
Selesai makan, Dimas mengajak Arga untuk duduk di teras depan rumah mereka. Kedunya duduk berdampingan di teras rumah, melihat orang orang yang berlalu lalang. Terlihat pula, Kiyara yang baru pulang, dengan wajah yang tampak lesu
"Kak Kiya habis belajar kelompok lagi?" tanya Dimas, sebab itulah kebiasaan Kakaknya yang satu ini
"Iya" jawab Kiyara, ia melirik Arga yang duduk di samping Dimas, ia sedikit menunduk dan tersenyum kepada Arga "Mas Arga dan Dimas sudah makan?" tanya Kiyara
"Sudah tadi, makanannya enak, kau makanlah dulu, kau juga pasti lelah karena habis belajar" ucap Arga
"Iya Mas, kalau begitu aku duluan" ucap Kiyara sembari berjalan masuk
"Kak Kiyara memang suka kerja kelompok?" tanya Arga pada Dimas
"Iya Mas, diantara kami bertiga, Kak Kiyara yang paling rajin belajar, bahkan nilai ujiannya selalu maksimal, dan dia selalu mendapat peringkat umum setiap semester" ucap Dimas
"Wow, Kakakmu sangat hebat berarti. Lalu bagaimana dengan dirimu?" tanya Arga, entah mengapa berbicara dengan Dimas membuat Arga benar benar merasa nyaman, mungkin karena Dimas bisa mengimbangi dirinya yang memang banyak bicara
"Aku?" Dimas menunjuk dirinya sendiri "Aku jarang dapat juara, paling bagus paling hanya sampai di lima besar, tidak pernah masuk tiga besar"
"Sama sekali?"
"Dulu pernah saat aku masih kelas satu sampai kelas tiga, setelah itu jadi tidak pernah lagi" jawab Dimas, anak itu tampak cengengesan di akhir ceritanya
"Kak Hanna? Ah maksud Mas Arga, Kak Shan? Kalau Kak Shan, dia sama dengan aku, tidak pernah masuk dalam tiga besar. Hanya Kak Kiya saja yang lumayan pintar diantara kami bertiga" jelas Dimas
"Dimas, ajak Mas Arga masuk, sudah sore" terdengar suara Ibu Siti menginterupsi
"Baik Bu" teriak Dimas "Ayo Mas kita masuk, lagipula kita juga belum mandi, nanti bau"
Arga mengikuti langkah Dimas untuk masuk kedalam rumah. Begitu masuk, terlihat pintu kamar Shanum yang masih tertutup, sepertinya Shanum masih betah berada di dalam sana. Arga berjalan menuju belakang rumah, dimana kamar mandi berada, begitu melewati dapur, terlihat Kiyara yang baru menyelesaikan makannya. Arga sedikit menghentikan langkah saat melihat wadah nasi yang terlihat tidak berkurang isinya
"Tidak makan?" tanya Arga
Kiyara sedikit kaget saat mendengar suara Arga. Sebab dirinya tidak menyadari keberadaan Arga tadi "Sudah Mas"
"Oh... mmm kamar mandi di sebelah mana ya, aku takut salah" ujar Arga saat melihat raut terkejut Kiya. Setelah di beritahu oleh Kiya, barulah Arga melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi
*
Arga duduk di kursi yang berada di teras rumah Shanum. Udara malam di daerah ini ternyata sangat berbanding terbalik dengan udara siang tadi, faktanya malam ini terasa dingin menusuk tulang. Di daerah rumah Shanum ini juga tidak terlalu banyak orang, bahkan jarak antara satu rumah ke rumah yang lain masih tampak jauh. Maklum saja, rumah Shanum memang berada di pelosok kota Bogor, dan jauh dari keramaian
Arga mengeluarkan ponselnya dari saku celana, saat melihat pesan masuk dari sahabatnya, Daffa. Ternyata isi pesan tersebut adalah permintaan Daffa agar dirinya menjemput di bandara, besok. Ya, seperti sebelum sebelumnya, Daffa pasti akan merepotkan dirinya untuk menjemput di bandara jika laki laki itu bepergian, dan kini ia kembali mendapat permintaan tolong yang sayangnya lumayan memaksa dari sang sahabat baik