
"Lalu apa yang Tante inginkan?" Tanya Vina tertunduk lesu.
"Tante minta maaf atas kesalahan Tante dulu, dan Tante mau menebusnya dengan mengajak kamu dan Mak tinggal di rumah Tante" Ucap Tante Cinta berharap serta menggenggam erat tangan Vina.
Vina mengangkat wajahnya yang tertunduk menghadap wajah Tante Cinta, entah harus bahagia atau marah. Karena yang selama ini ia harapkan tentang orangtua kandungnya sudah terungkap, rasa itu berkecamuk dipikirannya. Hatinya merasa kacau dan tak menentu.
"Maaf Tante, beri Vina waktu untuk menjawab permintaan Tante" Jawab Vina pelan.
"Ok Tante beri kamu waktu, tapi bolehkah kamu mulai belajar panggil saya Mamah atau Ibu terserah kamu mau panggil apa" Pinta Tante Cinta mencoba tersenyum.
"Saya harap Tante mengerti, Saya belum bisa menerima ini" Ucap Vina dan bernafas panjang,
"Saya mohon Tante untuk saat ini jangan terlalu berharap banyak, beri saya waktu untuk semuanya" Jawab Vina pelan dan segera beranjak berdiri dan keluar kamar.
Tante Cinta menatap Vina yang keluar kamar dengan muka tak bersemangat, merasa bersalah atas semua keadaan yang membuat pikiran Vina kacau tak menentu.
Vina pergi ke teras rumahnya melewati Om Reino dan Mak yang duduk di sofa ruang tamu, mereka menatap Vina heran dan memahami perasaan Vina yang tampak kecewa. Vina segera menghubungi Dave, ya untuk saat ini Dave yang berada dipikiran Vina.
Turth....turth....Suara sambungan telepon.
"Ya hallo Vin, tumben nih kamu nelepon. Udah kangen ya?" Ucap Dave meledek di telepon.
"Kamu ada dimana?apa kamu bisa kesini?" Tanya Vina dengan nada lesu tak bersemangat.
"Kamu kenapa Vin, suara kamu kok lemes banget? gue udah di jalan, nih lewat 3 rumah lagi nyampe rumah kamu" Jawab Dave dan berhenti di depan rumah Vina.
Vina segera menutup telepon, dan berlari menghampiri mobil Dave dan masuk kedalam mobil. Dave yang melihat Vina heran, tiba-tiba dipeluk oleh Vina.
"Dave, kumohon bawa aku pergi untuk melepas rasa ini" Bisik Vina pelan ke telinga Dave.
Dave segera melajukan kembali mobilnya dan berlalu menyusuri jalan, membiarkan Vina terdiam agar merasa tenang dan berhenti di tepi pantai untuk sekedar melepas rasa jenuh dihati dan pikirannya.
Dave membuka pintu mobil dan menarik Vina keluar mobil. Lalu mengajaknya duduk di kursi kosong yang tersedia dan duduk menghadap pantai di sore hari.
"Kamu ada masalah?" Tanya Dave melihat Vina yang duduk disampingnya.
"Aku ngga tau Dave, apa ini masalah ataukah berkah" Jawab Vina dengan pandangan tetap kedepan dan tatapan kosong.
Dave segera beranjak dan berdiri menghadap Vina, diangkatnya dagu Vina hingga wajah Vina menengadah ke muka Dave. Tampak Dave tersenyum begitu manis, membuat hati Vina terasa teduh dan nyaman.
"Sebenarnya kamu kenapa, tadi gue lihat ada mobil Tante Cinta dirumah kamu. Apa semua ada hubungannya dengan Tante Cinta?" Tanya Dave menebak.
Vina menutup matanya, tak terasa bulir air mata menetes mengalir dipipinya. Vina mengusap air matanya dengan jari telunjuknya, dan Dave segera membantu Vina untuk berdiri dan memeluknya penuh kasih. Dan mereka kembali duduk setelah Vina merasa cukup tenang.
"Dave, apakah kamu tau saya bukan anak kandung Mak dan Abah?" Tanya Vina membuka suara.
"Ngga, gue ngga tau. Memangnya kenapa?" Tanya Dave
'Apa mungkin perkataan Tante Cinta pada Pak Wisnu, bahwa Vina adalah anaknya itu benar?'
Gumam Dave dalam hati menebak.
"Tante Cinta, tadi cerita menjelaskan semua yang sempat aku dengar pada Pak Wisnu Dave?" Ucap Vina menjelaskan.
"Apa Tante Cinta bilang bahwa kamu benar-benar anaknya?" Tanya Dave makin penasaran.
Vina menoleh ke arah Dave, dan mereka saling berpandangan lalu Vina menjawab pertanyaan Dave hanya dengan anggukan kepalanya.
"Vin, gue mengerti kalau kamu kecewa. Tapi, gue harap kamu mencoba untuk memaafkan. Biar bagaimanapun jikalau memang Tante Cinta adalah Ibu kandung kamu, mungkin Tante Cinta memiliki alasan tersendiri yang membuatnya melakukan itu" Ucap Dave menjelaskan.
