
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap Aaron sambil melihat sekelilingnya. Pemandangan yang ada sama persis seperti pemandangan yang dilihatnya seribu tahun yang lalu.
Sebuah pemandangan ketika Ia bersama dengan 1000 Ksatria Suci bergerak untuk menaklukkan Raja Iblis yang mengancam dunia.
Bahkan, tubuh para Ksatria Suci yang seharusnya telah dimakamkan dengan rapi oleh Aaron, kini terlihat tergeletak di segala ara. Sebuah kondisi yang sama persis seperti waktu itu
'Apa yang terjadi di dunia manusia saat itu setelah aku mati? Alice, Hendra, Rika.... Apakah kalian selamat?'
Itulah satu-satunya hal yang dipikirkan oleh Aaron saat ini.
Sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Raja Iblis Chronoa nampak melihat ke arah Aaron yang sedang kebingungan. Senyuman yang tipis terlihat pada wajahnya, yang seakan berkata bahwa dirinya telah berhasil menggapai sesuatu.
Dengan suara yang sangat lirih, Aaron mampu mendengarnya.
"Berapa kali kau telah mati...." Ucap Raja Iblis Chronoa sambil menghembuskan nafas terakhirnya.
Hanya itulah, kejadian yang berbeda dari apa yang dialami oleh Aaron seribu tahun yang lalu.
'Berapa kali aku telah mati? Apa maksudnya dengan itu?' Pikir Aaron dalam hatinya. Ia masih belum mampu untuk memahami situasi ini.
'Tap! Tap! Tap!'
Aaron segera berlari untuk menuju atap dari kastil Raja Iblis ini. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk memastikan sebuah kebenaran.
Dan apa yang dilihatnya....
"Salah satu gunung tertinggi, Elavorn, masih berdiri dengan tegak? Bukankah gunung itu dihancurkan oleh sihir skala besar yang dibuat oleh para Iblis?! Apa yang sebenarnya terjadi?!"
Aaron masih tak mampu memahami apa yang sebenarnya telah terjadi padanya.
Beberapa saat yang lalu, Ia sedang berada di tengah tanah lapang. Siap untuk dieksekusi hingga mati. Terlebih lagi, Ia juga mendengar nama Molrog diucapkan oleh seorang Pria berjubah hitam itu.
Tak salah lagi, dirinya saat ini seharusnya telah mati. Tapi kenyataannya, Aaron juga masih hidup dan bernafas di kastil Raja Iblis itu.
Tubuhnya gemetar, nafas dan detak jantungnya semakin cepat. Bahkan pandangannya pun mulai menyempit.
Aaron dengan sekuat tenaga berusaha melihat kembali kedua lengannya yang masih utuh. Bahkan seragamnya sebagai seorang Ksatria Suci juga masih dikenakan.
Sebuah seragam yang telah lama ditinggalkannya di dunia iblis, kini Ia justru mengenakannya.
"Apakah.... Ini hanya mimpi? Atau.... Chronoa memperlihatkan masa depan kepadaku? Tidak... aku...."
Dengan berbagai pertanyaan yang timbul dalam dirinya, Aaron akhirnya menyadari satu hal.
Yaitu sebuah kenyataan mengenai perkataan dari Chronoa.
"Jangan katakan.... Alasan aku tak menua dan tak kunjung mati karena usia, itu adalah ulahnya?!" Teriak Aaron dengan keras. Ia pun berlari menuju ke arah tubuh Raja Iblis Chronoa berada.
Tanpa sedikitpun keraguan, Aaron segera menggeledah tubuh lawannya yang telah mati itu. Apa yang ditemukannya cukup banyak. Tapi yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah kunci perak yang indah.
Kunci itu memiliki bentuk yang sangat rumit dengan ukuran yang juga besar.
'Sekarang, dimana dan apa yang disembunyikan oleh kunci ini? Tapi sebelumnya....'
Aaron segera menyimpan kunci itu di balik seragam Ksatria Sucinya, lalu membalikkan badannya ke arah para saudaranya yang telah mati.
Dengan senyuman yang tipis, Aaron pun berbicara pada dirinya sendiri.
"Nampaknya, aku perlu menguburkan kalian sekali lagi ya?"
......***......
Beberapa hari telah berlalu. Sisa pertempuran di kastil Raja Iblis Chronoa pun telah dibersihkan dengan rapi. Bahkan kini tak terlihat sedikitpun bekas perang, tentu saja kecuali bangunan yang runtuh.
