
Setelah mandi dan membersihkan diri. Shanum mengintip mobil Arga, memastikan jika Arga masih ada di depan. Namun begitu mengintip, ia sama sekali tidak melihat keberadaan mobil Arga disana, membuatnya sedikit heran. Ia lantas membuka pintu, dan memastikannya sekali lagi, dan mobil Arga benar benar tidak ada pada tempatnya
Shanum sedikit melirik kesana kemari. Namun itu tidak berlangsung lama, karena kini ia kembali masuk kedalam kontrakan, walaupun pertanyaan tentang kemana Arga masih tetap melintas dalam benaknya. Barusaja hendak masuk ke kamar, suara motor yang memasuki halaman kontrakannya membuat Shanum menghentikan langkah, ia kembali membuka pintu, dan melihat siapa yang datang
"Hai..."
"Kau? Apa ini, dan dimana mobilmu?" tanya Shanum saat melihat Arga datang dengan menggunakan motor
"Ada di rumah, aku sengaja meminta Mang Asep untuk mengantar motor ini. Karena aku ingin jalan jalan denganmu menggunakan motor agar terlihat romantis" ucap Arga "Oh iya, ini aku membelikan roti untukmu untuk mengganjal perut" Arga menyerahkan plastik berisi beberapa roti tersebut kepada Shanum
"Kau sudah makan?" tanya Shanum sembari mengambil plastik yang di berikan Arga
"Belum, aku sengaja membeli banyak roti agar bisa makan bersamamu"
"Huh, dasar modus. Kenapa memberikan padaku jika ternyata kau juga belum makan. Ya sudah, ayo duduk dan makan bersama" ajak Shanum
Arga mengikuti Shanum untuk duduk di teras. Shanum mulai mengeluarkan beberapa roti yang di berikan Arga, lalu memakannya satu. Melihat itu, Arga juga ikut memakan roti yang sama seperti milik Shanum
"Kau suka rasa coklat?" tanya Arga saat melihat Shanum memakan roti dengan selai coklat
"hem..."
Arga mengangguk sembari terus memakan roti miliknya. Sesekali ia juga tampak mencuri pandang pada Shanum yang mengenakan celana pendek dan kaos oblong over size, yang justru membuat Shanum tampak sangat imut. Menyadari Arga menatapnya, membuat Shanum menoleh kearah Arga hingga pandangan keduanya bertemu. Namun itu hanya sesaat karena Shanum segera mengalihlan tatapannya
"Kenapa memandangku begitu?"
"Tidak, aku rasa kau begitu menggemaskan dengan baju seperti ini" ucap Arga jujur
"Oh..."
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat mendengar kata Oh yang keluar dari mulut Shanum. Jika kata keramat itu sudah keluar, lalu ia harus menjawab apa. Ini adalah masalah besar dalam dunia obrolan
"Hann..."
"Ada apa lagi?"
"Tentu saja, ada apa?"
"Berapa lama?"
"Apanya?" tanya Shanum tak mengerti
"Kau berpacaran berapa lama?" tanya Arga lebih jelas
"Tidak pasti"
"Yang baru baru ini"
"Dua tahun" jawab Shanum
"Lalu, kalian putus gara gara apa?"
"Siapa yang mengatakan kami putus?" tanya Shanum
"Buktinya selama kau berada di Jakarta, kau tidak pernah menghubungi pacarmu" jawab Arga
"Kau terlalu sok tahu. Aku tidak perlu mengabarimu jika aku menghubunginya bukan"
"Ya ya ya aku tahu itu. Tapi aku bisa melihat seperti apa wanita kesepian atau wanita yang sudah memiliki kekasih"
"Kau tidak tahu apa apa tentang aku. Jadi aku mohon jangan sok tahu, oke"
"Kalau begitu beritahu aku tentang dirimu. Biarkan aku mengenalmu, dan kau boleh mengenalku. Bagaimana?"
Shanum menatap Arga dengan tatapan malas "Sudahlah, kita cukup seperti ini saja, saling mengenal hanya karena pekerjaan. Selebihnya, tolong jangan paksa aku untuk menerimamu" ujar Shanum sembari bangkit dari duduknya. Ia benar benar enggan untuk membicarakan hal serius bersama Arga, karena ia tahu jalan yang ia lalui tidak akan semulus itu untuk bisa mendapatkan sosok laki laki sempurna seperti Arga
"Tapi aku serius Hann, setidaknya katakan bahwa kau memberiku kesempatan, maka aku akan memperjuangkanmu dengan caraku. Tapi jika memang kau benar benar tidak bisa menerimaku, itu artinya dengan sangat terpaksa aku akan menerima perjodohan yang di lakukan orang tuaku"