Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 70



Kisah masih berlanjut. Ibu Siti kembali menarik napas, dan menghembuskannya perlahan. Kisah masa lalu keluarga mereka memang sangat membuat Ibu Siti hancur. Ya, dirinya juga hancur saat melihat suami yang ia cintai berubah menjadi seorang pembunuh hanya demi harta. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain mencoba berbesar hati, dan menerima hidup mereka yang benar benar sudah hancur


"Kau masih ingin mendengarkan Ibu?" tanya Ibu Siti pada Arga, membuat pandangan Arga teralihkan pada Ibu Siti, dan hanya menjawab pertanyqan Ibu Siti dengan anggukan


"Ibu, Om Harun, dan Shanum hidup dalam kekurangan di desa ini. Namun keterbatasan dan kekurangan bukan menyadarkan Om Harun, justru hal itu membuat Om Harun semakin menjadi, Om Harun menghancurkan dirinya dengan judi dan mabuk mabukan. Hingga akhirnya, setelah bertahun tahun berlalu, setelah kelahiran Dimas, Ibu mendapat kabar jika Om Harun di hakimi massa karena mencuri. Bahkan bukan hanya di hakimi, Om Harun di bunuh oleh teman teman yang biasa mengajaknya berjudi, karena hutang judi Om Harun sudah sangat banyak"


"Setelah kejadian itu, Ibu harus menjadi orang tua tunggal, dan mengurus tiga anak seorang diri" Ibu Siti melirik Shanum yang menutup mulutnya, mungkin Shanum shock dengan cerita yang ia sampaikan "Shanum menganggap Ayahnya laki laki terbaik, karena setelah kami di usir dari keluarga Argantara, akhirnya secara perlahan, Om Harun mulai mencoba menerima kehadiran Shanum. Bahkan, Om Harun selalu mem-prioritaskan hidup Shanum diatas segalanya. Om Harun tidak pernah menunjukkan dirinya yang sering mabuk mabukan di hadapan Shanum, membuat Shanum berpikir jika Ayahnya adalah ayah terbaik di dunia"


*


Arga menatap wajah Ibu Siti yang sudah bersimbah air mata setelah menceritakan masa lalu keluarga mereka. Ia genggam kedua tangan Ibu Siti, dapat Arga lihat, Ibu Siti menunjukkan senyum keterpaksaan di wajahnya. Membuat Arga tanpa sungakan memeluk Ibu Siti dengan erat


Sedangkan Shanum, setelah mendengar cerita dari sang Ibu tentang apa yang sudah Ayahnya lakukan, Shanum memilih pergi dari sana. Ia memilih mengurung diri di kamar, seperti apa yang selama ini ia lakukan. Hatinya seakan terus menolak saat seseorang menceritakan hal buruk tentang Ayahnya, meskipun itu adalah Ibunya sendiri. Ia menelungkupkan tubuhnya di ranjang, dan menutupi kepalanya dengan bantal. Seolah bantal itu bisa membuat suara bising di kepalanya menjadi hilang.


Ia marah, ia marah pada semuanya, terutama pada dirinya sendiri. Selama ini ia hidup dalam kebohongan sang Ayah. Ayahnya terlihat sangat baik, penyayang, dan begitu perhatian padanya. Namun yang tidak ia tahu, ayahnya ternyata pernah menolak kehadirannya


Dalam bayangannya seketika terlintas saat Ayahnya mengajarinya bela diri, dan memaksa Shanum untuk menguasai berbagai jenis bela diri yang ia ajarkan. Dulu, Shanum kecil berpikir jika itu adalah wujud cinta sang Ayah untuknya, karena ia ingin Shanum tumbuh menjadi wanita yang kuat. Namun kini ia sadar, bahwa itu bukanlah wujud cinta, itu adalah cara Ayahnya untuk membentuk dirinya memiliki jiwa kelelakian seperti yang diinginkan sang Ayah selama ini