Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 48



Shanum menatap pergelangan tangannya yang di cekal, kemudian tatapannya beralih pada wajah seseorang yang tidak lain adalah Alina. Ya, Alina 'lah yang memegang tangannya, dan membuat langkahnya terhenti. Ia hanya diam, tanpa berusaha melepas tangannya


"Maaf untuk semua perbuatanku padamu, entah karena kata kataku yang terkesan merendahkanmu, atau karena perbuatanku yang selalu membuat kau kesal" ucap Alina "Mari kita berdamai" Alina melepas cekalan tangannya, dan mengulurkan tangan pada Shanum untuk berjabatan


"Aku rasa kau mengigau" cibir Shanum


"Tidak, aku serius. Baiklah izinkan aku untuk menjelaskan semuanya padamu, aku akan menjelaskan semuanya se-detail mungkin" pinta Alina


"Hann... tolong izinkan aku dan Alina untuk menjelaskan semuanya" ucap Arga saat melihat Shanum tidak merespon ucapan Alina


"Baiklah"


Mendengar ucapan Shanum, Arga dan Alina tampak lega. Mereka kembali masuk ke dalam kontrakan Shanum, dan duduk bersama. Alina melirik Arga sejenak, setelah mendapat anggukan dari Arga, barulah Alina mulai membuka bicara


"Aku Alina, sahabat kecil dari Arga" ucap Alina memperkenalkan diri "Aku datang ke Indonesia hanya untuk memenuhi permintaan Om Rapi dan Tante Brianna untuk bertemu dengan Arga. Bahkan mereka juga mengatakan untuk menjodohkanku dengan Arga. Tapi setelah Arga mengatakan padaku bahwa dia mencintai wanita lain, maka aku memutuskan untuk mengalah, dan aku akan merelakan Arga untuk bersamamu"


Alina tampak menarik napas, untuk kembali menyambung ceritanya "Awalnya aku memang sudah berniat untuk merelakan Arga untukmu, tanpa harus ada drama apapun. Tapi setelah melihat dirimu, entah mengapa aku tertarik untuk menguji kesabaranmu, dan ternyata sekarang aku tahu jika kesabaranmu hanya setipis tissue yang di belah menjadi empat"


"Kau menghinaku?" ucap Shanum garang, saat mendapati nada ejekan dari Alina


"Kau mengatakan merelakan Arga tanpa ingin ada drama di dalamnya. Lalu kenapa kau justru selalu membuat masalah denganku?" tanya Shanum penasaran, sebab Alina memang terkesan menyebalkan untuknya, apalagi jika ia teringat dengan kalimat kalimat penghinaan yang keluar dari mulut wanita tersebut


"Aku hanya penasaran saja ingin mencoba ilmu bela dirimu, dan ternyata aku malah jadi malu sendiri sekarang" jawab Alina jujur


"Hahaha" Arga yang sedari tadi hanya diam dan menyimak obrolan antara dua wanita di depannya, kini tertawa dengan begitu lebar saat mendengar pengakuan Alina. Namun rasa bahagianya tidak bertahan lama, sebab di detik berikutnya ia harus segera terdiam saat melihat tatapan tajam dari Alina dan Shanum


"Ehem, Han... aku sama sekali tidak mengenalmu sebelumnya. Bahkan pertemuan kita di kantor tadi adalah pertemuan pertama kita. Jujur, aku tidak tahu seperti apa kau, tapi aku percaya dengan pilihan sahabatku. Karena aku yakin, bahwa dia mampu menentukan pilihan terbaik untuk dirinya sendiri. Sekali lagi maaf untuk kata kataku yang mungkun menyakitimu, tapi sungguh, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menghinamu, apalagi merendahkanmu"


Shanum masih diam, ia tidak merespon apapun akan pernyataan yang barusaja ia dengar dari Alina. Ia hanya mendengarkan dan menyimak. Hingga di detik berikutnya, ia terkejut saat merasakan tangannya di genggam oleh Alina


"Kau mau memaafkan aku 'kan?" tanya Alina


"Iya, aku memaafkanmu, dan maaf untuk tanganmu yang mungkin patah karena aku"


"Ahh, ini? Ini memang sakit, bahkan mungkin juga patah, tapi aku akan segera meminum panadol nanti"


"What?"