
"Oh iya, kalau begitu kita makan bareng-bareng Yuk?" Ajak Mak pada semua
"Ga Yuk kita makan" Ajak Mak karena melihat Rangga masih terduduk.
Akhirnya mereka semua pulang, tinggal menyisakan Vina dan Mak dirumah.
"Vin, cobalah kamu telepon Ibumu. Janganlah kamu menaruh dendam pada Ibu kandungmu, sebesar apapun kesalahannya. Dia tetaplah Ibu kandung kamu, jangan kau melawan takdir yang Tuhan beri untukmu nak" Ucap Mak mengusap rambut Vina, disaat Vina sedang asyik menonton Televisi.
Vina berbalik badan saling berhadapan dengan Mak, lalu memeluk Wanita yang selama ini dengan sabar telah mengasuhnya hingga kini tumbuh seperti sekarang.
"Tapi Mak, Vina takut. Vina takut tidak bisa beradaptasi dengan keluarga Vina yang baru, Vina hanya mau bersama Mak" Jawab Vina menatap Wajah Mak dengan tatapan sendu.
"Sayang, Mak sampai kapanpun akan jadi Mak kamu. Seperti halnya Almarhum Abah yang menjadi Abahmu sampai akhir hayatnya" Ucap Mak membelai lembut Pipi Vina.
Hsssst...
"Perih Mak, tangan Mak kena luka lebam Vina" Ucap Vina meringis.
"Aduh Maaf sayang, mungkin karena tangan Mak yang kasar jadi menimbulkan rasa perih dikulit wajah kamu" Lirih Mak khawatir
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai muka kamu lebam seperti ini?" Tanya Mak penasaran.
"Emmmh, biasa Mak. Vina suka gemes kalau ada orang yang menindas orang-orang lemah, hehe" Jawab Vina dan terkekeh.
"Kamu ini dari dulu seperti itu, ingat sayang kamu tuh perempuan. Bagaimana kalau niat baik kamu, berimbas buruk ke diri kamu sendiri?" Ucap Mak khawatir.
"Setidaknya Vina berada di jalan yang benar, itu kan yang Almarhum Abah ajarin untuk Vina" Jawab Vina,
"Vina kangen Abah Mak" Ucap Vina mengingat Abahnya.
"Mak juga sama kangeeeen sekali sama Abah, tapi cuma doa yang bisa ngobatin kangen Mak ke Abah" Ucap Mak dengan mata berkaca-kaca
"Oleh karena itu, rajinlah kamu shalat dan berdoa untuk Abah" Ucap Mak kembali.
Vina mengangguk, dan memeluk Mak penuh kasih.
"Oya Vin, sekarang kamu hubungi Ibu kamu. Bilang padanya sekarang kita akan berkunjung ke rumahnya" Ucap Mak meminta.
"Tapi Mak, Vina belum siap Mak" Jawab Vina merajuk.
"Vina untuk seorang Ibu tak bolehlah kau berucap Siap atau tidak siap, cobalah kamu berdamai dengan takdirmu nak" Ucap Mak menasihati.
Vina menarik nafas panjang dan mencoba memahami nasihat Mak. Lalu Vina segera beranjak dari duduknya, mengambil ponsel dikamarnya dan kembali duduk bersama Mak.
"Mak, Apa kita serius mau ke rumah Tante Cinta?" Tanya Vina kembali.
Mak tersenyum, mendengar pertanyaan Vina lalu mengangguk.
Turth...turth....Suara sambungan telepon berbunyi.
"Iya Hallo" Ucap Tante Cinta diseberang telepon.
"Emmm...Ya hallo Tante, apa kabarnya" Jawab Vina terbata-bata.
"Iya Ibu baik sayang, kamu sendiri dan Mak bagaimana?" Ucap Tante Cinta.
"Kita berdua baik-baik juga ko" Jawab Vina kembali.
"Oya Tante, hari ini Tante ada dirumah ngga?" Tanya Vina.
"Memangnya kenapa Vin, Ibu sekarang lagi di perjalanan ke rumah kamu" Jawab Tante Cinta sembari menyetir mobil.
"Oooh, ngga sih Tante. Vina cuma nanya aja, ok kalau gitu hati-hati dijalannya Tante" Ucap Vina mengakhiri telepon.
"Kenapa Vin, ko teleponnya di mati'in?" Tanya Mak penasaran.
"Iya Mak, soalnya Tante Cinta lagi di jalan, nyetir mobil juga"Jawab Vina memberi tahu.
Akhirnya Tante Cinta, tiba di depan rumah Vina.
Tok...tok...tok
"Permisi" Ucap Tante Cinta di balik pintu.
