Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 71



Sejak hari dimana Shanum mengetahui kejahatan Ayahnya. Sejak saat itu pula, Shanum mengurung diri di kamar. Ia akan keluar kamar saat waktu makan, setelah itu ia akan kembali ke kamar dan mengurung dirinya. Sedangkan Arga, ia tampak berbicara serius dengan seseorang di depan rumah Shanum, entah apa yang ia bicarakan


"Baik, terima kasih untuk semua bantuanmu" ucap Arga mengakhiri pembicaraannya


"Siapa Mas?" tanya Dimas


"Tidak, bukan siapa siapa. Kau mau kemana? Mencari barang bekas lagi?"


"Iya"


"Baiklah, Mas ikut lagi saja kalau begitu" usul Arga


"Boleh, ayo"


Arga kembali mengikuti Dimas untuk mencari barang barang bekas di sekitar jalan desa yang cukup ramai. Kali ini, Arga sudah lebih bisa membedakan barang barang bekas yang akan mereka jual, tidak seperti saat pertama kali ikut Dimas saat itu. Saat itu, Arga terkadang mengambil bungkus makanan instant dan memberikannya pada Dimas, padahal jelas jelas bungkus makanan instant tidak bisa di jual.


Selesai. mencari barang bekas yang jumlahnya cukup banyak, akhirnya Arga dan Dimas beranjak menuju tempat penjualan. Seperti biasa, Dimas menunggu giliran sebab di depan sana anak anak yang lain juga ikut menjual barang hasil mereka. Namun tanpa sengaja, sorot mata Dimas menangkap sesuatu diatas tumpukan sampah yang cukup jauh dari tempatnya berdiri


"Dim, ada apa?" tanya Arga saat menyadari tatapan Dimas


"Itu Mas..." tunjuk Dimas pada tumpukan sampah yang cukup tinggi


"Apa? Dimana?"


"Yang berdiri di sana, itu Kak Kiya bukan?"


"Yang mana? Yang itu" tanya Arga


"Iya yang itu"


"Sepertinya bukan, kau hanya salah lihat" ucap Arga


"Tidak Mas, itu Kak Kiya. Ayo kita ke sana" ajak Dimas, tetapi ucapan laki laki yang menerima barang bekas itu menghentikan langkah Dimas. Ternyata saat ini sudah giliran barang Dimas yang di timbang, dan itu membuat Dimas akhirnya menyerahkan barang jualannya dan menunggu uang yang akan ia dapatkan


"Dapat berapa?" tanya Arga


"Empat belas ribu" jawab Dimas singkat, matanya terus menatap pada tumpukan sampah plastik yang sedikit jauh darinya, ia ingin memastikan sekali lagi jika apa yang tadi ia lihat benar benar Kakaknya. Namun sayangnya ia tidak melihat apapun lagi


"Mencari apa? Kak Kiya?" tebak Arga


"Iya, aku yakin yang tadi itu Kak Kiya. Tapi sepertinya bukan, mungkin Mas benar, aku salah lihat"


"Mas bilang juga apa. Lagipula Kak Kiya 'kan sedang kerja kelompok, jadi tidak mungkin dia ada di sini"


"Iya, Mas benar"


Arga menggandeng Dimas untuk meninggalkan tempat itu. Begitu ia dan Dimas berjalan, ia kembali melirik di balik sebuah meja yang ada di sana, di mana terlihat Kiya yang tengah mengintip. Ya, sedari tadi ia memperhatikan setiap apa yang Kiya lakukan, dan saat menyadari keberadaannya dan Dimas di tempat itu, Kiya akhirnya memilih bersembunyi di balik meja


Sedangkan Kiya, ia mengusap dadanya lega saat melihat Arga dan Dimas semakin jauh, dan meninggalkan tempatnya. Ia tidak mau jika ada yang tahu tentang apa yang ia kerjakan di luar rumah. Bukan karena malu, tapi karena ia tahu, jika orang rumah mengetahui apa yang ia kerjakan di luar rumah, maka dirinya tidak akan mendapat izin keluar untuk alasan apapun. Maka dari itu ia lebih memilih diam, dan berusaha mencari penghasilan