
Shanum membeku. Perjodohan? Arga akan di jodohkan oleh orang tuanya? Mengapa rasanya sakit saat mendengar laki laki itu akan di jodohkan. Tapi untuk sekedar mengatakan iya, merupakan hal yang sulit untuk Shanum ucapkan.
"Aku mohon Hann, beri aku kesempatan sekali saja. Jujur aku ingin memperjuangkanmu, tapi jika kau yang aku perjuangkan ternyata tidak menginginkan aku, maka aku tidak bisa berbuat banyak, seberapa keras pun aku berusaha mendapatkanmu, jika hatimu menolak, maka semuanya akan sia sia"
Shanum melangkah masuk, tanpa menjawab ucapan Arga sama sekali. Namun saat mencapai daun pintu, ia kembali membalik tubuhnya "Tolong lupakan aku, karena aku benar benar tidak bisa bersamamu" ucap Shanum "Lupakan rencana kita malam ini, karena aku sudah tidak berminat" setelah itu ia langsung mempercepat langkahnya, dan masuk kedalam kontrakan
Arga menatap nanar pintu kontrakan yang tertutup. Ia tidak menyangka, untuk ke-dua kalinya ia di tolak oleh wanita yang ia incar. Apakah ini berarti ia benar benar harus merelakan hidupnya untuk mengikuti keinginan kedua orangtuanya. Tapi mengapa rasanya seberat ini
*
Hari hari berlalu begitu saja. Tidak ada hal istimewa baik bagi Arga ataupun Shanum. Setelah penolakan Shanum malam itu, Arga benar benar menjauh. Jawaban yang ia nantikan telah ia dapatkan, dan kini sudah saatnya ia mengikuti keinginan kedua orang tuanya, meskipun semua itu terasa berat.
"Ga... bagaimana, kau suka yang ini atau yang ini?" tanya Alina menunjuk pada dua dress di tangannya "Arga..." Alina meninggikan suaranya saat apa yang ia ucapkan tidak di tanggapi oleh Arga
"Iya, ada apa?" tanya Arga
"Kau ini kenapa? Aku tadi bertanya, yang mana yang kau suka, dress biru atau gold" tanya Alina. Namun Arga kembali tidak memberi jawaban "Arga!"
"Yang merah" jawab Arga setengah sadar
Alina menghela napas kasar, iamenunduk dan langsung pergi dari hadapan Arga tanpa sepatah katapun. Ia kembali masuk, dan meletakkan dua dress yang tadi ia bawa ke tempat semula. Ia sudah tidak berminat untuk mencoba dua dress itu, karena melihat tidak adanya antusias dari Arga
"Terserah saja" jawab Alina, ia kemudian keluar meninggalkan karyawan boutique yang tampak menggaruk kepala setelah mendengar jawaban Alina
Sedangkan Arga yang sudah sadar dari segala lamunannya, segera bangkit dari duduknya hendak menyusul Alina. Namun barusaja hendak melangkah, terlihat Alina yang sudah keluar. Membuat Arga menghentikan langkahnya
"Lin, aku..."
"Tidak apa apa, ayo kita pulang"
Alina berusaha tersenyum, meski sebenarnya hatinya tidak sedang baik baik saja sekarang. Ia segera melangkah keluar mendahului Arga, membuat Arga kelimpungan sendiri. Sebab, ia sudah berteman lama dengan Alina, dan ia tahu jika sikap biasa yang Alina tunjukkan tidak sepenuhnya benar. Karena yang ia tahu, jika wanita itu bersikap seperti itu, maka dia sedang dalam mode kecewa
"Lin, aku benar benar minta maaf, dan aku tidak bermaksud untuk..."
"Sudahlah, aku tahu kau lelah. Ayo kita pulang" ajak Alina memotong ucapan Arga
Setelah keduanya masuk ke mobil, mobil kembali melaju menuju apartemen Alina. Ya, Alina memutuskan untuk tinggal di apartemen miliknya karena merasa tidak enak jika harus tinggal di rumah keluarga Arga, mengingat statusnya yang bukan siapa siapa. Begitu mobil berhenti, Alina segera keluar dari mobil, dan menutup pintunya. Namun bukannya pergi, Arga justru ikut turun bersama Alina
"Lin... sekali lagi maaf untuk yang tadi. Kalau begitu aku pulang" ucap Arga, ia melangkah mendekati Alina, dan memeluknya sebentar sebelum akhirnya memutuskan pergi
Sedangkan Alina yang di tinggalkan hanya menatap mobil Arga yang berjalan menjauh. Ia menghela napas kasar, dan langsung melangkah menuju unit apartemen-nya. Biarlah hari ini berlalu seperti ini. Ia memberi keyakinan pada hatinya bahwa Arga hanya lelah karena pekerjaan, walaupun sebenarnya hatinya setengah tak yakin akan hal itu