Survivor Of The Great War

Survivor Of The Great War
Chapter 13 - Kesadaran



'BLAAAAAAAAARRRR!!!'


Aaron memukul sekuat tenaga ke arah kepala dari Sea Serpent itu. Membuatnya terpental hingga beberapa meter. Meskipun....


"Sialan.... Tetap saja sisik kalian begitu keras ya?" Ucap Aaron sambil memperhatikan tangan kanannya yang kembali terluka parah.


Kini mengalami patah tulang hingga tak lagi mampu digerakkan. Menyadari hal itu....


"Apa boleh buat. Ignis." Ucap Aaron sambil meletakkan tangan kirinya tepat di kepala Sea Serpent itu.


Seketika, api berwarna biru terang mulai menyelimuti tangan Aaron dan segera membakar kepala Iblis itu.


Hal yang sama ketika pertarungannya dengan Frost Giant juga terjadi disini. Tangan kirinya mulai terbakar dan mengalami luka parah. Tapi perbedaannya....


Sea Serpent kali ini sedikit lebih tahan terhadap api. Sehingga membutuhkan lebih dari 30 detik untuk membuatnya hangus seutuhnya. Menyisakan tubuh yang sepanjang 30 meter itu tertinggal di dunia ini.


Meskipun....


"Kali ini aku benar-benar buruk ya? Sudah berapa lama semenjak aku tak lagi menggunakan Ignis sesering ini?" Ucap Aaron sambil melihat tangan kirinya yang telah benar-benar menghilang sepenuhnya.


Hanya menyisakan bagian atas lengannya saja yang saat ini masih terus meneteskan cairan berwarna merah yang cukup kental.


"Jika luka yang kuderita seburuk ini.... Mungkin akan membutuhkan beberapa jam untuk pulih. Sialan, dimana para Silver Guards itu menyita senjataku?"


Aaron yang selama ini hanya terus menerus hidup untuk memburu Iblis harus memikirkan cara untuk memburu mereka dengan mudah. Salah satunya adalah dengan menggunakan senjata Iblis yang Ia tempa sendiri selama di dunia Iblis.


Meskipun, saat ini senjata itu dan juga beberapa perlengkapan lainnya sedang dalam status 'disita' oleh pihak berwenang.


Sambil memperhatikan sisa tubuh Sea Serpent itu....


"Kurasa aku akan membuat sesuatu dari sisik itu. Yah, setidaknya akan jauh lebih baik daripada senjata manusia di zaman ini."


Pada saat Aaron masih sibuk memikirkan kedepannya....


'Jleeebb!'


Sebilah pedang telah berhasil menusuk tubuhnya. Tepat di bagian dadanya.


Darah mulai mengalir dari mulutnya. Meski begitu....


"Siapa? Dan kenapa kau melakukan ini?" Tanya Aaron dengan tenang sambil menolehkan kepalanya.


"Tuan kami menginginkanmu. Baik hidup ataupun mati." Ucap seorang Pria dengan jubah hitam itu.


Merasa sama sekali tak terganggu dengan pedang yang menusuk dadanya itu, Aaron segera bertanya.


"Apakah kau manusia?"


"Tentu saja. Memangnya kenapa?" Tanya Pria bertudung hitam itu.


"Kenapa manusia menyakiti manusia yang lain?"


Pertanyaan yang diajukan oleh Aaron sedikit membingungkan. Khususnya bagi manusia di zaman modern yang sudah mulai terpecah belah. Meski mereka memiliki musuh yang sama yaitu Iblis, tapi manusia masih enggan bersatu untuk menumpasnya.


Bukti nyata dari hal itu adalah tanah Eropa yang saat ini justru menjadi wilayah kekuasaan Iblis.


"Hahaha.... Kenapa? Tentu saja untuk keuntungan pribadi. Dengan memahami tubuhmu yang tangguh itu, kami mungkin akan mengetahui cara untuk menjadi jauh lebih kuat lagi." Jelas Pria bertudung itu seakan telah memenangkan pertarungan ini.


Tapi sayangnya, itu bukanlah jawaban yang diharapkan oleh Aaron.


"Jadi begitu." Ucap Aaron sambil menggerakkan tubuhnya ke arah samping. Membuat pedang itu membelah separuh tubuhnya menjadi dua.


Atau setidaknya, itulah yang seharusnya terjadi.


"A-apa yang baru saja...."


Pria bertudung hitam itu terlihat kebingungan setelah mengetahui tak ada sedikitpun bekas luka gores di tubuh Aaron. Kecuali bajunya yang terbelah karena pedangnya barusan.


Ia seakan tak bisa paham, bagaimana bisa regenerasi tubuhnya secepat itu. Jika memang demikian, kenapa tangan kirinya tak segera disembuhkan?


Pemikiran Pria itu tergambar jelas dengan matanya yang terus menerus memandangi tangan kiri Aaron yang telah hilang itu.


"Aah ini? Jangan samakan luka yang dibuat oleh Dewa dengan luka yang dibuat oleh manusia. Tangan ini baru saja terbakar oleh api suci, Ignis. Sedangkan pedangmu?" Tanya Aaron dengan tatapan yang dipenuhi oleh kebencian.


