
Shanum menatap rumahnya yang saat ini telah dalam proses pembangunan. Ini semua adalah usul dari Arga. Sebenarnya, beberapa bulan lalu keluarga Arga sudah mengusulkan agar keluarga Shanum pindah ke Jakarta, dan menempati salah satu rumah yang memang telah atas nama Shanum. Namun Shanum tidak mau menerima itu semua. Sebab, ia sudah merasakan kenyamanan di desa ini, dan ia akan menghabiskan hidupnya di desa ini
"Kak Shan..." terdengar suara Dimas yang mulai mendekat, Shanum menengok, dan mendapati Arga serta Dimas berjalan kearahnya
"Kenapa kalian kemari?" tanya Shanum
"Kami menyusul Kakak" jawab Dimas membuat Shanum mengangguk
"Kenapa tidak membangunkan aku, kalau tahu kau akan ke sini, aku pasti akan mengantarmu" ucap Arga
"Aku hanya ber-olahraga tadi, dan aku memang biasa melakukannya sendiri"
Arga mengangguk setelah mendengar jawaban Shanum. Ia ikut menatap arah tatapan Shanum yang tertuju pada bangunan rumah mereka. Ya, rumah mereka, sebab Arga dan Shanum sudah memutuskan untuk menikah saat pembangunan rumah ini selesai, dan mereka akan hidup bersama di rumah ini. Arga tidak mengajukan protes apapun untuk itu. Mengenai perusahaannya yang ada di Jakarta, ia bisa mengunjunginya sewaktu waktu, dan ia juga cukup mempercayai kemampuan serta kejujuran dari asistennya, Gibran
"Hann, besok undangan pernikahan salah satu temanku, kau akan datang bukan?" tanya Arga
"Besok? Kenapa aku melupakannya" Shanum menepuk dahinya pelan, ia benar benar melupakan hal ini, padahal Arga sudah memberitahunya sejak satu minggu yang lalu
"Tidak apa apa" ujar Arga
"Tapi kita belum ada persiapan, bahkan baju 'pun belum ada" sahut Shanum
"Sudah, Selfi sudah menyiapkan semuanya di Jakarta, jadi nanti kita hanya tinggal ke sana, dan berangkat"
"Baiklah kalau begitu"
*
Arga keluar dari ruang ganti sebuah boutique yang sudah di pilihkan Selfi sebelumnya. Ia membenarkan letak dasinya, sembari menunggu Shanum yang juga tengah bersiap. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Shanum keluar dengan pakaian pesta yang begitu menawan. Shanum memang tidak mengenakan dress, tapi baju yang ia kenakan sangat pas dan cocok untuk Shanum, yang paling penting, Shanum merasa nyaman mengenakan pakaian ini
"Kenapa kau cantik sekali" ujar Arga begitu melihat Shanum mendekatinya
"Gombal"
"Pernikahannya megah sekali" ucap Shanum tanpa sadar
"Kau ingin seperti ini juga, kalau iya, maka akan aku kabulkan" bisik Arga
"Tidak, bukankah aku sudah katakan bahwa aku hanya ingin pernikahan yang biasa saja"
"Baiklah, aku juga hanya menawarkan. Ya sudah, ayo kita masuk"
Shanum dan Arga mulai berbaur dengan banyaknya orang. Terlihat sekali jika pernikahan yang mereka datangi ini bukan pernikahan biasa. Sebab, banyak sekali tokoh tokoh negara, serta publik figur yang datang. Arga terlihat menatap di beberapa sudut, setelah mendapat apa yang ia cari, ia segera membawa Shanum untuk berjalan menuju para sahabatnya yang sudah berkumpul di tengah ruangan.
"Hai semuanya..." Arga menyapa para sahabatnya, tidak lupa, ia juga memeluk mereka semua dengan hangat. Menyadari tatapan mata semua orang yang mengarah pada Shanum, Arga lantas memegang pinggang Shanum dan memperkenalkannya pada semua sahabatnya
"Jadi, kau juga akan segera menikah?" tanya Ardan, salah satu sahabat Arga yang ber-profesi sebagai dokter
"Do'a 'kan saja yang terbaik"
Shanum hanya diam di tempatnya, sesekali ia juga ikut tersenyum saat mendengar Arga dan sahabatnya membicarakn sesuatu yang lucu. Lalu kemudian, Shanum sedikit terkejut saat tiga orang wanita yang merupakan sahabat Arga mendekatinya. Ia hanya mengenal salah satu dari tiga wanita ini, sebab dia adalah Diana, istri dari Lion. Sedangkan dua lainnya, Shanum sama sekali tidak mengenalnya
"Hai Shan, kau pasti masih ingat denganku 'kan?" ucap Diana "Oh iya, perkenalkan, ini Gita, istri dari Kak Ardan. Sedangkan yang ini, Sekar, istri dari Kak Daffa. Kami semua dalah istri dari sahabat Kak Arga, dan sebentar lagi, kau juga akan menjadi bagian dari persahabatan kita semua"
"Terima kasih" Shanum hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Diana, sebab ia memang tidak terlalu bisa berbasa basi atau banyak bicara
"Oh iya Shan, jujur aku penasaran, kenapa kau mau menikah dengan perjaka tua seperti Kak Arga, padahal kalau di lihat lihat, kau masih cukup muda, apalagi kau ini cantik sekali" ujar Gita, ya seperti biasa, Gita si paling kepo mengajukan pertanyaan yang terkadang membuat sahabatnya yang lain hanya mampu menggelengkan kepala
"Git, aku mendengar ucapanmu, jangan sampai aku meminta Ardan untuk menghamilimu lagi agar kau tidak semena mena" ucap Arga membuat Gita terdiam. Ya itulah Gita, saat ia hamil, maka ia akan mencoba semaksimal mungkin untuk tidak bertanya hal hal yang aneh, sebab ia tahu, perkataan dan perbuatan ibu hamil terkadang akan berimbas pada bayi dalam kandungannya
"Aku hanya bercanda Kak, lagipula bukankah wajar aku bertanya begitu, secara 'kan, Kakak memang lebih tua daripada kami semua"
"Tapi aku ini paling tampan diantara suami suami kalian, jadi tidak ada alasan untuk Shanum menolakku"