
Arga meregangkan ototnya setelah seharian mengerjakan beberapa berkas. Ia lantas melirik jam di pergelangan tangannya, senyum tipis terbit di bibirnya saat melihat jam yang sudah menunjukkan waktu istirahat. Ia menekan tombol interkom di mejanya dan menghubungi Gibran, sang asisten
"Saya Bos"
"Panggi Hanna, suruh ke ruanganku"
"Sekarang Bos?
"Setelah lebaran tahun depan" sahut Arga kesal, lantas mematikan interkom tanpa permisi
Sedangkan Gibran yang berada di ruangannya, dengan segera bangkit menuju pantry untuk memanggil Shanum "Kenapa tidak terus terang saja bilang sekarang, jika ditanya, selalu saja jawabannya tidak sesuai" gerutu Gibran.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Shanum saat melihat Gibran mendekatinya
"Bos memanggilmu ke ruangannya sekarang"
"Baik Tuan"
Shanum segera menemui Arga di ruangannya. Setelah mengetuk pintu dan di persilahkan untuk masuk. Akhirnya kini ia bisa melihat wajah menyebalkan atasannya yang tengah menatapnya
"Apa Bapak memanggil saya?" tanya Shanum
"Iya, ambil peralatanmu dan ikut aku sekarang"
"Ikut Bapak? Tapi kemana Pak?" tanya Shanum bingung
"Ikuti saja, kau ini cerewet sekali" Arga bangkit dari kursinya, dan berjalan mendekati Shanum. Semakin dekat, semakin dekat, hingga kini tubuh keduanya hampir saja menempel
"Pak, apa yang Bapak laku... kan?" Shanum menghentikan ucapannya, saat Arga menjauh darinya dengan membawa tas kerja milik laki laki itu. Ya, Arga mendekatinya bukan untuk berbuat macam macam, tapi untuk mengambil tas kerja miliknya yang ia taruh di sofa, tepat di belakang Shanum
"Memang kau pikir aku akan apa? Aku akan menciummu? Atau aku akan bertindak yang lebih macam macam lagi padamu? pikiranmu itu kotor sekali. Aku tidak menyangka gadis tomboy sepertimu ternyata mesum juga" ujar Arga
Malu, mungkin itu yang Shanum rasakan. Namun untuk menyangkal tuduhan Arga rasanya sangat sulit, mengingat isi pikirannya tadi yang memang mengarah ke arah sana. Akhirnya ia hanya mampu diam, meski dalam hati terus menerus merutuk
"Ya sudah, kau siapkan saja tas atau apapun itu, karena aku akan mengajakmu keluar" ujar Arga
Shanum keluar dari ruangan Arga. Ia mengambil tas punggung miliknya di pantry, lalu kembali ke depan ruangan atasannya, menunggu sang atasan keluar. Tidak lama, Arga keluar dari ruangannya
"Kau sudah siap?"
"Siap Pak"
"Bagus"
Arga segera berjalan mendahului. Tiba di lobi kantor, ia segera meminta Shanum masuk, lalu di susul oleh dirinya. Sepanjang perjalanan, Shanum hanya diam, sebab saat ini dirinya masih dalam jam kerja, yang berarti dirinya harus mengikuti aturan atasannya ini. Beberapa menit berlalu, mobil yang di kemudikan Arga tiba di depan sebuah boutique, mereka segera turun dan masuk kedalam
"Selamat siang Tuan"
"Siang, tolong carikan dress terbaik untuknya"
"Baik Tuan, mari Nona"
Shanum menurut saja saat wanita yang merupakan pegawai boutique tersebut membawanya masuk. Mereka masuk kedalam sebuah ruangan yang terdapat banyak sekali dress indah. Shanum sama sekali tidak terpana dengan semua itu, karena seumur hidupnya, ia sama sekali tidak menyukai pakaian pakaian trendy yang berbau feminim
"Silahkan dipilih Nona" ujar pegawai tersebut
Entah apa yang membuat Shanum akhirnya mendekati beberapa pajangan dress itu. Ia memegang bahannya, dan melihat lihat model dari dress tersebut. Sesaat kemudian, ia mulai sadar. Untuk apa ia dibawa ke sebuah boutique dengan banyaknya pilihan dress yang begitu memesona?
"Sebentar ya Mbak, saya temui Bos saya sebentar" ujar Shanum yang langsung saja diangguki oleh wanita tersebut. Shanum segera kembali mendekati Arga yang tengah duduk santai dengan ponsel di tangannya "Pak..."
Arga mendongak saat suara Shanum menghiasi telinganya "Ada apa?" Arga lantas berdiri dan mendekati Shanum
"Saya tidak paham, mengapa saya diminta untuk memilih dress? Saya tidak suka dress, dan saya juga tidak membutuhkannya"
"Kau membutuhkannya"
"Tidak Pak, saya benar benar tidak membutuhkan itu" ujar Shanum berusaha sabar, sebab laki laki menyebalkan di depannya ini masih ber-status sebagai Bos-nya hingga jam lima nanti sore, tepat setelah jam kerja berakhir
"Aku akan mengajakmu makan malam bersama klien, maka dari itu kau akan membutuhkannya"