
"Apa kabar Mba?" sapa Ibu Siti
"Ba... baik"
Pandangan Nyonya Brianna dan Ibu Siti saling terkunci. Mereka saling menatap dalam diam, kecanggungan memang cukup mereka rasakan setelah pertemuan terakhir mereka bertahun tahun yang lalu. Menyadari adanya kecanggungan yang terjadi antara orang tuanya dan Ibu Siti, Arga berdehem kecil, sehingga membuat mereka semua tersadar
"Kita duduk dulu saja bagaimana" usul Arga
"Ahh iya, Ibu sampai lupa. Ayo duduk dulu Mas, Mba"
*
Semua orang sudah berada di ruangan tengah. Ada Ibu Siti, Shanum dengan dua saudaranya. Terlihat pula Arga bersama kedua orang tuanya. Keheningan cukup lama karena aksi canggung, akhirnya Tuan Rapi yang memulai pembicaraan
"Siti, apa kabar?"
"Baik Mas, kami semua sehat" ucap Bu Siti sembari melihat anak anaknya
Pandangan Tuan Rapi beralih menatap Shanum, Kiyara, dan Dimas bergantian. Mata Tuan Rapi berkaca kaca saat melihat wajah Dimas, wajah Dimas benar benar sangat mewarisi wajah Ayahnya, bahkan tidak ada satu 'pun dari wajah Dimas yang memiliki perbedaan dengan Harun
"Siapa namamu Nak?" tanya Tuan Rapi
"Dimas Tuan" jawab Dimas
Tuan Rapi benar benar tidak bisa menahan tangisnya "Tidak, jangan panggil Tuan, panggil Papa"
"Papa? Berarti sama seperti Mas Arga?" tanya Dimas
"Iya, panggil Papa Nak" Tuan Rapi merentangkan tangannya dan langsung di sambut oleh Dimas
"Apa Papa merestui Kak Shan dan Mas Arga?" tanya Dimas
Pertanyaan Dimas sontak membuat tatapan Tuan Rapi beralih pada Shanum yang juga menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Pandangannya kembali beralih pada Dimas, disertai senyuman lembut "Iya Nak, Papa merestuinya"
Dimas menatap Arga dan Shanum bergantian dengan tersenyum senang "Mas, berarti setelah ini, Mas akan tetap tinggal disini bersama kami" seru Dimas
"Tidak Nak"
Semua mata tertuju pada Nyonya Brianna yang menyangkal ucapan Dimas. Dimas yang semula senang, kini kembali berubah murung saat mendengar ucapan Ibu dari Arga. Dalam pikirannya seakan bertanya tanya mengapa wanita ini mengatakan tidak
"Berarti Ibu belum merestui Mas Arga dan Kak Shan?" tanya Dimas dengan berani
"Tidak ada alasan untuk Mama tidak merestui mereka. Tapi kalian tidak akan tinggal di sini lagi, karena rumah kalian ada di Jakarta, bersama kami"
Shanum dan Ibu Siti saling tatap saat mendengar ucapan Nyonya Brianna. Berbeda dengan Dimas dan Kiyara yang justru tidak mengerti apa apa. Nyonya Brianna ikut merentangkan tangannya untuk memeluk Dimas, tapi Dimas seakan enggan untuk mendekat
"Kemari Nak, peluk Mama" pinta Nyonya Brianna. Namun Dimas masih sama, ia tampak enggan untuk mendekat
"Apa maksud Nyonya tentang rumah kami? Kami tidak memiliki rumah di Jakarta, rumah kami di sini, dan ini adalah rumah kami" tegas Dimas
"Benar Bu, rumah kami di sini, tidak ada yang lain" tutur Shanum
Nyonya Brianna menatap Ibu Siti yang juga menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Ia kemudian menggenggam kedua jemari Bu Siti di sertai dengan penyesalan yang sangat dalam "Siti... maafkan aku dan suamiku, dari awal tidak seharusnya kami mengambil hak kalian, dan Sekarang, aku dan Mas Rapi sudah memutuskan untuk mengembalikan segalanya yang menjadi hak Shanum" ucap Nyonya Brianna
"Tidak Mba, saya paham dengan posisi Mba dan Mas saat itu. Orang tua adalah segalanya bagi anaknya, dan Mas Harun memang bersalah, itu sebabnya kami memang pantas menerima semua ini" Ibu Siti berangsur mendekat pada Nyonya Brianna dan berpelukan. Ya, ia sama sekali tidak menaruh dendam apapun kepada keluarga Argantara, sebab ia tahu betul bahwa disini suaminya yang bersalah