"Tidak.... Tidak mungkin.... Tidak mungkin!" Teriak Pria itu sambil mengayunkan pedangnya dengan kuat ke arah leher Aaron.


'Klaaaangg!!!'


Pedang itu terhenti. Tak bisa bergerak sedikitpun untuk menebas leher Pria yang sama sekali tak mengenakan zirah pelindung ini.


"Tapi tadi...."


"Barusan aku memang lengah. Aku tahu bahwa seseorang mendekat, tapi tak ku sangka bahwa di zaman ini manusia akan saling membunuh manusia yang lain...." Ucap Aaron sambil mencekik leher Pria bertudung itu dengan tangan kanannya.


Pria bertudung itu meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri. Ia bahkan berusaha berteriak sekuat tenaga untuk meminta pertolongan. Tapi sayangnya, tak ada satu orang pun yang akan datang menyelamatkannya.


Itu karena Alice baru saja mengevakuasi seluruh penduduk yang ada di sekitar bibir pantai ini.


'Krak! Krak! Kraak!'


Dari arah laut, terlihat ratusan Iblis mulai mendekat. Wujud mereka menyerupai ikan yang berdiri dengan dua kaki dan juga memiliki dua tangan. Bagian punggung mereka memiliki sirip yang cukup besar dan tajam.


Aaron yang menyadari hal itu pun segera mengalihkan pandangannya.


"Mereka adalah anak-anak dari Sea Serpent. Meskipun lemah, tapi mereka jauh lebih brutal daripada sebagian besar Iblis. Membuat kehadiran mereka sebagai salah satu bencana besar." Jelas Aaron sambil terus mencekik leher Pria bertudung itu.


"Lepaskan! Lepaskan aku! Tolong! Siapapun!"


"Sekarang katakan padaku. Apakah kau mau mati secara perlahan karena tak bisa bernafas, atau mati dimakan hidup-hidup oleh mereka."


Beberapa detik berlalu. Tapi bagi Pria bertudung itu, waktu berjalan begitu lambat hingga Ia merasa beberapa menit telah berlalu.


Tak ada jawaban. Hanya keheningan dengan suara Iblis yang semakin mendekat.


Merasa tak puas dengan apa yang diperolehnya, Aaron segera berjalan ke arah kerumunan Iblis yang berjalan dari lautan itu. Tangan kanannya memastikan bahwa Pria bertudung itu bisa menyaksikan kengerian Iblis yang ada di hadapannya.


"Itu adalah musuh umat manusia. Mengetahui bahwa mereka masih ada di dunia ini, dan kalian justru membunuh satu sama lain membuatku muak." Ucap Aaron dengan suara yang begitu dingin.


Pria bertudung itu sekali lagi berusaha untuk memohon ampunan. Tapi apa yang dilihat dari wajah Aaron....


Adalah tatapan yang sangat mengerikan. Sebuah tatapan yang benar-benar dipenuhi oleh kebencian pada dirinya.


'Aah.... Jadi begitu.... Orang ini.... Pasti bukan berasal dari dunia ini....' Pikir Pria bertudung itu sambil mempersiapkan dirinya atas kematian yang mengerikan.


Tapi tiba-tiba....


'Bruuuukkk!!'


Aaron melempar tubuh orang itu ke belakang.


'Dia.... Melepaskan ku?'


Pada saat Pria bertudung itu mulai merasakan adanya sedikit cahaya harapan untuk selamat....


"Hendra. Kau ahli dalam hal itu bukan? Aku akan memburu iblis-iblis sialan ini terlebih dahulu. Setelah itu, pastikan kau memperoleh informasi para manusia yang memburu manusia lain darinya." Ucap Aaron sambil berjalan secara perlahan ke arah laut.


"Eh?"


Pria bertudung itu baru sadar bahwa di belakangnya telah berdiri puluhan Hunter Silver Guards. Termasuk sang komandan, Hendra.


Kabur baginya kini hanyalah sebuah impian omong kosong belaka.


"Setelah itu, apa yang akan kau lakukan, Aaron?" Tanya Hendra dengan wajah yang serius.


"Tentu saja. Memburu mereka semua."


"Meskipun mereka adalah manusia?" Tanya Hendra kembali.


"Manusia yang memburu manusia lainnya hanyalah Iblis dengan wujud yang berbeda."


"Bahkan jika seluruh dunia menyangkal tindakanmu?" Tanya Hendra sekali lagi.


"Maka seluruh dunia itu juga yang akan menjadi lawanku. Yah, tentu saja. Aku sama sekali tak mengharapkan hal itu benar-benar terjadi." Balas Aaron sambil memberikan senyuman yang tipis


Dengan kalimat terakhir itu, Aaron segera berlari untuk membasmi sisa Iblis yang ada.


Sedikit demi sedikit, Aaron mulai memahami dunia baru yang kini Ia tinggali. Sebuah dunia yang sudah jauh berbeda daripada dunia manusia yang dikenalnya.


'Bukankah jika begitu, kau lah yang akan menjadi Iblis itu sendiri, Aaron?'