
Vina terbangun dari tidurnya karena mendengar kebisingan, percakapan Mak, Ibu, dan Suster yang membangunkan tidurnya.
"Mak~Ibu" Ucap Vina melihat kedua Ibunya.
"Eh, kamu sudah bangun sayang. Maaf kamu terganggu sama suara kita yaaa?" Ibu Cinta merasa tak enak hati.
"Ngga kok Bu, Vina cuma lapar." Jawab Vina memegang perutnya.
"Hai Sayang, aku bisa tebak kamu pasti lapar." Ucap Dave tiba-tiba saat masuk kamar Vina.
Mak dan Ibu mengernyitkan dahi dan alis mereka secara bersamaan, karena Dave yang tiba-tiba masuk dapat menebak keinginan Vina.
Dave segera menghampiri dan duduk disamping Vina, di ikuti oleh dua pembantu yang membawa nampan makanan berisi nasi dan sayur sop ayam juga kerupuk dan ayam goreng yang sedari tadi Dave masak sendiri. Dan nampan satu lagi berisi buah-buahan yang sudah dipotong dan ditata oleh Dave untuk mempercantik tampilan.
"Sayang, kamu dari mana aja?" Tanya Vina sedikit manja.
"Maaf Non, dari tadi Tuan Dave sibuk masak di dapur. Ini semua masakan Tuan Non." Ucap Bi Evi memberi tahu.
"Iya Non, ini juga buah Tuan Dave yang potong dan rapihkan spesial untuk Non Vina" Jelas Bi Fatma yang membawa nampan buah.
Vina tersenyum senang mendengar penjelasan para Bibi, dan tidak sabar untuk segera mencicipi masakan yang telah suaminya buat.
"Oya bi, makasih ya sudah bantu saya untuk membawa makanannya ke sini." Dave tersenyum sambil meletakkan nampan berisi Jus Stroberry dan Air mineral hangat, yang ia bawa.
"Ya sudah Mak dan Ibu keluar dulu ya sayang" Ucap Mak disertai anggukan Ibu Cinta.
Vina pun mengangguk tanda mengiyakan ucapan kedua Ibunya. Dave segera duduk di samping Vina, dengan telaten menyuapi Vina setelah sebelumnya di beri obat oleh Suster Sandra agar tidak terasa mual.
"Bagaimana sayang, masakan saya enak ngga?" Tanya Dave penasaran.
"Enak sih sayang, sebenarnya aku ngga percaya ini semua di masak sama kamu sepenuhnya. Mungkin setidaknya Para Bibi di dapur pasti membantu memotong atau membumbui masakannya." Vina berbicara dengan tatapan tak percaya.
"Bibi memang bantu aku potong-potong sayurnya, tapi sepenuhnya aku yang bumbuin dan masak." Jawab Dave menjelaskan.
"Aku kan tercipta, untuk pandai dalam segala hal. Hehe..." Dave terkekeh memuji dirinya sendiri.
"Kamu ini." Vina berbicara sambil mengusap pipi Dave.
Dave selasai menyuapi Vina, dan tak sampai menghabiskan makanannya karena sudah merasa mual.
Malam hari giliran suster Sandra yang berjaga dan memantau keadaan Vina, sedangkan Suster Renatha di kamar untuk beristirahat.
Sekali-kali Ibu Cinta dan Mak juga Pak Wisnu datang ke kamar Vina untuk mengontrol keadaan Vina.
Dave tertidur di samping Vina, awalnya Dave akan tidur di kamar terpisah dengan Vina. Tetapi, karena Vina tidak mau di tinggal. Jadi, Dave tidur bersama dengan Vina.
Tepat pukul 1 malam Suster Sandra, yang duduk di samping Vina sambil terlelap terbangun dari tidurnya karena terdengar suara alarm dari jam tangan yang sudah di setting untuk mengganti Labu Infusan Vina yang sudah menyusut hampir habis.
Selesai mengganti labu infusan. Suster Sandra tersenyum senang, melihat Dave yang sudah tertidur lelap. Lalu segera menghampiri Dave dan mendekatkan tubuhnya ke Dave, mungkin hanya berjarak 5cm antara tubuhnya dan Dave kini.
Suster Sandra segera membuka aplikasi Kamera pada ponselnya, lalu seolah-olah mencium pipi Dave.
Dan mengambil beberapa Foto Dave, untuk di abadikan di Ponselnya. Entah kenapa rasanya begitu takjub dan kagum akan ketampanan Dave di matanya, selain tampan baginya Dave merupakan pria yang mapan dan romantis. Ingin sekali rasanya dia memiliki pendamping hidup seperti Dave, yang saat ini dia tatap lekat.
Dave yang benar-benar merasa lelah, terlelap dalam tidurnya begitu nyenyak. Tanpa menyadari kini Suster Sandra nekat mencium Bibir Dave, Pelan...yah, sangat pelan hanya saling bersentuhan kulit bibir. Tapi itu saja, sudah membuatnya sangat begitu senang dan bahagia.