Saat ini, Aaron masih sangat sibuk menyelidiki mengenai penyebab dirinya yang hidup kembali. Atau lebih tepatnya kembali kepada dirinya yang dulu ketika baru saja membunuh Raja Iblis Chronoa.
Berbagai hal berhasil Ia temukan di dalam kastil Raja Iblis itu. Termasuk banyak buku-buku dengan bahasa Iblis, serta banyak sekali kunci dengan berbagai ukuran.
Jauh di bawah tanah kastil itu, terdapat sebuah tangga spiral yang sangat panjang. Mungkin kedalamannya mencapai lebih dari 100 meter.
Satu-satunya penerangan yang ada sepanjang tangga spiral ini, hanyalah sebuah batu sihir berwarna kuning yang memancarkan cahaya.
Di ujung dari tangga spiral ini terdapat sebuah pintu baja yang besar dan kokoh. Aaron pun mencoba menggunakan berbagai kunci yang ditemukannya sebelumnya.
Satu... dua... tiga....
Tak ada yang cocok. Tapi Aaron terus mencobanya hingga akhirnya....
'Klek!'
Pintu baja itu pun terbuka. Aaron mendorongnya dengan sekuat tenaga. Apa yang dirasakan olehnya hanya satu, yaitu berat.
Ia merasa bahwa dirinya telah kehilangan sebagian besar kekuatannya sebelumnya. Meski begitu, membandingkan dirinya saat ini dengan dirinya sendiri seribu tahun yang lalu adalah sebuah perkara yang sulit.
Itu karena Aaron telah melupakan sebagian besar kejadian tak penting selama seribu tahun ini.
Setelah mendorong pintu itu sekuat tenaga, Aaron melihatnya.
Sebuah perpustakaan dengan ukuran yang luarbiasa besar. Terlihat ada puluhan lantai di dalam perpustakaan ini. Barisan buku tersusun dengan sangat rapi di seluruh rak raksasa itu.
Aaron yang melihatnya hanya bisa menganga. Seumur hidupnya Ia hanya bertarung dan bertarung. Tiada hari tanpa memburu Iblis. Tak ada sedikitpun Ia membuang-buang waktunya untuk membaca buku.
Tentu saja itu semua hingga Aaron secara misterius terlempar ke dunia manusia dan terpaksa untuk mempelajari berbagai hal di dunia modern itu.
"Luarbiasa sekali...."
Itulah kalimat yang keluar dari mulut Aaron setelah melihat pemandangan ini.
Ia menghabiskan beberapa jam untuk mengelilingi perpustakaan raksasa itu. Satu demi satu, Ia memperhatikan seluruh buku yang ada. Semuanya telah disusun dengan rapi berdasarkan abjad dan juga jenis buku.
Sebagai contoh, lantai pertama berisi mengenai ilmu sihir. Kemudian lantai kedua berisi mengenai ilmu berpedang. Begitu seterusnya hingga berbagai jenis bidang keilmuan di lantai teratas.
Aaron sama sekali tak menyangka bahwa Raja Iblis pertama yang dilawannya, adalah sosok Iblis yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan seperti itu.
Tapi pada kenyataannya, Ia kalah dan harus mati dalam perang itu.
Setelah mengelilingi perpustakaan itu, Aaron kembali ke lantai pertama. Ia terkejut bukan main karena ada sebuah meja baca yang berdiri sendiri.
Biasanya meja dan kursi yang ada di dalam perpustakaan ini cukup besar untuk digunakan setidaknya oleh 10 orang secara bersamaan.
Tapi hanya meja itu....
'Bagaimana aku bisa melewatkannya?!' Pikir Aaron dalam hatinya. Segera setelah sampai di meja itu, Aaron pun melihat sebuah buku dengan segel logam berwarna hitam yang mengkilap.
Pada bagian samping dari buku itu terdapat sebuah lubang kunci yang cukup besar.
'Jangan katakan?!'
Aaron segera mengeluarkan kunci perak itu dari balik jubahnya. Mencoba memasukkannya ke dalam lubang kunci besar itu.
Suara yang indah pun terdengar menggema di sekitarnya.
'Cklik!'
Kunci dari buku itu pun terbuka lebar, melepaskan segel logam buku itu dengan segera.
Apa yang ada di dalamnya adalah sebuah buku dengan sampul berwarna putih yang indah dengan sedikit corak merah.
Dan judul dari buku itu adalah....
Magnus Quella de Chronia : ves dar Zalthur.
Atau dalam bahasa manusia, Buku Harian Penelitian : Sihir untuk menentang Waktu.