiba saja, Ia telah berada tepat di belakang Aaron dengan dua buah pisau yang siap untuk menikamnya. Orang itu tak lain adalah Rika.


Akan tetapi....


'Kreeekk! Krreetaakk!'


Aaron dengan sangat cepat menahan tusukan dua pisau itu dengan kedua sarung pedang yang ada di tangan kanannya. Auranya seketika berubah dengan sangat drastis.


Yang paling mencolok adalah tatapan matanya yang kini sangat tajam seakan mampu menusuk hingga ke dalam pikiran lawannya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Aaron dengan nada yang cukup datar.


Segera setelah itu, Rika masih belum percaya akan apa yang baru saja dilihatnya. Dengan cepat, Ia memutar tubuhnya untuk mengayunkan pisau yang ada di kakinya.


'Swuuusshh!'


Dengan pakaian dan barang bawaan yang seperti itu, Aaron masih mampu menghindarinya dengan sangat mudah. Tapi kini, Ia memberikan balasan ringan berupa sebuah tendangan.


'Brruuukk!'


Hanya sebuah tendangan ringan. Cukup ringan sehingga tubuh Rika menabrak dinding ruangan itu dan hanya membuat retakan dinding saja.


Hanya saja....


'Wwuuusshhh!'


Tubuh Rika itu segera berubah menjadi asap hitam yang mulai menyebar dan menghilang secara perlahan.


"Mengesankan sekali. Bahkan ketika kau terlihat sedang bercanda, salah satu bayanganku tak mampu menyentuhmu ya?" Ucap Rika yang ternyata sedari tadi masih duduk dengan tenang di kursinya.


Semua orang yang melihat kejadian ini pun mulai panik. Terutama Hendra dan Alice.


Mereka berdua paham dengan betul bahwa Aaron sangat membenci manusia yang membunuh, atau berencana untuk membunuh manusia lain tanpa alasan yang jelas.


"A-Alice! Cepat bawa Aaron untuk ganti pakaian! Aku tak tahan melihatnya!" Teriak Hendra dengan panik.


"Hah?! Kenapa aku?! Maksudmu kau memintaku menemani Aaron berganti pakaian?!"


Di sela-sela mereka berdua yang terus berdebat, tatapan Aaron masih cukup tajam. Kedua matanya melihat ke arah Rika tanpa sedikitpun memberikan celah.


"Kau memiliki potensi yang luarbiasa. Sejenak kupikir kau melakukan kontrak dengan Iblis untuk kekuatan itu. Nampaknya aku salah ya." Ucap Aaron sambil memberikan senyuman yang terlihat begitu bangga.


Alasannya sangat sederhana.


'Ternyata di zaman ini sekalipun, masih terdapat banyak sekali bakat yang luarbiasa. Tidak.... Justru bakat yang ada di zaman ini telah melampaui apa yang ada di zamanku dulu. Kemampuan membelah diri ya? Aku sangat tertarik dengan hal itu.'


Itulah yang ada di dalam pikiran Aaron saat ini. Membuatnya menaruh harapan yang cukup besar kepada seorang wanita yang sebelumnya berusaha untuk menyerangnya.


Terlebih lagi, Ia meletakkan kepercayaan yang tinggi kepada Hendra dan juga Alice. Jika wanita bernama Rika itu adalah orang yang jahat, tak mungkin Komandan akan memanggilnya kemari. Itulah alasan lain Aaron untuk tidak mengambil tindakan ekstrim.


Mendengar perkataan dari Aaron, Rika sendiri merasa sangat terkejut. Ia bingung bagaimana Aaron bisa memiliki kepercayaan diri setinggi itu bahwa dirinya tak memiliki kontrak dengan Iblis.


"Kau.... Bagaimana kau bisa...."


Sebelum Rika sempat menyelesaikan perkataannya, Aaron segera memotongnya dengan cukup meriah.


"Haha! Jika kau ingin latih tanding denganku, kita bisa melakukannya nanti. Sekarang, aku ingin meletakkan semua barang-barangku terlebih dahulu. Komandan, maaf jika aku terlambat." Ucap Aaron yang segera meninggalkan ruangan itu.


Membuat semua orang yang ada di dalam ruangan ini menjadi semakin kebingungan.


"Fuwaaaaa! Aaron benar-benar jauh lebih menawan dan hebat daripada berita yang ada!" Teriak Julia secara tiba-tiba dengan wajah yang terlihat bersinar karena rasa kagumnya.


"Mengagumkan bukan? Pertemuan pertamaku dengan Aaron juga tak kalah meriah dengan barusan." Balas Satria yang memberikan senyuman yang sombong.


Sementara Hendra dan juga Alice, hanya mampu bersyukur karena tak ada pertumpahan darah yang terjadi.


......***......


Hasil rapat darurat telah diputuskan segera setelah Aaron bergabung dalam rapat itu. Tentu saja kali ini dengan seragamnya yang jauh lebih bagus untuk dipandang.


Hanya saja, Aaron sendiri memiliki tugas yang berbeda daripada Silver Guards yang lainnya.


"Aaron, aku akan memintamu berjaga di pusat Kota. Sembunyikan keberadaanmu dengan menggunakan pakaian yang lebih biasa. Lalu, selalu nyalakan suara notifikasi ponselmu.


Tugasmu adalah memberikan bantuan kepada ketiga kelompok utama ini jika terjadi hal-hal yang diluar dugaan. Seperti contohnya kemunculan iblis seperti yang baru saja terjadi." Jelas Hendra dengan cukup panjang lebar.


Tentu saja Aaron hanya mengiyakan karena satu-satunya keinginannya adalah memburu Iblis sebanyak mungkin.


"Tenang saja. Aku akan melakukannya sebaik mungkin." Jawab Aaron.


"Sebagai tambahan, kau akan selalu mengenakan Handsfree agar selalu memperoleh informasi terkini dari pusat." Tambah Alice.


"Aah, benda yang menempel di telinga itu?"


Alice hanya mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan dari Aaron.


Dan di saat-saat terakhir sebelum rapat ini berakhir....


"Hendra. Aku tak membutuhkan bayaran untuk misi kali ini." Ucap Rika secara tiba-tiba. Membuat semua orang yang sebelumnya kesal padanya karena lebih memilih uang, kini menjadi kebingungan.


"Hah? Apa maksudmu dengan itu? Aku akan mengusahakan untuk bayaran Guildmu."


"Tidak. Melihat keberadaannya di dalam misi ini saja, aku sangat yakin bahwa bahaya yang ada takkan pernah mengancam nyawa selama kami melaporkannya dengan cepat. Bukankah begitu, Aaron?" Jelas Rika dengan memberikan tatapan yang tajam.


Aaron yang mendengar penjelasan itu, memberikan jawaban yang jauh diluar dugaan semua orang.


"Mungkin saja. Tapi jangan terlalu berharap padaku. Karena hingga saat ini, kita masih belum mengetahui penyebab dari kejadian ini. Bahkan Iblis yang baru saja muncul sudah cukup kuat untuk membantai banyak Hunter tingkat A sendirian.


Jika yang muncul adalah Iblis yang lebih kuat dari itu, aku tak tahu apakah aku akan bisa tiba tepat waktu. Tapi tentu saja, aku akan berjuang sebaik mungkin." Jelas Aaron.


Penjelasan itulah, yang tak hanya membuat semua orang di tempat ini mulai merasa takut. Tapi juga membantu mereka untuk meningkatkan kewaspadaan akan situasi ini.


Tanpa satu orang pun sadari, ini adalah hari terakhir mereka bisa hidup dengan tenang di dunia yang kacau namun cukup damai ini.