Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 38



Di sisi lain, Arga memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju perusahaan. Tiba di perusahaan, ia segera menuju ruangannya. Arga melepas jas-nya dan duduk di kursi kebesaran miliknya, setelah itu ia memanggil Gibran melalui sambungan interkom


"Saya Bos?"


"Hem, tolong bacakan jadwalku untuk satu minggu ke depan" perintah Arga


"Maaf Bos, tapi Tuan Besar sudah meminta saya untuk mengosongkan jadwal anda di mulai dari hari ini. Sebab, anda di haruskan untuk fokus pada acara pertunangan anda" ucap Gubran, memaparkan apa yang di perintahkan Tuan Rapi padanya


"Kapan Papa menyampaikan itu?" tanya Arga


"Tadi malam Bos"


"Ya sudah, kau boleh keluar"


Gibran keluar dari ruangan atasannya, meninggalkan Arga yang tampak menghela napas kasar. Ia bahkan berkali kali menyugar rambutnya, sebab hatinya benar benar kalut sekarang. Tidak lama, pintu ruangannya kembali di ketuk, membuatnya kembali menegakkan tubuhnya, dan merapikan penampilannya


"Masuk"


"Ini kopi untuk anda Pak" ucap Shanum sembari membawa nampan berisi kopi ke meja atasannya


"Terima kasih Hann"


"Sama sama Pak, kalau begitu saya permisi"


Arga hanya menatap Shanum dalam kebisuan. Setelah penolakan Shanum malam itu, ia benar benar tidak lagi berniat mengganggu hidup Shanum. Apalagi, hanya tinggal menghitung hari, maka ia akan bertunangan dengan Alina, dan itu membuatnya bertekad untuk melupakan Shanum


Tidak mau terlalu larut dalam pikirannya. Arga segera meraih kopi tersebut dan meminumnya. Rasanya masih sama, kopi buatan Shanum masih menjadi kopi favorit untuknya. Arga berkali kali meminum kopi tersebut, karena rasanya benar benar nikmat. Begitu habis, ia kembali keluar dari ruangannya


"Aku akan pulang, handle perusahaan selama aku tidak ada" ucap Arga pada Gibran


"Baik Bos"


"Bagaimana fitting-nya, lancar 'kan?" tanya Nyonya Brianna


"Lancar Ma"


"Syukurlah, ya sudah kalau begitu kau istirahat ya, Mama tahu kau lelah"


Arga mengangguk, dan berjalan menuju kamarnya, setelah sebelumnya menyapa sang Papa. Ia menutup pintu kamar, dan masuk kedalam kamar mandi. Cukup lama ia menghabiskan waktu dinkamar mandi, mendinginkan pikirannya yang benar benar terasa kacau. Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lebih santai.


Arga melangkah menuju nakas, dimana ia menaruh ponselnya. Biasanya setiap waktu Alina pasti akan mengirimkannya pesan, sekedar mengucapkan selamat makan. Tapi kini, waktu makan siang hampir habis. Namun tidak ada pesan apapun yang di kirim Alina


Lagi lagi Arga menghela napas kasar. Alina yang ia kenal ceria kini menjadi murung karena dirinya, dan itu membuatnya kepikiran. Akhirnya Arga berinisiatif untuk menelpon Alina. Tidak lama, sambungan teleponnya di terima


"Halo..." terdengar suara Alina menyapa


"Kau sedang apa?" tanya Arga basa basi


"Tidak, aku habis makan siang. Ada apa?" tanya Alina


"Malam ini, aku ingin mengajakmu makan malam. Bisa?"


Hening


Tidak ada sahutan dari Alina, membuat Arga sedikit takut. Ya, ia takut jika Alina benar benar marah padanya. Namun tidak lama, suara Alina kembali terdengar


"Makan malam?" tanya Alina dari ujung telepon


"Iya, aku akan menjemputmu nanti. Bagaimana?"


"Baiklah"