"Aku tau Dave, aku tak akan pernah lahir ke dunia ini jika tak ada Tante Cinta" Ucap Vina menghela nafas,
"Tapi, mungkin aku juga tidak akan pernah hidup, jika Mak dan almarhum Abah tidak menemukan dan merawat aku Dave" Ucap Vina kembali yang mulai emosi.
"Ok, aku mengerti maksud kamu. Sekarang coba kamu berteriak sekeras mungkin, untuk melepas amarah dan kecewa kamu. Mungkin itu bisa membantu, gue akan tutup telinga" Ucap Dave Memberi ide.
Vina menoleh ke arah Dave dan tersenyum.
'Mungkin ngga ada salahnya, aku coba ide Dave' Lirih Vina dalam hati.
Aaaaaaaaaaaaaaa.....hosh...hosh...hosh ( Vina bernafas terengah-engah).
"Bagaimana, apa kamu sudah merasa sedikit lega?" Tanya Dave merangkul pundak Vina.
Vina mengangguk dan segera memeluk Dave dengan erat, lalu melepasnya dan bertanya.
"Dave, sebenarnya aku bingung menjawab apa? Karena, Tante Cinta mengajak aku dan Mak untuk tinggal bersamanya" Ucap Vina meminta pendapat.
"Ambillah keputusan yang baik untuk kamu dan semua, atau ngga ada salahnya kamu dan Mak coba tawaran Tante Cinta" Jawab Dave.
"Lalu kalau saya dan Mak ngga nyaman bagaimana?" Tanya Vina kembali.
"Kamu tinggal kembali ke rumah kamu dan Mak" Jawab Dave santai,
" Dan kalau boleh jujur gue lihat Tante Cinta berubah hampir 180°, setelah bertemu dengan kamu" Dave menjelaskan.
"Maksud kamu, memangnya Tante Cinta bagaimana?" Tanya Vina penasaran.
"Dulu yang aku ingat, Tante Cinta selalu tampak murung, sering menangis dan tak bersemangat. Dan berapa kali Tante Cinta ke Rumah sakit, hanya karena melakukan hal konyol untuk mengakhiri hidupnya" Jawab Dave mengingat saat Tante Cinta datang ke rumahnya, dan beberapa kali menjenguk Tante Cinta karena aksi nekatnya.
'Pikirannya sangat dangkal' Lirih Vina dalam hati,
"Lalu bagaimana nasib suami dan anak-anaknya?" Tanya Vina penasaran.
"Entahlah, yang gue lihat anaknya Kenzo tampak tak menyukai sikap Ibunya yang kadang membuatnya merasa tak memiliki seorang Ibu" Jawab Dave kembali.
"Setidaknya mungkin kamu bisa mencoba berteman dengan Kenzo, dia sebenarnya anak yang baik. Hanya saja karena terlalu dimanja oleh kakek dan neneknya serta ayahnya, juga kurangnya perhatian ibunya. Membuatnya terkadang melakukan tindakan agar mendapat perhatian ibunya" Ucap Dave kembali.
Vina tersenyum tak percaya mendengar pernyataan Dave, dan merasa Tante Cinta menyia-nyiakan kedua anaknya hanya karena emosi dan egonya.
"Oke, terimakasih Dave. Aku senang bisa bersama kamu" Ucap Vina.
" Tak masalah, aku senang bisa berdua dengan kamu Vin" Jawab Dave menatap Vina dihadapannya.
Vina tersenyum mendengar jawaban Dave
"Dave apa kamu ingat saat aku dibuang dulu?" Tanya Vina menggoda.
"Apa? Memangnya saya tau?" Jawab Dave menunjuk mukanya sendiri heran.
"Iya, kata Tante Cinta kamu ikut. Tapi kamu masih full ASI pada ibu kamu.hehe" Jawab Vina terkekeh.
"Kamu itu ada-ada aja" Ucap Dave dan menggenggam kedua tangan Vina
"Vin, aku rasa aku suka sama kamu" Ucap Dave tiba-tiba.
"Apa lagi ini, hari ini aku dapat dua pengakuan yang tiba-tiba" Jawab Vina menggeleng-gelengkan kepala sembari memegang sebelah kepalanya yang tak pusing.
"Aku serius Vin, aku ngga suka jika kamu jalan sama orang lain" Ucap Dave kembali.
"Terimakasih Dave, aku juga suka sama kamu" Jawab Vina,
"Tapi..." Ucap Vina kembali.
"Tapi kenapa Vin?" Tanya Dave penasaran.
"Tapi...bohong, hahaha" Ucap Vina tertawa dan berlari.
Dave mengejar Vina karena gemas dikerjai oleh Vina, lalu menggelitik tubuh Vina. Hingga Vina merasa geli dan mendekap kedua telapak tangan minta ampun.
"Aku juga suka sama kamu Dave, tapi aku belum yakin itu cinta. Yang jelas, aku merasa nyaman jika dekat kamu" Ucap Vina mulai serius.
Dave mengusap kedua pipi Vina, lalu memeluknya. Dan mereka bergandengan tangan untuk kembali ke mobil dan menuju rumah kembali.
Hai readers...Jangan lupa Rate 5, Like, Comment, Jadikan bacaan Favoritmu dan juga Votenya ya...Mari kita saling mendukung para Author.
Lanjuuut.....