
Vina memutuskan untuk pergi ke kampus, meskipun dirinya masih dalam keadaan berduka. Ya...Vina tetap ke kampus dan tidak diam dirumah, agar Vina tidak selalu ingat akan musibah yang menimpanya, khususnya Abah yang telah pergi untuk selamanya.
"Vin, lo yakin mau ke kampus bareng kita?" Tanya Riska ragu.
"Iya Ris, aku ngga mau terus berlarut-larut dalam kesedihan" Jawab Vina mencoba untuk tersenyum,
" Dan seperti katamu Bella, aku harus tetap tegar dan semangat menjalani hidup. Aku suka motivasi kamu, aku akan berusaha untuk melakukannya. Dukung aku ya...?" Ucap Vina pada Bella.
"Kamu yakin Vin, mau berangkat ke kampus?" Tanya Tante Cinta kembali dengan wajah khawatir.
"Iya Tante, nanti sepulang kampus Vina langsung pulang kok. Soalnya nanti kan ada acara pengajian hari ke dua" Jawab Vina.
"Baiklah kalau gitu, kunci rumah biar tante yang pegang ya?" Ucap Tante Cinta.
Vina dan teman-teman yang lain segera berangkat ke kampus, disana banyak teman-teman dan dosen yang mengajar, mengucapkan bela sungkawa karena tak bisa hadir diacara pemakaman.
truth...truth...getaran panggilan ponsel Vina didalam tas Vina berbunyi, lalu Vina segera pamit ke Dosen untuk keluar sebentar dan menerima telepon dari Dave.
"Hallo Vin, akhirnya kamu angkat juga telepon gue" Ucap Dave membuka percakapan.
" Ada apa Es balok, tumben kamu nelepon?" Jawab Vina yang sebenarnya kecewa pada Dave.
"Sorry Vin, gue ngga datang ke pemakaman Abah. Sumpah gue baru tahu semalam" Ucap Dave meminta maaf.
"Ngga apa-apa, saya minta doanya aja" Ucap Vina masih dengan nada kekecewaan.
"Vin, please kamu jangan marah, gue bener-bener minta maaf" Ucap Dave kembali.
Tiba-tiba pintu kamar Dave terbuka, dan terlihat dari bayangan kaca jendela bahwa Kak'Mikha yang datang masuk ke kamar Dave.
Davepun segera mengalihkan pembicaraan seolah-olah sedang berbicara dengan Dosen.
"Iya maaf bu, nanti tugas-tugasnya akan segera saya email bu, sekali lagi saya ucapkan maaf karena keterlambatan saya" Ucap Dave tiba-tiba.
Vina menatap layar teleponnya, meyakinkan dirinya masih berbicara dengan kontak Dave. lalu mendengarnya kembali, dan terdengar suara Kak Mikha berbicara pada Dave.
"Dave, kamu segera siap-siap sekarang. Kaka ngga mau Karir Kaka berantakan karena kamu! Kaka sudah mengatur semua jadwal kamu dari pagi sampai selesai" Ucap Kak Mikha dari balik telepon.
Vina menarik nafas panjang.
"Baiklah Dave, terimakasih atas telepon kamu. Aku mau masuk kelas lagi" Ucap Vina dengan nada penuh kecewa ditelepon lalu segera menutup sambungan telepon dan segera masuk kelas kembali untuk mengikuti pelajaran.
***
Tante Cinta dan Ibu Veronika sibuk belanja untuk kebutuhan acara pengajian sampai hari ke tujuh.
"Cin, kamu ngga cape ngurus semua ini? dari tadi kamu ngga berhenti lho" Tanya Bu Veronika pada Tante Cinta yang sedang sibuk membuat bingkisan untuk acara pengajian.
"Pastinya cape lah Ver, tapi aku harus melakukan setidaknya mungkin bisa menebus kesalahanku dulu" Ucap Tante Cinta.
"Tapi, kamu harus menjaga kondisi badan kamu juga. Jangan terlalu cape Cin" Ucap Veronika memberi nasihat,
"Oya, kamu sudah minta izin suami kamu belum untuk menginap disini beberapa hari?" Tanya Veronika pada Cinta.
Tante Cinta yang sedang sibuk, langsung berhenti bekerja dan menoleh ke arah Veronika dengan senyuman.
"Tentu saja saya sudah minta izin sama Mas Reino, dan anakku Kenzo ikut tinggal bersama neneknya" Jawab Tante Cinta menjelaskan.
