Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 76



"Pa, ini masakan Kak Shan, kalian harus mencobanya" ucap Dimas, saat ini mereka tengah berada di ruangan yang sama, tetapi di hadapan mereka telah terhidang makan malam


Tuan Rapi dan Nyonya Brianna saling tatap. Masakan daun singkong, dengan tempe dan tahu sebagai lauk. Secara rasa, mungkin mereka tidak meragukan masakan tersebut, karena sebelumnya mereka sudah pernah memakan masakan Shanum. Namun secara tampilan, jujur Tuan Rapi sedikit khawatir, karena selama hidupnya, ia tidak pernah memakan makanan sesederhana ini


"Ayo Pa, dimakan" seru Arga, bahkan ia telah mengisi piring miliknya dengan nasi dan sayur


Nyonya Brianna mengambil satu piring dengan ragu. Ia lantas mengambil nasi, sayur, dan lauknya. Setelah itu, ia ikut membasuh tangannya, dan mulai memakan makanannya dengan tangan. Barusaja masuk ke dalam mulut, rasa masakan itu terasa begitu nikmat di lidah Nyonya Brianna. Tidak ingin merasakan kenikmatan itu seorang diri, Nyonya Brianna beralih untuk menyuapi suaminya


"Papa harus mencoba ini, ayo" pinta Nyonya Brianna, dan dengan berat hati, Tuan Rapi mulai membuka mulut, dan mengunyah makanannya "Bagaimana Pa, enak bukan?"


"Iya, makanannya enak" angguk Tuan Rapi


"Kenapa Papa makan di suapi? Seperti anak kecil saja" ujar Dimas


"Dimas..."


Mendapat tatapan tajam dari sang Kakak pertama, membuat nyali Dimas menciut. Ia lantas menatap pada makanannya kembali, dan memakannya dengan lahap. Hingga akhirnya, malam itu segala masalah yang terjadi diantara mereka telah usai. Mereka telah memutuskan untuk saling memaafkan


"Siti, kami pulang dulu ya" pamit Nyonya Brianna


"Iya Mas, Mba. Hati hati di jalan"


Tuan dan Nyonya Brianna tersenyum, dan langsung masuk kedalam mobil. Sedangkan Selfi, gadis itu tetap berdiri di tempatnya, ia berjalan sedikit mendekat kepada Kiyara, sebab sedari tadi gadis kecil itu hanya diam. Bahkan, Selfi tidak mendengar satu 'pun kata yang keluar dari mulut gadis itu selain namanya, itupun terjadi karena tadi dirinya sempat berkenalan


"Kiyara..." panggil Selfi


"Iya Mba?"


"Tiga bulan lagi Mba, setelah itu semuanya beres


"Mba dengar dari Mas Arga, kau ingin menjadi dokter, benar?" tanya Selfi, dan di jawab anggukan oleh Kiyara


"Bagaimana kalau kau ikut Mba saja, Mba akan tugas di Singapore untuk waktu yang lama, dan kamu bisa menempuh pendidikan dokter-mu di sana"


Kiyara menatap Ibu Siti dan Shanum bergantian. Sejujurnya, ia belum mengatakan apapun perihal cita citanya pada Ibu dan Kakaknya, sebab ia tidak ingin membuat mereka pusing. Tadinya ia berpikir untuk merantau, dan kerja part time agar bisa membiayai kuliahnya seorang diri, dan ia tidak akan membebani Kakak atau Ibunya


"Apa boleh Bu?" tanya Kiyara "Kak..." Kiyara beralih menatap Kakaknya


"Kita akan biayai sekolahnya bersama sama, tidak perlu khawatir" ucap Arga, saat melihat kebimbangan di wajah Ibu Siti dan Shanum


"Lagipula Ibu dan Kak Shan tidak perlu memikirkan biaya. Karena kuliah di sana hanya memerlukan nilai, aku dengar dari Mas Arga, Kiyara sangat pintar, jadi pasti tidak akan susah baginya untuk mempertahankan nilainya nanti. Jadi, bagaimana Kak, Bu?" kini giliran Selfi ikut bertanya


Ibu Siti mengusap pucuk kepala putrinya dengan senyum merekah "Wujudkan impianmu Nak"


Senyum Kiyara terlihat sangat cerah diiringi air mata kebahagiaan. Perkataan Ibunya seolah mengatakan segalanya. Mengatakan sebuah harapan, dan tentunya sebuah izin untuk dirinya melanjutkan pendidikan dalam jenjang yang ia impi impikan


"Terima kasih Bu, Kak"


"Mentang mentang aku yang paling muda, tidak mau berterima kasih padaku" sungut Dimas karena Kiyara hanya berterima kasih pada Kakak dan Ibunya saja


"Kau juga adikku yang tampan. Terima kasih"