Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 56



"kenapa Kak? Apa alasan mereka menolakmu?" tanya Bu Siti


Shanum menatap Ibunya dengan intens. Tiba tiba ucapan Tuan Rapi kembali terngiang di telinganya, hingga membuat rasa penasaran menguasai dirinya. Ia tampak menghela napas sejenak, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya


"Apakah Ibu mengenal Tuan Rapi?" tanya Shanum


"Ra-Rapi? Rapi siapa yang kau maksud?" alih alih menjawab, Ibu Siti justru terlihat terkejut


"Rapi Ibnu Argantara"


Shanum dan Ibu Siti melihat kearah sumber suara, dimana terdapat Arga yang mulai berjalan mendekat. Shanum menggeser duduknya, dan membiarkan Arga untuk duduk di sampingnya. Membuat Arga dengan segera ikut duduk. Sedangkan Ibu Siti terlihat terkejut saat mendengar nama yang sudah lama tidak ia dengar itu


"Apa Ibu mengenal Papa-ku?" tanya Arga lagi


"Papa? Kau... Argantara?" tanya Bu Siti tak percaya


"Jadi, ada hubungan apa antara Ibu dan Tuan Rapi Bu?" tanya Shanum


Ibu Siti mengalihkan tatapannya dari dua orang di hadapannya. Ia bangkit dari duduknya, dan berdiri membelakangi Shanum dan Arga. Membuat Shanum dan Arga saling pandang, seolah sama sama bertanya lewat sorot matanya


Shanum dan Arga kembali saling pandang saat mendengar kalimat pembuka yang di ucapkan Ibu Siti "Maksud Ibu, Ayah adalah adik angkat Tuan Rapi, itu artinya..."


Ibu Siti kembali membalik tubuhnya sembari mengangguk "Ayahmu adalah anak yatim piatu yang bernasib beruntung. Ia diangkat anak oleh Kakek dan Nenek Arga, dan dibawa untuk hidup bersama di rumah megah Argantara. Mereka hidup damai, dan benar benar terlihat harmonis. Namun ayahmu memiliki sifat yang tidak seharusnya ia miliki. Ayahmu memiliki sifat iri, sehingga membuatnya tidak terima dengan posisinya yang hanya sebagai anak angkat. Ia mencoba menyingkirkan Mas Rapi, dan membuat tuduhan tuduhan palsu agar Kakek kalian memarahi Mas Rapi. Namun berkali kali ayahmu mencoba mengadu domba mereka, mereka tetap tidak terpengaruh"


"Apa maksud Ibu? Apa sekarang Ibu ingin mengatakan bahwa Ayahku bukanlah orang yang baik?" tanya Shanum tak suka


"Iya, ayahmu bukanlah orang yang baik, itu adalah kenyataannya. Dia..."


"Tidak!" Shanum bangkit dari duduknya saat mendengar sang Ibu kembali mengucapkan kata kata buruk tentang Ayahnya "Tidak ada yang boleh berkata buruk tentang Ayahku. Aku sangat mengenalnya, dan dia adalah laki laki terbaik dalam hidupku"


"Kau selalu menutup mata dengan segala tindak kejahatan Ayahmu selama hidupnya. Tapi inilah yang sebenarnya Kak, ini kenyataannya. Ayahmu bukanlah laki laki terbaik seperti apa yang kau lihat" ucap Bu Siti


"Cukup Bu. Tidak ada yang boleh berkata buruk tentang Ayahku" Shanum berjalan cepat menuju kamarnya, ia tidak akan sanggup jika harus mendengar hal buruk tentang Ayahnya, karena baginya Ayahnya adalah laki laki terbaik. Namun niatnya untuk masuk ke kamar harus ia urungkan, karena tangannya yang di cekal oleh Ibu Siti


"Mau sampai kapan kau menutup mata dengan semua ini Kak? Sampai Kapan? Berkali kali Ibu mengatakan padamu bahwa Ayahmu tidak sebaik yang ada dalam pikiranmu. Dia bukan Dewa yang harus kau bangga banggakan dan agung agungkan. Dia adalah laki laki biasa yang bahkan lebih pantas di sebut Iblis" ucap Ibu Siti, terlihat pancaran kebencian dari kedua matanya


"Tidak!" Shanum melepas cekalan tangannya dengan kemarahan yang benar benar tidak bisa ia tutupi "Tidak ada yang berhak berkata buruk tentang ayahku, walau Ibu sekalipun"