
Sejak hari dimana Alina mengungkapkan kebenaran tentang hubungannya dan Arga. Sejak saat itu pula hubungan Shanum dan Arga sedikit menghangat. Setidaknya, Shanum dan Arga sudah cukup sering menghabiskan waktu bersama. Seperti saat ini, Shanum dan Arga tengah menghabiskan malam indah ini dengan duduk di taman dekat kontrakan Shanum dengan beralaskan tikar
"Hann..."
"Hm?"
"Aku tidak ingin memiliki rahasia apapun padamu, termasuk niat awalku mendekatimu" ujar Arga
Shanum melihat kearah Arga yang juga menatapnya "Maksudmu?"
"Beberapa tahun yang lalu, aku pernah mencintai seorang gadis yang anggun dan menjadi primadona di sekolahku. Bermodal ketampanan, aku dengan berani mendekatinya dan memintanya untuk menjadi pacarku"
"Ternyata kau memang terlampau percaya diri sejak dulu" cibir Shanum saat mendengar ucapan Arga yang mengatakan dirinya sendiri tampan
Arga tergelak mendengar cibiran Shanum "Itulah kenyataannya Hann"
"Baiklah, lanjutkan ceritamu" ujar Shanum
"Ya, setelah aku mengatakan bahwa aku menyukainya, gadis itu juga ternyata memiliki perasaan yang sama padaku, yang akhirnya membuat hubungan kami terjalin, aku dan dia berpacaran saat itu. Kami menjalin hubungan cukup lama, hingga akhirnya tepat di hari kelulusan kami, dia pergi meninggalkanku"
"Pergi?" ulang Shanum
"Iya, dia pergi di jemput ajal-nya. Kesalahan terbesarku adalah karena tidak mengetahui sejak awal jika gadis yang aku cintai mengidap penyakit berbahaya di tubuhnya. Dia menderita hepatoblastoma" terang Arga
"Hepatoblostoma?"
"Kanker hati yang biasanya menyerang anak di bawah umur tiga tahun. Sebenarnya kanker hati ini terbilang ringan, dan memiliki kemungkinan untuk sembuh, dengan melalui serangkaian operasi dan kemoterapi. Tapi karena saat itu usianya masih sangat kecil, akhirnya kedua orang tuanya memutuskan untuk melakukan operasi saat ia sudah besar. Namun begitu ia besar, dan mengetahui penyakit yang di deritanya, ia justru menolak untuk melakukan pengobatan, dan memilih melanjutkan hidupnya hingga Tuhan benar benar memanggilnya, dan keluarganya baru menceritakan padaku setelah dia meninggal"
"Siapa namanya?" tanya Shanum
"Jadi selama ini kau memanggilku Hanna, karena kau teringat akan wanita itu?" tanya Shanum yang langsung saja di angguki Arga
"Awalnya begitu. Pertama kali melihatmu, entah mengapa aku merasa bahwa wajahmu sangat mirip dengannya, tapi semakin lama, aku semakin sadar bahwa obsesiku padanya membuat aku tidak melihat dirimu secara nyata. Aku seakan melihat dirinya dalam dirimu, tapi pada kenyataannya kalian adalah dua orang yang sangat jauh berbeda dalam hal apapun"
"Dan pernyataan cintamu?" tanya Shanum
Arga melirik kearah Shanum dengan tersenyum hangat "Aku bersungguh sungguh dengan apa yang aku katakan. Aku sudah menyadari semuanya, menyadari bahwa aku memang benar benar mencintaimu Shanum Hanania"
"Benarkah?" tanya Shanum tak percaya
"Tentu saja"
"Tapi jujur saja, setelah mendengar ucapanmu, aku justru menjadi sedikit tidak yakin padamu" ucap Shanum berterus terang
"Kenapa?"
"Kau bilang kau mencintaiku bukan karena sesuatu pada diriku yang mirip dengan mantan pacarmu itu, tapi sampai sekarang kau terus memanggiku Hanna, dan aku yakin, panggilan itu bukan bertujuan untukku, tapi itu adalah panggilanmu pada Sosok Hanna Delisha, bukan?"
"Awalnya iya" jawab Arga jujur "Tapi sekarang, aku benar benar serius dengan ucapanku, aku benar benar mencintaimu Hann. Mengenai panggilanku padamu, aku memutuskan untuk tetap memanggilmu Hanna karena aku ingin memiliki panggilan spesial denganmu"
"Tapi aku tidak mudah untuk serius kepada seseorang" sahut Shanum
"Kenapa?"
"Karena aku pernah di tinggalkan hanya karena sebuah janji. Kata katanya hampir sama sepertimu, mengatakan mencintaiku tapi berakhir menikah dengan orang lain. Aku tidak menyesali ataupun meratapinya, hanya saja aku sudah terlanjur tidak bisa percaya dengan janji janji manis laki laki"
"Kalau begitu, aku akan membawamu menemui keluargaku besok"