
Hari sudah cukup sore saat Kiyara akhirnya memutuskan pulang. Ia tidak ingin jika Ibu, Kakak atau Adiknya sampai tahu apa yang ia lakukan di luar rumah. Kini Kiyara berjalan lesu menyusuri jalanan untuk pulang ke rumah. Namun langkahnya terhenti saat melihat mobil yang sangat ia kenali terparkir di pinggir jalan yang ia lalui
"Apa hanya mirip?" monolog Kiya saat netranya menatap mobil milik Arga di sana. Tanpa terlalu memikirkan, ia kembali berjalan, dan benar saja dugaannya jika mobil itu adalah milik Arga, sebab saat ini Arga menurunkan kaca jendela mobilnya "Mas Arga..."
Arga membuka pintu mobilnya dan turun. Ia memindai penampilan Kiyara dari atas ke bawah. Tidak ada yang aneh, bahkan bau tubuh Kiyara sama sekali tidak bau sedikitpun, padahal gadis itu tadi berada di tempat penampungan sampah
"Bisa Mas bicara sebentar?" tanya Arga
"A... ada apa Mas?" seakan dapat menangkap arti tatapan Arga, Kiyara tampak sedikit gugup
"Kita cari tempat yang nyaman saja untuk bicara, bagaimana?"
Kiyara mengangguk tanpa dapat membantah. Dalam hatinya terus berdo'a semoga apa yang akan Arga katakan bukan mengenai pekerjaannya. Karena ia benar benar takut jika keluarganya mengetahui segalanya, dan mereka akan marah padanya. Setelah beberapa saat, akhirnya Kiyara kembali mengikuti langkah Arga untuk masuk ke dalam sebuah kaffe
"Mau pesan apa?" tanya Arga
"Orange juice saja Mas"
Arga mengangguk, dan memesankan permintaan Kiyara. Baru setelah itu, ia kembali menatap Kiyara yang duduk di hadapannya "Kau pasti melihat Mas dan Dimas tadi di tempat itu"
Deg
Kiyara menegakkan kepalanya, apa yang ia dengar ternyata benar benar sesuatu yang ia takutkan "Tolong jangan katakan apapun pada Ibu dan Kak Shanum Mas, aku takut mereka akan marah" pinta Kiya
"Tapi kenapa kau harus melakukan ini Kiya, bukankah kebutuhanmu selama sekolah sudah di tanggung oleh Kakakmu, lalu kenapa kau harus bekerja di tempat itu, dan membohongi Ibu dan Kakakmu"
"Aku tidak punya pilihan lain Mas. Buku paket yang aku butuhkan untuk penunjang belajar di sekolah, harganya cukup mahal, dan aku tidak ingin terus menerus membebani Ibu dan Kak Shan"
"Berapa banyak?" tanya Arga
"Apa pekerjaanmu itu berpenghasilan banyak?" tanya Arga lagi
"Tidak, tapi setidaknya aku bisa membayar buku-ku dengan mencicil, dan di tambah dengan uang jajan yang Ibu dan Kak Shan berikan"
Arga terkesiap mendengar jawaban Kiyara. Bagaimana bisa gadis kecil ini bisa mengorbankan segalanya untuk pendidikan, bahkan uang jajan 'pun ia pakai untuk mencicil buku demi tunjangan belajarnya "Apa uang yang kemarin kemarin Mas berikan juga kau pakai untuk mencicil buku?" tanya Arga, teringat akan dirinya yang setiap hari memberi uang jajan pada Kiyara dan Dimas
"Iya"
Arga kembali menghela napas mendengar jawaban Kiyara. Benar apa yang Dimas katakan, Kakaknya satu ini begitu amat mementingkan pendidikan. Arga jadi sedikit penasaran tentang seberapa besar pengetahuan Kiyara dari buku buku yang ia beli
"Apa cita citamu Kiya?" tanya Arga
"Ha... maaf Mas?" Kiyara sedikit keget mendengar pertanyaan Arga, membuatnya seakan menjadi orang bodoh
"Cita citamu, Mas ingin tahu"
"Sejujurnya Kiya ingin menjadi Dokter. Beberapa kali Kiya mencari beasiswa kedokteran di media online, tapi sampai sekarang belum juga dapat"
"Kiyara Anjani" panggil Arga, membuat pandangan Kiyara mendongak dan menatap lekat wajah Arga "Aku akan mendaftarkan namamu di universitas milik temanku, tapi dengan syarat, tinggalkan pekerjaanmu yang sekarang"
"Mas..."
Kiyara tidak bisa berkata kata. Matanya yang bulat dan indah yang mirip dengan mata milik Shanum seketika membola saat mendengar penuturan Arga. Ini adalah impian Kiyara sejak lama, dan kini Arga menawarkan semua itu padanya. Ia tak kuasa menahan tangisnya yang luruh begitu saja, akhirnya impiannya untuk sekolah kedokteran dan mengejar gelar sarjana akan segera terlaksana
"Mas, boleh aku memelukmu?" Entah kenapa, sejak kedatangan Arga ke rumahnya, Kiyara merasakan ada ikatan dengan Arga, apalagi melihat segala kebaikan Arga pada keluarganya, membuat Kiyara benar benar merasa bersyukur karena Arga akan menjadi suami dari Kakaknya, yang berarti juga, Arga akan menjadi Kakak Iparnya. Tanpa ia tahu jika mereka sebenarnya memang bersaudara meskipun tidak sedarah