Tiba-tiba terdengar suara dehaman seorang pria, yang tanpa Suster Sandra sadar sudah memperhatikan Suster Sandra sedari tadi di depan pintu kamar sambil melipat kedua tangan ke dada menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kesal.
"Ehem...ehem...." Dengus Pak Wisnu kesal, karena melihat tingkah Suster Sandra kepada menantunya.
Sontak Suster Sandra kaget, dan menjatuhkan tubuhnya tiba-tiba ke tubuh Dave dengan bibir kembali bersentuhan dengan Dave. Karena tangannya kehilangan keseimbangan, untuk menopang tubuhnya di atas Dave.
"Eeuuh....Apa-apa'an ini?" Seru Dave segera mengangkat tubuh Suster Sandra dari tubuhnya menggunakan kedua tangannya dan segera duduk, dengan mata yang masih mengantuk.
Pak Wisnu segera masuk ke dalam kamar, tanpa basa-basi langsung menarik tangan Suster Sandra dan menyeret tubuhnya untuk segera keluar kamar.
"Ampun Tuan, maafkan saya. Saya khilaf, ampuni saya tuan" Lirih suster Sandra meneteskan air mata, dengan wajah ketakutan.
Bruuugh..."Auuww" Teriak Suster Sandra terisak, karena Pak Wisnu mendorong keras Suster Sandra ke dalam ruangan hingga membentur tembok, tempat Marsha dulu di sekap.
"Beraninya kamu berbuat macam-macam. Apalagi dengan suami anak perempuan kesayangan saya." Geram Pak Wisnu "Hah" Teriak kembali Pak Wisnu.
"A...ampun Pak, saya khilaf. Ampuni saya Pak, hiks...hiks." Pinta Suster Sandra terisak-isak.
Plaaak...Pak Wisnu menampar keras pipi Suster Sandra, menyisakan jejak telapak tangan berwarna merah di pipi Suster Sandra yang berwarna putih.
"Hiks...hiks...ampuni saya Pak." Suster Sandra berusaha beringsut meraih kaki Pak Wisnu, memohon ampun.
Tangan Pak Wisnu mengepal, dan masih kesal akan perbuatan tak senonoh Suster Sandra. Dan berpikir bagaimana perasaan Vina, jikalau Putrinya melihat perbuatan Suster Sandra yang tidak pantas kepada suaminya.
Tangan Pak Wisnu melayang, hendak meninju Suster Sandra. Tetapi Tangan Dave menahannya segera dan menggenggam pergelangan tangan Pak Wisnu untuk mencegah perbuatan kasar yang berlebih kepada seorang wanita, hanya karena masalah yang tak terlalu besar.
"Hentikan Ayah, mungkin Suster Sandra khilaf. Jika Vina tahu Ayah seperti ini, pasti Vina ngga akan suka." Bela Dave mengingatkan Pak Wisnu.
Pak Wisnu menatap tajam Suster Sandra, dan menurunkan tangannya dengan tangan masih terkepal.
"Andai saja, kamu tidak ketahuan. Mungkin kamu akan terus berbuat seperti itu." Pak Wisnu berbicara mulai melambat dengan jari telunjuk pada wajah Suster Sandra.
"Suster saya harap, besok pagi kamu angkat kaki dari rumah ini. Dan jangan pernah tunjukan wajah kamu di hadapan saya." Perintah Dave pada Suster Sandra.
Suster Sandra mengangguk, masih dengan air mata yang menetes di pipinya. Hatinya merasa terhina, dan malu atas kejadian sekarang.
"Sekarang kamu kembali, ke kamar kamu. Saya akan panggil Suster Renatha jika butuh sesuatu." Ucap Dave kembali, memerintah Suster Sandra bangkit dan kembali ke kamarnya.
Sedangkan Dave dan Pak Wisnu kembali ke kamar Vina, untuk mengecek keadaan Vina.
■□■□■□■□■□
Hai para pembaca dan seluruh teman-teman penulis yang juga sudah mampir di karyaku, Mohon dukung terus karyaku ya....😘😚.
Oke deh...Meski selalu mengetik malam hari hingga kurang tidur, karena siangnya sibuk mengurus anak2 yang masih kecil. Sampai Hypertensi melanda, tapi...mudah-mudahan kita semua selalu sehat.Aamiin
Dan harus tetap semangat tentunya, meskipun Viewersnya kadang naik dan lebih sering turun terus. Apa mungkin karyaku kurang menarik, dan berkesan ya...😳??????
Emmmh...Berpikir positif aja deh, karena menulis Novel itu, ibarat jualan yang naik turun pembacanya. Di tunggu juga kritik dan sarannya, demi perbaikan karyaku ke depan.
Jangan lupa tinggalkan
# Rate 5,
# Like,
#Comment,
#Jadikan bacaan Favoritmu dan juga
#Vote ya...
💖Mari kita saling mendukung.💖👍
Lanjuuut.....