Mak segera beranjak berdiri, membuka pintu. Tampak Tante Cinta langsung mencium punggung tangan Mak dan Memeluknya.
"Bagaimana kabarnya Mak?" Tanya Tante Cinta.
"Alhamdulillah, baik neng" Jawab Mak melepas pelukan Tante Cinta.
Tante Cinta menoleh ke arah Vina, yang masih terduduk di karpet depan televisi. Lalu Langsung menghampiri Vina dengan senyum yang merekah, Vina pun segera berdiri dan mencium punggung tangan Tante Cinta.
"Muka kamu kenapa nak, kok lebam-lebam kaya gini?" Tanya Tante Cinta menyentuh kedua pipi Vina dengan kedua telapak tangannya.
"Ngga apa-apa kok Bu, Ini cuma lebam biasa" Jawab Vina melepas tangan Tante Cinta dari kedua pipinya.
Mata Tante Cinta berkaca-kaca kala mendengar Vina menyebutnya Ibu, bukan Tante seperti biasanya.
"Terimakasih Sayang" Ucap Tante Cinta dan memeluk Vina serta mengusap rambut Vina lembut penuh kasih sayang.
Mak memandang dengan senyuman, melihat Vina dan Ibunya berpelukan tanpa ada jarak.
"Oya Mak, saya bawa bahan-bahan untuk masak hari ini. Saya akan masak Ayam serundeng, Ikan Gurame saus asam manis, Ring Cumi crispi kesukaan Kenzo adik kamu Vin, dan Sayur Capcay" Ucap Ibu penuh semangat,
"Oya kamu Vin, tolong bantu bawa belanjaan Ibu di mobil ya sayang" Pinta Ibu Cinta pada Vina.
Vina mengangguk dan mencoba tersenyum, meskipum masih merasa canggung dan kaku atas keadaan ini. Vina mencoba tetap berusaha bersikap seperti biasa.
Vina dan Ibu Cinta juga Mak segera membawa semua barang belanjaan di mobil, dan menyimpannya ke dapur.
"Oya Mak, Apa Mak ngga keberatan kalau nanti Mas Reino dan Kenzo juga kedua orangtua saya akan datang kesini untuk makan malam bersama" Tanya Ibu Cinta dengan tatapan berharap pada Mak.
"Tentu saja Mak senang, cuma meja makan Mak kan kecil. Apa muat untuk semua?" Jawab Mak tersenyum dan berubah menjadi tatapan bingung.
"Ya sudah, kalau begitu saya pesan meja makan baru yang lebih besar. Dan minta dikirim sekarang juga, di toko langganan saya" Jawab Ibu Cinta segera Chat toko langganannya dan memberi alamat tujuan
"nanti selagi kita menunggu Meja makan baru datang, kita masak dulu" Ucap kembali Tante Cinta.
Disaat semua masakan beres dan siap tepat pukul tujuh malam, Meja dan kursi makanpun tiba, lalu segera menata beberapa Menu Masakan di meja makan.
Lalu dua mobil datang dan berhenti di depan rumah Vina, Ibu Cinta segera mengajak keluarganya masuk dengan senyum bahagia.
"Oya Vin, kenalkan mereka Kakek dan Nenek kamu. Nenek Aiko, dan Kakek Robby" Ucap Ibu Cinta memperkenalkan kedua orangtuanya
"Dan ini adik kamu Kenzo, anak Ibu yang paling ganteng" Ucap kembali Ibu Cinta pada anak laki-lakinya,
"Kalau Ayah Reino, kamu sudah kenal kan?" Tanya Ibu Cinta.
Vina mencium punggung tangan Kakek Robby dan Nenek Aiko, juga mencium punggung Tangan Ayah Reino. Dan berjabat tangan dengan Kenzo, lalu memeluknya.
Akhirnya mereka makan malam bersama dibumbui dengan cerita-cerita saat Vina masih kecil dan beberapa cerita yang membuat mereka hanyut dalam kehangatan. Sampai akhirnya mereka pamit untuk pulang.
"Ka, Kenzo harap Kakak segera memutuskan untuk ikut tinggal bersama kami dan tinggal bersama kami" Bisik Kenzo tiba-tiba ke telinga Vina.
Semua tampak penasaran dengan yang diucapkan Kenzo pada kakaknya, dan Vina mengangguk pada Kenzo.
"Baiklah, pasti saya kabari segera" Jawab Vina sedikit mengacak rambut adiknya.
Hai readers...Jangan lupa Rate 5, Like, Comment, Jadikan bacaan Favoritmu dan juga Votenya ya...Mari kita saling mendukung para Author.
Lanjuuut.....