
Iya Ris, kamu harus tenang. Biar bisa berpikir jernih, insa'allah pasti ada jalan keluarnya. Toh, kejadian itu kan ngga disengaja" Ucap Vina kembali menasihati.
"Iya Vin, makasih" Jawab Riska menghapus air mata yang masih mengalir di pipi.
"Apa Lo sudah menengok korban kecelakaannya Ris?" Tanya Bella penasaran.
Riska tampak terdiam sejenak "Gue belum berani melihatnya secara langsung, gue baru bicara dengan suaminya saja Bell" Jawab Riska menjelaskan.
"Kenapa Ris, setidaknya kamu bisa melihat sejauh mana keadaan korban tanpa harus mendengar kabar dari yang lain" Sela Vina memberitahu Riska.
"A...pa... kalian mau menemani gue" Tanya Riska ragu dan menatap teman-temannya satu persatu-persatu. "Rencananya hari ini, gue mau nengok korban yang sudah gue tabrak" Riska melanjutkan kembali ucapannya.
Vina dan Bella saling menatap dan mengangguk, begitu pula Dave dan Rangga mengangguk dan mereka semua kompak mengatakan "Iya mau".
Riska tersenyum mendengar jawaban teman-temannya yang kompak, hatinya merasa senang karena mendapatkan teman yang peduli padanya. Tidak hanya hadir dalam keadaan suka, dalam duka pun mereka tetap memberi support yang baginya saat ini begitu dibutuhkan.
"Ok, kamu siapnya kapan Ris?" Tanya Vina pada Riska.
"Emmm...bagaimana kalau sekarang?" Tanya Riska yakin. "Tapi saya ganti baju dulu ya, kalian duluan ke bawah ngga apa-apa kan?" Pinta Riska pada teman-temannya.
"Baiklah, kita duluan ya. Ganti bajunya jangan kelamaan" Ucap Vina segera berdiri bersama yang lainnya, lalu keluar kamar dan turun ke bawah menuju sofa ruang tamu.
Disaat mereka menunggu Riska, seorang Pembantu menyodorkan beberapa minuman untuk disuguhi kepada mereka berempat.
Bella dan Vina segera meminum air Sirup rasa Leci yang di beri beberapa Es batu kotak, sehingga mengobati dahaga karena cuaca yang panas.
Sekilas Vina menatap Dave dan tersenyum tatkala mengingat dirinya sering menyebut Dave Es Balok, dan menerawang Dave menggunakan gelas kaca yang berisi beberapa Es batu yang tersisa dan Dave menatap sinis senyuman Vina padanya, membuat Vina tertunduk melihat tatapan Dave.
Riska turun dari lantai atas menggunakan gamis berwarna hitam bercorak kuning, dengan balutan kerudung kuning di kepalanya. Mata sembab tampak jelas di matanya, tetapi tak memudarkan pesona kecantikan Riska.
"Oya, kita berangkat dengan dua mobil atau satu mobil?" Tanya Dave pada semua.
"Emmm...Enaknya sih satu mobil, gimana Bell?" Jawab Vina dan meminta persetujuan Bella.
"Boleh, pake mobil lo aja ya Dave" Jawab Bella kepada Dave "Gue, titip mobil disini ya Ris..." Ucap Bella pada Riska.
"Iya Bell, dan Gue setuju lebih baik kita berangkat dalam satu mobil" Ucap Riska menyetujui.
Akhirnya mereka berangkat menuju Rumah Sakit tempat korban dirawat, menggunakan mobil Dave, Vina duduk di samping Dave sedangkan yang lainnya di belakang.
Setibanya di Rumah sakit Vina dan yang lainnya segera ke ruangan dimana korban di rawat, Vina merangkul pundak Riska agar Riska tenang dan kuat.
Saat Riska berhenti tepat di depan ruangan pasien, karena sudah di pindahkan ke ruang perawatan biasa yang sebelumnya di ICU karena kondisi pasien yang membaik. Vina dan Rangga kaget dan mengucek matanya berbarengan, karena di sana ada Arief yang merupakan teman SMAnya di kampung.
"Arief" Ucap Vina dan Rangga berbarengan
Arief yang sedang duduk, dengan posisi kepala menengadah ke langit-langit sontak menoleh ke arah Vina dan Rangga. Dan segera bangkit dari tempat duduknya, Vina dan Rangga segera menghampiri Arief dan memeluknya yang membuat Dave, Bella dan Riska terheran-heran.
