
Arga membuka sebelah matanya dengan berat. Terpaan sinar matahari yang cukup menyilaukan, di tambah melihat perhatian Shanum padanya, membuatnya enggan untuk terlihat baik baik saja. Sebab, kekhawatiran yang tergambar di wajah Shanum membuatnya merasa benar benar bahagia. Akhirnya, ia memilih kembali memejamkan matanya, dan bersandar pada kursi pantai
"Hann..."
"Ada apa? Apa kau masih merasa lemas?"
"Iya, kepalaku masih pusing, aku merasa dunia seperti berputar putar"
Arga terus melanjutkan dramanya. Bahkan karena ia tidak membuka mata, membuat ia sama sekali tidak menyadari saat seorang laki laki dan perempuan mendekati Shanum, dan meletakkan jari telunjuknya di depan mulut sebagai intruksi agar Shanum tidak bicara. Entah mengapa, Shanum hanya mengangguk, dan tidak memberikan perlawanan apapun. Laki laki itu terlihat berjalan semakin dekat kearah Arga, dan menggenggam kedua tangannya, sedangkan wanita yang tadi bersamanya berdiri di samping Shanum
"Hann... terima kasih" Arga tersenyum senang mendapati perlakuan manis dari Shanum
Lion, yang merupakan sahabat Arga itu memberi kode pada Shanum untuk menjawab, dan lagi lagi Shanum hanya mengangguk. Ia juga sedikit merendahkan tubuhnya saat wanita di sampingnya membisikkan sesuatu. Lalu tanpa bantahan, ia mengikuti perkataan wanita tersebut
"Iya sama sama apa sampai sekarang kepalamu masih pusing?" tanya Shanum
"Iya, jika kau berkenan, aku rasa aku ingin kau memijit kepalaku agar sedikit lebih baik" ucap Arga masih memejamkan matanya. Tidak lama, ia benar benar merasakan tangan yang semula menggenggam tangannya berpindah, dan memijit pelipisnya. Membuat senyum Arga kian mengembang "Kenapa kau manis sekali, biasanya kau pasti akan marah jika aku meminta hal hal aneh, tapi kenapa kau justru bersikap begitu manis?"
Arga menggenggam sepasang tangan yang masih bertengger di kepalanya. Namun seketika keningnya mengernyit saat menyadari tangan yang ia pegang di tumbuhi bulu bulu halus. Seingatnya, tangan Shanum tidak seperti ini, tangan Shanum sangat mulus seperti tangan wanita pada umumnya. Demi menuntas rasa penasarannya, Arga mulai membuka matanya perlahan
"Kau... Apa yang kau lakukan?" seketika Arga berdiri dan menjauh dari Lion. Sedangkan Lion justru tertawa terpingkal pingkal
Arga memberengut, ia beralih mendekati Shanum yang menatap dirinya dengan tatapan tajam "Jadi, sedari tadi kau mengerjaiku?" tanya Shanum
"Tidak Hann, tidak seperti itu"
Diana yang berada di samping Shanum hanya terkekeh geli, lalu ikut menimpali "Lalu seperti apa? Shan, bukankah sudah jelas Kak Arga sedari tadi hanya mempermainkanmu, lalu kenapa kau diam saja, kau hajar saja Kak Arga sekarang juga"
"Dee..." wajah Arga tampak pias saat mendengar usulan gila dari istri sahabatnya. Ya, istri sahabatnya, sebab wanita yang barusaja berkata itu adalah Diana, istri dari Lion, sahabatnya
*
Saat ini, Arga dan Shanum sedang duduk bersama Lion dan Diana di sebuah kaffe yang dekat dengan pantai. Mereka tampak berbincang santai, sesekali juga terdengar tawa dari mereka semua. Jika yang lain terlihat tertawa dengan berbagai lelucon, maka berbeda dengan Arga yang justru memberengut kesal. Sebab, sumber dari tawa semua orang adalah dirinya. Ya, Lion dan Diana menceritakan tentang dirinya kepada Shanum, hingga membuat Shanum tertawa
"Kau tahu Shan, dulu Kak Arga juga pernah melakukan hal yang sama saat Mas Lion menembakku. Setelah menaiki jetski, dia terkapar di pasir pantai, dan terlihat lemas, tapi ternyata sama hal-nya seperti tadi, dia juga hanya terlalu lebay dan melebih lebihkan" Diana tampaknya belum puas menceritakan tentang Arga kepada Shanum
"Tapi kau tahu Hann, dulu aku juga mempunyai teman yang sangat gila" Arga mulai bersuara, ia melirik Diana, Lion dan Shanum bergantian, lalu kemudian tatapannya berhenti pada Diana "Dulu kami berlibur di Lampung, ada satu orang tidak waras yang meminta kami semua untuk bangun di pagi buta hanya untuk melakukan jogging. Kau bayangkan saja, bagaimana bisa jogging jika tanah saja bahkan belum terlihat"
"Benarkah?" tanya Shanum tak percaya
"Iya, apa yang Arga katakan benar" Kali ini Lion yang ikut berbicara menimpali ucapan Arga, sebab kini ia tahu arah pembicaraan Arga "Dan kau tahu Shan, setelah kami jogging, ada satu sahabatku yang membeli Nasi Padang, dan langsung memakan di tempat. Kau pasti tahu satu porsi Nasi Padang berapa banyak, bukan?"