Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 59



Daffa dan Dimas telah tiba di tempat penampungan barang barang yang mereka cari. Di sana, ternyata sudah banyak anak anak yang juga akan menjual barang barang hasil pencarian mereka. Dimas dan Arga ikut mengantre cukup lama, hingga akhirnya beberapa saat kemudian, kini giliran mereka yang maju.


Dimas menyerahkan karung miliknya, dan langsung di terima oleh pihak penimbang. Karung tersebut di naikkan diatas timbangan, dan terlihat jarum timbangan yang menunjukkan angka tiga. Arga dan Dimas dapat melihat itu dengan jelas, sebab timbangan sengaja diarahkan kepada para penjual agar tidak ada kecurangan. Setelah menimbang, akhirnya penjual memberikan uang kepada Dimas


"Dapat berapa tadi uangnya?" tanya Arga sembari keduanya berjalan pulang


"Dapat enam ribu Mas, lumayan" Dimas tampak tersenyum senang dengan hasil yang ia dapatkan hari ini


"Biasanya, jajanmu di sekolah berapa?"


"Biasanya dua ribu, tapi kadang aku juga di bawakan bekal dari rumah, jadi kadang aku tidak pakai uangnya, dan aku tabung"


Arga mengangguk mendengar jawaban Dimas. Entah mengapa anak yang baru duduk di bangku kelas lima SD ini terlihat begitu dewasa. Ia mencari uang jajan sendiri, dengan alasan tidak ingin membuat Ibu dan Kakak Kakaknya terganggu, dan menurut Arga itu adalah hal yang sangat luar biasa. Sepanjang jalan, keduanya terlihat berbicara, dan sesekali tertawa, terlihat begitu akrab. Tidak lama, akhirnya mereka tiba di depan rumah


"Assalamu'alaikum" Dimas mendorong pintu rumah sembari mengucap salam


"Wa'alaikum Salam. Dimas, kau habis membawa Mas Arga kemana?" tanya Ibu Siti


"Hanya jalan jalan Bu, Mas Arga katanya bosan kalau di rumah terus"


Arga sedikit kaget mendengar jawaban Dimas. Namun melihat Dimas yang menoleh kearahnya dengan mengedipkan mata, membuat Arga hanya tersenyum kecil kepada Ibu Siti dan mengangguk membenarkan. Dapat Arga lihat wajah Ibu Siti yang cukup lega setelah mendapat anggukan darinya


"Ya sudah, kalian makan dulu, makanannya sudah siap di meja makan"


"Bisa, kenapa?" tanya Arga


"Tidak, aku dengar dengar, katanya orang kota itu tidak biasa makan daun singkong"


"Tidak semua, tapi Mas bisa"


Dimas mengangguk mendengar ucapan Arga. Ia lantas meraih centong nasi, dan menuangkan nasi di piring Arga dan piringnya sendiri. Setelah itu ia menggeser nasi tersebut sedikit jauh


"Makanmu memang sedikit?" tanya Arga saat menyadari nasi di piring Dimas hanya separuh dari nasi yang ada di piringnya


"Hehe iya Mas, kalau makan terlalu banyak takut perutku jadi begah. Mas makanlah yang banyak, tidak apa apa" ujar Dimas


Dimas mulai menyantap makanannya dengan lahap. Sedangkan Arga ikut menyantap makanannya, dengan tatapan yang tidak teralihkan dari Dimas. Tidak lama, Dimas menaruh piring bekas makannya di sudut meja, menandakan anak laki laki tersebut sudah selesai makan


"Kau kenyang?" tanya Arga


"Aku kenyang, kenapa? Mas ingin nambah? Maaf yah Mas, sepertinya tidak bisa, karena nasinya hanya sisa sedikit. Ibu, Kak Shan, dan Kak Kiya pasti belum makan, jadi kita harus sisakan nasinya"


Arga menatap Dimas dengan tatapan tak terbaca. Otaknya seolah bisa menebak alasan Dimas makan hanya sedikit, itu pasti karena ia takut jika Ibu dan Kakaknya tidak mendapatkan makanan, dan hal itu membuat sisi hati Arga tercubit. Ia tidak pernah membayangkan jika di dunia ini ada anak yang bisa menjadi dewasa dengan usia yang masih sangat kecil, dan ia melihat sosok itu berada dalam diri Dimas