"Kenapa kamu ada disini Rif, memangnya siapa yang sakit" Tanya Vina penasaran
Arie mengatupkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca, dan berkata "Susi mengalami kecelakaan Ga~Vin, dan pacar dia pelakunya" Ucap Arief dan menunjuk Riska dengan muka amarah.
Riska memberanikan diri menghampiri Arief, dan tertunduk dan menekuk lututnya hingga menyentuh lantai lalu bersujud dihadapan Arief dan memohon maaf.
"Saya mohon maaf atas kecelakaan yang terjadi, pacar saya ngga bersalah atas kecelakaan itu. Semua itu benar-benar salah aku, aku menyesal" Ucap Riska tersedu-sedu.
Vina segera mengangkat tubuh Riska yang bersujud dihadapan Arief, " Saya mohon Rif, maafkan teman saya. Kamu ingat perkataan Almarhum Abah waktu mengajar ngaji buatmu, supaya kita bisa saling memaafkan dan tidak ada yang bisa melawan takdir Rif" Ucap Vina mengingatkan
"Almarhum Abah???" Ucap Arief heran "Maksud kamu Abah sudah meninggal Vin?" Tanya Arief penasaran.
"Iya Rif, Abah sudah tenang di sana" Jawab Vina mencoba tersenyum.
"Memangnya Abah sakit apa Vin? Maaf aku ngga datang ke pemakaman Abah, karena saya tak tahu" Ucap Arief merasa iba.
"Abah ngga sakit Rif, Abah meninggal karena kecelakaan" Ucap Vina menghapus air mata yang mulai menetes. "Kamu masih beruntung Susi masih di beri kehidupan, meskipun saya dengar kamu harus kehilangan Janin yang dikandung Susi" Ucap Vina kembali.
"Baiklah, saya maafkan kamu dan pacar kamu. Saya juga akan cabut gugatan saya, ke kantor polisi untuk kasus kecelakaan ini" Ucap Arief kembali.
"Alhamdulillah" Ucap Vina, Bella, Riska, Dave dan Rangga berbarengan.
"Oya Rif, kita boleh masuk untuk jenguk Susi kan?" Tanya Rangga berharap.
Arief mengangguk tanda setuju, dan segera membuka pintu ruangan serta masuk lebih dulu. Susi menoleh ke arah Pintu yang terbuka, dan Susi tersenyum senang saat melihat Vina dan Rangga ada di antara mereka. Susi penasaran dengan sosok Dave yang tampak tak asing di matanya.
'Sepertinya aku pernah lihat dia deh, Oya sepertinya dia artis film yang pernah aku tonton di Bioskop bersama Arief' Gumam Susi dalam hati menatap Dave yang tampak lebih tampan daripada yang Susi lihat di layar Televisi.
"Hai Sus, bagaimana keadaan kamu?" Tanya Vina, menyentuh tangan Susi.
"Alhamdulillah aku baik kok, cuma badan aku masih terasa sakit dan pegal-pegal. sama kepala sering terasa pusing" Jawab Susi yang masih dalam kondisi kepala di perban dan tangan menggunakan Arm Sling ( Penyangga Lengan Patah).
" Oya kenalkan mereka sahabat-sahabat dan teman dekat aku" Ucap Vina mengenalkan, dan Dave tampak tersenyum senang mendengar Vina menyebutnya Teman dekat.
"Hai, saya Riska sahabat Vina" Ucap Riska mengenalkan diri
"Kalau Saya Bella, sahabat Bella juga" Ucap Bella tersenyum manis
"Saya Dave, Emmm...Pacar Vina" Ucap Dave mengedipkan matanya pada Vina.
Vina menganga karna kaget, dan menyikut Dave. "Apa'an sih kamu" Ucap Vina dengan muka memerah
Semua tertawa ringan mendengar ucapan Dave, tetapi Rangga sedikit membuang muka karena tak suka dengan pernyataan Dave. Dan Bella melihat Rangga dengan tatapan penasaran, tentang apa yang dipikirkan oleh Rangga.
'Apa mungkin Rangga menyukai Vina?' Lirih Bella dalam hatinya merasa cemburu.
Bella segera menghampiri Rangga dan menyenggolnya lalu tersenyum manis ke arahnya. Rangga tampak kikuk dengan sikap Bella yang seperti itu, membuatnya terlupa dengan perasaan cemburu yang ia rasa saat ini.
Hai readers...Jangan lupa Rate 5, Like, Comment, Jadikan bacaan Favoritmu dan juga Votenya ya...Mari kita saling mendukung para Author.
Lanjuuut.....