"Lho kok Kenzo sama neneknya? kenapa ngga sama ayahnya cin?" Tanya Veronika bingung sembari tangannya sibuk memasukkan beberapa isian jinjingan untuk acara pengajian.
"Cin, aku boleh tanya sesuatu ngga?" Tanya Veronika sedikit ragu.
"Loh, dari tadi kamu kan banyak nanya. Kenapa mesti ragu" Tanya Cinta kembali.
"Emmm...begini, kenapa kamu begitu yakin dengan identitas Vina? apa kamu sudah punya bukti yang kuat?" Ucap Veronika penasaran.
"Tentu saja Ver, aku ngga akan gegabah sebelum memastikan dulu" Jawab Cinta tersenyum.
"Lalu Reino dan orangtuamu tau itu Cin?" Tanya Veronika.
Cinta mengangguk tanda mengiyakan dan segera masuk kamar mengambil amplop putih dari dalam tasnya, lalu kembali dengan memberinya ke Veronika.
"Apa ini?" Tanya Veronika membuka isi amplop yang diserahkan Cinta.
Veronika membaca kertas dari dalam amplop dengan seksama dan kini dia benar-benar yakin atas dugaannya dulu.
"Aku turut senang, akhirnya yang kita cari dulu datang dengan sendirinya. Kamu harus terus berusaha dekat dengannya, jangan sampai kamu kehilangan dia untuk yang kedua kalinya" Ucap Veronika.
***
Sepulang dari kampus Vina dan teman-teman sengaja mampir ke tempatnya usaha untuk mengecek kondisi dan situasinya, betapa terkejutnya Vina, Riska, Bella dan Doni mendapati tempat usahanya yang sudah dalam kondisi berantakan saat membuka pintu Toko.
"Ada apa ini?"
"Siapa yang melakukan ini semua, hiks...hiks" Ucap Vina sedih langsung terduduk lesu dilantai tak percaya apa yang terjadi.
"Sabar Vin, kita semua bakal dukung lo untuk bangkit kembali. Sekarang kamu fokus ke Mak aja dulu" Ucap Riska mengangkat Vina agar segera berdiri dan memeluk Vina.
" Apa salah saya Ris, siapa yang lakukan ini semua? siapa Ris....hiks...hiks" Tanya Vina tak percaya.
Doni tampak kesal dan mengepalkan tangannya lalu meninju tembok untuk melampiaskan kekesalannya.
" Sudahlah, ayo sekarang kita keluar dari sini. Takutnya nanti ada apa-apa kalau kita lama-lama disini" Ucap Bella.
"Betul juga Vin, lebih baik kita segera pergi. Jangan lupa kunci pintunya, terus kita ke Rumah Sakit jenguk Mak" Ucap Riska mengajak.
"Baiklah kita ke Rumah Sakit, aku kangen banget sama Mak" Jawab Vina segera bergegas keluar bersama teman- temannya dan segera pergi menengok Mak di Rumah Sakit.
DiRumah Sakit Vina mendapati Mak yang masih belum sadar dan dipindahkan ke Ruang ICU melihat kondisinya yang belum sadar dan belum ada perkembangan.
Vina masuk ke ruangan Mak dan tak tega melihat Mak dipasangi beberapa alat medis untuk membantu hidupnya. Dokter Fadhlanpun tiba untuk memeriksa kondisi Mak.
"Dok, sebenarnya kenapa dengan Ibu saya Dok? tempo hari dokter bilang Ibu saya ngga kenapa-napa, tapi kenapa seperti ini?" Tanya Vina pada dokter Fadhlan.
"Kami masih mencari tahu penyebab mengapa Ibu Ijah masih belum sadar, ada kemungkinan terdapat luka dalam di area kepala dan masalah dijantung Ibu anda" Ucap Dokter Fadhlan menjelaskan.
"Baiklah Dok, saya harap Ibu saya segera sadar",
"Dan saya minta jangan pernah ada yang menjenguk Ibu saya kecuali saya, dan tanpa izin saya dok!" Ucap Vina.
"Tentu saja itu akan saya sampaikan kepada petugas yang jaga keluar masuk tamu dan seluruh pihak Rumah sakit yang berkaitan dengan Ibu anda, saya pamit karena masih ada pasien lain. Terimakasih" Ucap Dokter Fadhlan lalu pamit.
Hai readers...Jangan lupa Rate 5, Like, Comment, Jadikan bacaan Favoritmu dan juga Votenya ya...Mari kita saling mendukung para Author.
Lanjuuut.....