Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 39



Sesuai dengan apa yang di katakan Arga sebelumnya. Kini ia dan Alina telah tiba di sebuah restoran dengan ruangan privat. Arga menarik kursi yang akan di duduki Alina, setelah itu ia juga ikut duduk berhadapan dengan Alina


"Kau mau pesan apa?" tanya Arga sembari menatap buku menu


"Terserah saja"


Arga melepas tatapannya dari buku menu sembari menghela napas kasar "Yakin terserah?" tanyanya memastikan


"Iya"


"Kalau begitu aku pesan foie gras, sushi, dan oyster. Untuk dessert-nya..." Arga tampak menimbang sembari melirik beberapa pilihan yang tersedia "Dessert-nya union deli. Semuanya masing masing satu"


"Ada yang lain Tuan?" tanya waitress


"Sudah cukup"


Setelah waitress tersebut pergi, Arga menatap Alina yang juga tengah menatapnya. Sedikit bingung untuk memulai pembicaraan setelah kesalahan yang tadi siang ia lakukan. Ia berdehem sejenak untuk menghilangkan kecanggungan


"Lin, mengenai tadi siang aku benar benar minta maaf" ujar Arga


"Tidak apa apa, aku paham. Sebagai ceo perusahaan besar, kau pasti memiliki banyak kesibukan. Lagipula kau ini seperti bicara dengan siapa saja, aku ini temanmu, kau bisa menceritakan apapun, atau berbagi apapun pada temanmu ini" ucap Alina, terlihat sekali wanita itu berusaha tetap tersenyum untuk menjaga perasaan Arga


"Kau benar, kita ini teman" ucap Arga sembari mengangguk


Arga dan Alina terlibat obrolan santai. Terkadang keduanya juga tampak tertawa di sela makan malam yang mereka lakukan. Mereka seolah ingin menunjukkan bahwa saat ini mereka sangat bahagia. Namun siapa yang tahu isi hati masing masing orang


Selesai dengan makan malam, Arga mengajak Alina untuk mampir ke taman kota yang berhadapan langsung dengan kolam. Mereka duduk berdampingan di kursi taman, menikmati semilir angin yang menerpa. Alina yang merasa kedinginan sedikit mengelus lengannya. Melihat itu, Arga yang memang memiliki kepedulian tinggi, segera melepas jaketnya, dan memakaikannya pada Alina


"Arga, apa ini? Kau juga pasti merasa dingin" ujar Alina


Mereka diam sembari memandang permukaan kolam yang terlihat sangat tenang. Sedetik kemudian, Arga memilih merebahkan kepalanya di pangkuan Alina, membuat Alina tanpa sungkan mengelus puncak kepala Arga. Lama keduanya dalam posisi itu tanpa ada obrolan. Hingga akhirnya, Arga memfokuskan matanya untuk melihat Alina


"Lin, apa kau menyetujui perjodohan ini?" tanya Arga


Alina diam, tetapi tangannya tidak berhenti dan terus mengusap pucuk kepala Arga "Kalau aku balik pertanyaannya. Kau akan menjawab apa?"


"Kenapa begitu?" tanya Arga, sebab ia belum menyiapkan jawaban apapun terkait pertanyaan yang ia ajukan, dan kini pertanyaannya justru berbalik padanya


"Kenapa, kau terlihat gugup. Atau jangan jangan..." Alina menggantung ucapannya dan menatap Arga dengan tatapan tak terbaca


Melihat tatapan Alina, Arga segera menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap Alina dalam, Alina yang melihat Arga menatapnya, tanpa sungkan untuk ikut menatap Arga. Hingga keduanya terlibat aksi saling tatap.


"Kenapa kau mengembalikan pertanyaanku?" tanya Arga


"Karena aku ingin tahu isi hatimu"


"Kau yang paling tahu bagaimana aku Lin"


"Maka dari itu aku mengembalikan pertanyaanmu, sekarang katakan apa kau menerima perjodohan ini?" tanya Alina


Arga mengalihkan tatapannya dari wajah Alina dengan helaan napas yang terdengar lirih "Jawabanku tidak sesuai dengan harapanmu"


Alina mengangguk, meski hanya mengucapkan sebuah kalimat ambigu. Namun Alina sudah memahami maksud dari ucapan Arga. Lewat kalimat singkat itu, Arga seakan ingin mengatakan dimana posisi Alina yang sebenarnya. Sejak dulu, Alina hanya sebatas teman masa kecil bagi Arga, dan akan selamanya seperti itu


"Lalu adakah wanita yang kau cintai, dan siapa dia?" tanya Alina, meski sebenarnya dadanya berdebar saat mengucapkan pertanyaan itu