
Arga menatap Alina yang juga menatapnya, menantikan sebuah jawaban yang seharusnya tidak perlu wanita itu tanyakan. Sebab, ini adalah jawaban berat yang harus Arga ucapkan. Karena ia tidak ingin membuat Alina kecewa
"Maafkan aku..."
"Siapa Ga, apa aku mengenalnya?" tanya Alina
"Jangan tanyakan hal ini Lin, aku tidak bisa mengucapkan nama wanita lain, sementara di hadapanku sudah ada dirimu"
"Kau sudah terlanjur mengatakannya Ga. Jadi katakan apa aku mengenal wanita itu?"
"Tidak, kau tidak mengenalnya. Dia bukan kalangan berada seperti kita, dia hanya seorang wanita biasa, yang justru dengan tampilannya yang biasa dan apa adanya berhasil membuatku terpesona" jelas Arga
"Jangan berbelit, katakan siapa namanya?" tanya Alina. Ia benar benar penasaran akan sosok wanita yang sudah berani merebut hati Arga darinya
"Shanum... namanya Shanum Hanania"
Dada Alina terasa mencelos, seakan ada bongkahan batu yang barusaja terjun bebas dari tebing hatinya. Ia merasakan kekosongan. Bohong jika ia mengatakan tidak sakit mendengar ucapan Arga yang ternyata mencintai wanita lain. Namun selama ini, ia sangat mengenal Arga dengan baik, tidak banyak wanita yang bisa membuat Arga nyaman
Sekarang, dengan gamblang Arga mengatakan bahwa dia menyukai Shanum, seorang wanita yang tidak ia tahu rupanya. Namun Alina yakin, wanita itu adalah wanita terbaik pilihan Arga. Karena yang Alina tahu, Arga hanya pernah mencintai satu kali, yaitu pada sosok Hanna Delisha, dan sekarang Arga kembali mengutarakan ketertarikannya pada sosok wanita lain, yang sayangnya bukan dirinya
"Aku rasa aku mencintainya. Kekaguman yang aku rasakan sejak pandangan pertama, dan kini berubah menjadi sebuah rasa yang sulit aku jelaskan. Aku mencintainya Lin"
Alina menghela napas berulang kali saat mendengar Arga lagi lagi mengucapkan cinta untuk wanita lain di hadapannya. Dulu, saat mereka masih menginjak bangku SMA, Arga dengan sengaja menghubunginya tengah malam hanya untuk mengatakan bahwa ia mencintai seseorang yang berada satu sekolah dengannya. Saat itu, Alina yang berada di luar negeri merasa hancur
Sebab, wanita yang Arga cintai sudah pasti bukan dirinya. Mengingat dirinya tidak bersekolah di tempat yang sama dengan Arga. Cinta yang telah ia pendam sejak ia masih kecil, harus pupus karena ternyata Arga mencintai wanita lain
Setelah mendengar Hanna meninggal, Alina sedih, ia tahu betapa terpukulnya Arga akan kepergian kekasihnya. Namun di sisi hatinya yang lain ia merasakan kelegaan, karena Hanna memberinya kesempatan untuk kembali dekat dengan kekasih kecilnya. Katakanlah ia jahat, tapi itulah kenyataannya.
Setelah penantian panjang selama bertahun tahun, akhirnya keluarga Arga menyampaikan niat untuk menjodohkan dirinya dengan Arga. Dengan senang hati Alina pasti akan menerimanya. Bahkan, saat Tuan Rapi memintanya untuk segera datang ke Indonesia, ia segera mempersiapkan keberangkatan, karena ia sudah sangat merindukan Arga-nya.
Namun kini, kenyataan pahit harus kembali ia terima. Kekalahan demi kekalahan membuatnya tersadar akan takdirnya. Ia tidak akan menyalahkan siapapun dalam hal ini, karena ia yakin bahwa inilah jalan yang di siapkan Tuhan untuk hidupnya. Alina kembali menghela napas, dan mengukir senyum di hadapan Arga
"Lalu apakah dia juga mencintaimu?"
Deg
Arga terdiam, pertanyaan Alina membuat Arga tidak mampu untuk menjawab. Jangankan mencintai, Shanum bahkan tidak pernah mengungkapkan kenyamanannya saat berada di dekat Arga. Karena selama ia mengenal Shanum, wanita itu selalu bersikap galak padanya. Lalu apakah mungkin wanita itu mencintainya?