
Arga kembali mengulurkan tangannya untuk menggandeng Shanum. Membuat Shanum langsung saja menerima. Sebab high heels yang ia kenakan benar benar membatasi ruang geraknya
"Kau lelah?" tanya Arga, saat melihat Shanum yang berjalan agak lemas
"Kakiku" Shanum mengangkat ekor gaunnya dan memperlihatkan tumitnya yang sedikit memerah
Melihat bagaimana keadaan kaki Shanum, membuat Arga cemas "Kenapa tidak bilang dari tadi? Kita pulang sekarang" Tanpa aba aba, Arga segera menggendong Shanum, tidak ia hiraukan Shanum yang terus menerus memberontak dalam pelukannya
Tiba di parkiran, ia segera membuka pintu mobil, dan mendudukkan Shanum di kursi. Arga berjalan cepat mengitari mobil, dan segera melajukan kendaraannya. Ia melirik Shanum yang sesekali meringis saat tumitnya kembali bersentuhan dengan high heels. Melihat itu, Arga segera menepikan kendaraannya di tempat yang sepi. Ia turun dari mobil, dan memindahkan Shanum ke kursi belakang
"Pak, anda jangan macam macam ya, jangan mentang mentang kaki saya sakit, anda pikir saya tidak bisa menghajar anda" peringat Shanum
Arga tidak mempedulikan ucapan Shanum. Yang ia lakukan adalah mengambil kotak P3k dari jok belakang, dan lekas membukanya. Ia meraih kaki Shanum, dan meletakkan di pahanya. Kemudian, ia mengambil cutton buds dan mulai membersihkan luka di kaki Shanum, setelah itu, ia memberikan cairan pada luka tersebut, yang membuat Shanum menjerit karena rasa perih yang di timbulkan
Melihat Shanum yang meringis, bahkan sampai menjerit, membuat Arga berinisiatif meniup pelan luka tersebut, sembari terus meratakan cairan obat. Setelah selesai, ia mengambil kasa, dan memasangkannya pada kaki Shanum
"Bagaimana, sudah lebih baik?" tanya Arga
"Sama sama"
Arga mengatur kursi yang di duduki Shanum untuk sedikit merebah, sehingga membuat Shanum nyaman. Namun hal itu justru di salah artikan oleh Shanum. Ia bahkan segera memasang kedua tangannya di depan dada, bersiap jika Arga ternyata berani macam macam padanya.
"Bapak jangan macam macam ya" ancam Shanum
"Tidak macam macam, hanya satu macam saja" ujar Arga. Ia kemudian memajukan tubuhnya hingga hampir saja menempel pada tubuh Shanum. Membuat Shanum benar benar dilanda ketakutan, sebab ia tidak yakin bisa mengalahkan Arga dalam posisi kakinya yang sedang sakit. Barusaja akan kembali melayangkan ancaman, Arga ternyata sudah lebih dulu menegakkan tubuhnya, dan memasangkan seatbelt pada tubuh Shanum
"Kau pikir apa? Dasar, otakmu itu keterlaluan sekali, padahal baru usia dua puluh delapan tahun. Tapi otak sudah traveling entah kemana" ejek Arga.
Ia tahu apa yang sempat Shanum pikirkan. Namun jujur saja, ia sama sekali tidak berniat melecehkan Shanum, ia hanya ingin memasangkan seatbelt pada tubuh Shanum, agar wanita itu bisa beristirahat dengan nyaman. Arga turun dari mobil, dan kembali duduk di depan kemudi. Setelah itu ia mulai melajukan kendaraannya
Shanum menatap Arga yang sibuk pada kemudinya. Jujur, Arga adalah tipe laki laki idaman semua wanita. Memiliki tubuh tinggi, wajah tampan, dan keturunan dari keluarga berada. Wanita manapun pasti akan tergila gila pada Arga. Bahkan Shanum pun merasakan hal yang kurang lebih sama saat dekat dengan Arga. Hanya saja, perbedaan status sosial antara mereka berdua menjadi suatu kendala besar untuk Shanum
Shanum menghela napas kasar. Ia tidak menyangka jika tiga tahun berlalu setelah ditinggal menikah oleh kekasihnya, membuat hatinya cukup sulit untuk menerima orang baru. Namun kehadiran Arga yang selalu membawa sebuh kekonyolan, berhasil membuat Shanum sedikit merasa nyaman dan kesal dalam waktu bersamaan. Andai saja tembok besar atas nama status sosial tidak menjadi halangan mereka, maka ia pasti akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini karena memiliki laki laki se-sempurna Arga.