
Shanum masih tetap menatap Ibunya dengan tajam. Ia benar benar tidak terima saat sang Ibu lagi lagi mengatakan hal buruk tentang ayahnya. Karena baginya Ayahnya adalah laki laki terbaik di dunia, dan tidak ada seorang 'pun yang berhak mengatakan sesuatu yang buruk tentang ayahnya
"Ibu mohon, dengarkan Ibu sekali ini saja. Selama ini Ibu hanya diam saat kau memberontak, dan menolak segala penjelasan Ibu tentang Ayahmu. Tapi inilah kenyataannya Kak, ayahmu bukanlah Dewa yang tidak akan berbuat kesalahan. Jadi Ibu mohon, izinkan Ibu menjelaskan segalanya padamu"
Ibu Siti menggenggam kedua bahu putrinya dengan mata yang sudah berkaca kaca. Membuat Arga yang sedari tadi masih shock dan hanya menjadi penonton adegan antara Ibu Siti dan Shanum, akhirnya berjalan mendekati Shanum. Ia ikut memegang bahu Shanum, sama seperti apa yang Ibu Siti lakukan
"Bisakah kita meluruskan semuanya? Aku juga penasaran dengan segala masa lalu keluarga kita. Jadi aku mohon kerja sama darimu" ujar Arga
Shanum menggeleng dengan yakin. Ia benar benar tidak bisa mendengar hal buruk apapun tentang ayahnya dari mulut siapapun. Termasuk Arga. Ia melepas dirinya dari Arga dan Ibunya secara paksa, kemudian berlari menuju kamar miliknya yang semula akan di tempati Arga
"Kak..." Ibu Siti hendak kembali mengejar. Namun gerakannya di hentikan oleh Arga
"Mungkin dia butuh waktu untuk mengerti dengan semua ini Buk, biarkan dia menenangkan dirinya terlebih dahulu" ujar Arga, meskipun sebenarnya dirinya 'pun sangat penasaran tentang segala kisah masa lalu keluarganya
Ibu Siti menatap Arga dengan tangis yang sudah menetes dengan begitu deras. Tanpa kata, ia segera memeluk Arga, memeluk anak laki laki yang dulu selalu berada dalam gendongannya, dan ternyata sekarang takdir tengah mempermainkan dirinya. Disaat dirinya berniat pergi dan menjauh dari keluarga Argantara, takdir justru membawa Arga kepadanya melalui Shanum, putrinya.
Arga membalas pelukan Ibu Siti tak kalah erat. Ia sama sekali tidak mengingat apapun, tapi yang pasti, melihat tangis Ibu Siti yang terdengar menyedihkan, membuat Arga ikut merasakan sakit. Secara perlahan, ia menuntun Bu Siti untuk duduk di tempat semula, di kursi ruang tengah rumah Shanum.
"Ibu yang sabar, Hanna hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan hatinya, setelah itu, ia pasti mau mendengarkan cerita Ibu" ucap Arga
"Semoga saja Nak"
*
Setelah Ibu Siti memutuskan untuk menenangkan diri di kamar. Terlihat Dimas yang berangsur mendekati Arga, dan duduk bersama di kursi yang di duduki Arga. Melihat Arga yang terlihat diam, membuat Dimas ikut diam sejenak. Namun saat sudah cukup lama terdiam, membuat jiwa Dimas seakan tidak tenang, karena ia sangat tidak suka jika harus berdiam terus menerus
"Mas..." panggil Dimas. Namun Arga sama sekali tidak menjawab "Mas Arga" Dimas menjentikkan jarinya di depan wajah Arga, membuat Arga sedikit berjingkat kaget
"Eh... Dimas, sejak kapan kau disini?" tanya Arga
"Oh..."
"Mas kenapa?"
"Tidak apa apa. Kau mau kemana?" tanya Arga saat menyadari Dimas membawa sebuah karung di tangannya
"Aku ingin keluar, mencari barang bekas"
"Barang bekas? Untuk apa?" tanya Arga
"Untuk di jual 'lah Mas, baru nanti aku akan mendapatkan uang untuk jajan"
"Jadi kau mengumpulkan barang bekas untuk mendapatkan jajan?"
"Hus... jangan terlalu keras bicaranya, nanti Ibu, Kak Shan, dan Kak Kiyara mendengar" ujar Dimas sembari celingukan, takut jika Kakak Kakaknya mendengar
"Memangnya, Ibu dan Kakakmu tidak tahu jika kau mengambil barang bekas?" tanya Arga
"Tidak, mereka tahunya kalau aku selalu main saat pulang sekolah, karena aku memang mengatakan itu pada mereka. Mas mau ikut aku tidak?" ajak Dimas
"Mencari barang bekas?" tanya Arga tak yakin
"Tentu saja, itu juga jika Mas mau, jika tidak, tidak apa apa"
"Baiklah, ayo kita cari barang bekasnya"