Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 30



Jam pulang kantor telah tiba, Shanum segera merapikan barang barang miliknya, dan segera berjalan menuju lift. Begitu tiba di lobi perusahaan, Shanum berjalan kaki menuju halte yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Cukup lama menunggu, akhirnya angkot yang ia tunggu tiba, dan berhenti didepannya


Sepanjang jalan menuju kontrakannya, Shanum hanya memandang kosong jalanan. Ia tidak tahu mengapa hatinya begitu terusik, seakan ada hal yang begitu besar yang menghimpitnya. Ia menghela napas kasar, dan memutar tas punggungnya untuk ia letakkan di pangkuan. Namun ia begitu terkejut saat menyadari adanya sebuah tangan yang membuat gerakannya tertahan


Menyadari adanya bahaya, Shanum segera memelintir tangan tersebut, dan membuat pemiliknya mengaduh. Dalam sekejap, suasana angkot yang semula hening, berubah menjadi riuh. Sopir angkot menghentikan laju kendaraannya, sehingga memudahkan Shanum untuk menghajar laki laki yang sudah berusaha mencopetnya


Bugh


Satu pukulan terakhir Shanum berikan pada perut pria tersebut, membuat pria itu batuk. Shanum kembali memelintir tangan laki laki tersebut ke belakang, dan meminta sopir untuk kembali melajukan kendaraannya. Begitu angkot berjalan, Shanum mendekati pintu masuk angkot dengan laki laki itu yang masih berada dalam kuasanya, setelah itu tanpa belas kasih ia mendorong laki laki tersebut keluar dari angkot


"Wow, anda sangat hebat Nona" ujar salah seorang penumpang


"Benar, Nona hebat sekali" timpal yang lain


Shanum hanya tersenyum kecil, lalu kembali mengambil tas punggungnya, dan memakainya kembali "Kiri pak" ujar Shanum, begitu angkot berhenti, Shanum memberikan uang pada sopir angkot tersebut dan segera turun


Shanum tiba di kontrakannya. Ia segera meletakkan tas, dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Barusaja keluar dari kamar mandi, terdengar ketukan di pintu kontrakannya. Shanum berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan ketukan tersebut. Begitu selesai berpakaian baru ia membuka pintu kontrakannya, dimana Arga duduk di teras depan dengan jas yang ia taruh di pundaknya


"Pak..." panggil Shanum


"Hann, aku pikir kau tidak akan membuka pintu" Arga bangkit dari duduknya, dan mendekati Shanum yang masih diambang pintu


"Saya habis mandi, ada apa Bapak kemari?" tanya Shanum heran


"Maksud anda?" mendengar pertanyaan Arga membuat Shanum sedikit heran, dan sedikit waspada


Arga tergelak mendengar nada bicara Shanum yang mewaspadainya "Tenang saja, aku tidak bermaksud macam macam, aku hanya ingin mengobrol denganmu, itu saja"


Shanum menatap Arga dengan intens. Entah mengapa ia melihat Arga berbeda malam ini. Wajah menjengkelkan dengan senyum jahil yang biasa ia tunjukkan seakan hilang begitu saja. Shanum tidak mengerti, ada apa dengan laki laki ini sebenarnya


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Shanum akhirnya, mencoba untuk mengobrol lebih santai bersama Arga


Arga kembali duduk di teras, dan memandang jauh entah kemana. Melihat itu, Shanum menutup pintu, dan duduk di samping Arga. Ia ikut memandang jauh kedepan sana


"Kau tidak pantas murung seperti ini" ujar Shanum


Mendengar ucapan Shanum, membuat Arga menoleh "Kenapa? Bukankah wajahku tetap akan terlihat tampan walau aku murung sekalipun" ucap Arga sembari terkekeh pelan


"Kau itu percaya diri sekali"


Hening


Keheningan benar benar melanda Shanum dan Arga saat ini. Shanum benar benar tidak tahu, mengapa laki laki yang selalu berbicara dan membuatnya kesal ini terlihat enggan untuk memulai pembicaraan. Shanum juga ikut diam, menunggu hingga Arga memulai pembicaraannya