Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 46



"Hann..." panggil Arga untuk ke-dua kalinya, kali ini ia mengubah posisi duduknya menghadap Shanum


Shanum mengalihkan pandangannya dari Arga, karena ia benar benar gugup saat Arga memandangnya dengan begitu lekat. Umurnya yang sudah cukup matang, terkadang mengundang berbagai pikiran aneh, yang datang dengan tiba tiba. Hal itulah yang membuatnya tidak berani memandang Arga terlalu lama


"Kau akan di jodohkan, akan sangat tidak pantas jika kau masih mengharapkan wanita lain dalam hidupmu" ucap Shanum


"Tatap aku Hann" dengan berani Arga menangkup kedua pipi Shanum agar menatap dirinya "Apakah kau ragu dengan semua yang aku ucapkan?" tanya Arga, sebab selama ini Shanum selalu berbelit belit dalam menjawab setiap pertanyaannya, dan itu membuatnya menyimpulkan hal ini


Shanum melepas tangan Arga dari pipinya. Ia juga memalingkan wajah agar tidak melihat wajah Arga yang entah mengapa malam ini tampak berbeda. Wajah Arga terlihat sangat lelah, dan kedua matanya seakan menunjukkan permohonan besar, Shanum tidak mengerti apa maksudnya


"Kehidupan kita berbeda, dan perbedaan itulah yang membuat aku tidak berani untuk menerimamu" ucap Shanum


"Bolehkah aku menganggap jawabanmu adalah menerima?" tanya Arga penuh harap


"Jangan..."


"Kenapa?" tanya Arga tak mengerti


"Ibu Brianna dan Tuan Rapi akan kecewa padamu jika kau menolak permintaan mereka. Sebagai anak laki laki, kau adalah kebanggan keluarga, dan mereka pasti sudah memilih wanita yang cocok untuk bersanding denganmu, jadi aku mohon jangan kecewakan mereka"


"Apakah Alina adalah wanita yang cocok untukku?" tanya Arga memancing


"Mungkin saja"


"Kau bisa menjawab begitu, karena kau tidak tahu siapa Alina" ucap Arga lagi


"Siapa dia?"


"Wanita galak yang kemarin berkelahi denganmu"


"Lalu bagaimana menurutmu, apakah dia pantas untukku?" tanya Arga lagi


"Hanya kau yang bisa menjawab pertanyaan itu" ucap Shanum


"Dan aku mengatakan bahwa kau adalah wanita yang pantas untukku"


"Aku tidak berani bersaing dengannya, karena secara status sosial, status sosial kalian berdua setara. Sedangkan kau dan aku, akan sangat timpang rasanya jika kita berdua bersama"


"Kau telah menang sebelum bersaing Hann, karena aku memilihmu" ucap Arga meyakinkan


"Terima kasih telah memilihku. Tapi itu bukan berarti aku bisa bersamamu, karena aku tetap tidak bisa untuk hal itu"


"Tapi Han..."


Tok... tok... tok...


Ketukan pintu membuat Arga menghentikan ucapannya. Keduanya sama sama saling melirik, seakan bertanya lewat sorot mata masing masing, tentang siapa yang mengetuk pintu. Arga mengangguk kearah Shanum, seakan meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja


Shanum menghela napas sejenak, sebelum akhirnya bangkit, dan menuju pintu. Ia buka pintu secara perlahan, takut jika apa yang ia takutkan terjadi, yaitu di grebeg oleh tetangga. Namun begitu pintu terbuka, ia tampak sedikit lega saat menyadari siapa yang ada di depan pintu


"Hei, dimana kau sembunyikan kekasihku?"


Pertanyaan bernada sarkas itu menjadi sambutan pertama saat Shanum membuka pintu. Shanum yang memang sejak tadi merasa geram dengan wanita di depannya ini, mulai bersilang tangan di depan dada. Seolah sedang menantang wanita sombong di hadapannya


"Kekasihmu? Mengapa bertanya tentang kekasihmu padaku, bukankah seharusnya kekasihmu pasti ada bersamamu?" tanya Shanum dengan senyum sinis di bibirnya "Ahh tapi aku kasihan juga denganmu, baiklah dengarkan aku. Kekasihmu ada bersamaku di dalam, dan kau tahu, dia memintaku untuk menerima dirinya untuk menjadi kekasihku. Tadi aku sempat menolaknya, tapi mengingat setampan dan sebaik apa dirinya, membuat aku jadi berubah pikiran, aku rasa aku akan menerimanya nanti"


"Kau..." Alina mengacungkan telunjuk di depan wajah Shanum dengan geram