Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 54



Arga dan Shanum bangkit dari duduknya begitu melihat kehadiran Ibu Siti, Dimas dan Kiyara "Ibu..." Arga mendekati Ibu Siti dan mencium punggung tangannya


"Dia Arga Buk, teman Kakak" ujar Shanum saat melihat kebingungan di wajah Ibunya


"Oh..."


"Saya Arga Buk" ucap Arga menimpali, dan memperkenalkan diri sendiri, ia juga ikut bersalaman dengan Kiyara, dan berkenalan. Setelah itu, mereka kembali duduk di kursi yang tadi sempat Arga duduki


"Mas... mas hebat sekali sampai punya mobil sebesar itu, itu pasti sangat mahal 'kan?" ujar Dimas. Pembawaan Arga yang ramah, membuat Dimas merasa nyaman untuk bertanya segala hal yang ada di kepalanya


"Ah tidak juga, tapi memang sedikit mahal" jawab Arga


"Berapa harganya?" tanya Dimas


"Kenapa kau ingin tahu?"


"Tidak, aku penasaran saja, pasti harganya sangat mahal"


"Sudahlah, kenapa malah membahas harganya. Lebih baik, nanti kau langsung coba saja untuk menaikinya" ujar Arga


"Memang boleh?" tanya Dimas antusias


"Memang siapa yang melarang?"


"Yeay" Dimas bersorak gembira, bahkan raut wajahnya begitu sumringah karena mendapat tawaran yang sangat menggiurkan dari Arga


"Dimas, kau tidak ada PR? Lebih baik kau mengerjakan PR-mu dulu saja, daripada memberondong teman Kakak dengn pertanyaan. Dia pasti lelah karena mulutmu itu tidak berhenti bertanya sedari tadi" ucap Shanum


"Ish, Kakak ini. Lagipula apa salahnya, aku dan Mas Arga 'kan berteman. Iya kan Mas?" Dimas menatap Arga seolah meminta pembelaan, dan pengakuan tentunya


"Tentu saja, kita ini berteman" Arga mengarahkan kepalan tinjunya pada Dimas, dan langsung di sambut Dimas dengan mengepalkan tinjunya juga sebagai tanda pertemanan


"Ya sudah, sekarang kerjakan PR-mu" perintah Shanum


Dimas melirik sang Kakak dengan malas. Namun tak urung, ia melakukan perintah sang Kakak. Barusaja dua langkah ia berjalan, ia kembali membalik tubuhnya menghadap Arga "Mas sudah berjanji tadi, jangan sampai ingkar" ancamnya pada Arga


Arga tergelak mendengar ancaman Dimas, ia lantas mengangguk, dan mengangkat jempolnya "Pasti" ucapnya


"Sebenarnya bukan Buk, saya pacarnya Shanum" ungkap Arga


Ibu Siti melirik Shanum yang tampak menatap tajam pada Arga "Benar Kak?" tanya Buk Siti pada Shanum


"Mmm sebenarnya..."


"Iya atau tidak?" tanya Ibu Siti


Shanum melirik Arga sebentar, mencoba meyakinkan dirinya akan jawaban yang akan ia lontarkan. Melihat anggukan pasti dari Arga, membuat Shanum menarik napas pelan, dan menghembuskannya. Kemudian, anggukan kepala menjadi jawabannya atas pertanyaan sang Ibu


Ibu Siti menatap Arga dengan tatapan tak biasa. Ia tidak tahu, apakah ini hanya perasaannya saja, atau ini memang benar adanya. Ia seperti mengenal Arga. Namun ia seakan lupa, dimana dan kapan ia bertemu


"Mmm Nak Arga, apakah kita pernah bertemu sebelum ini?" tanya Bu Siti


"Bertemu?" tanya Arga "Saya rasa tidak Buk, tapi saya tidak tahu jika ternyata saya lupa. Apa Ibu merasa pernah melihat saya?" tanya Arga


"Sepertinya iya, tapi mungkin Ibu salah orang. Sudah, tidak usah di pikirkan" ucap Ibu Siti "Kalau begitu, kalian istirahat saja dulu" ucap Buk Siti akhirnya


"Tapi istirahat dimana Buk? Bukankah kamar di rumah ini cuma ada dua, masa dia harus tidur di kamar Kakak?" tanya Shanum


"Tidak apa apa Kak, biar Nak Arga tidur di kamar Kakak untuk sementara. Lagipula hanya untuk istirahat siang ini saja, jadi tidak masalah" ujar Bu Siti


"Tapi Buk, mmm... sebenarnya Arga juga akan menginap disini bersama kita. Apakah boleh?" tanya Shanum


"Menginap?" Bu Siti melirik Arga yang tengah mengangguk, membenarkan ucapan Shanum "Maksud Kakak, menginap di rumah ini?" tanya Bu Siti


"Iya Bu, itu juga jika di bolehkan, jika tidak nanti aku akan tidur di mobil saja, tidak apa apa" jawab Arga


"Tunggu dulu, kalian ini bicara apa?" tanya Bu Siti tak mengerti "Lagipula, seperti yang tadi Kakak katakan, bahwa rumah kita ini hanya memiliki dua kamar, lalu bagaimana bisa? Ibu tidak masalah sebenarnya jika Nak Arga tetap ingin menginap, hanya saja apa Nak Arga bisa tidur di kamar yang kecil, apalagi tidak ada kipas angin disini" ucap Bu Siti.


Bukan tanpa sebab Bu Siti berani berbicara demikian. Sebab, melihat tampilan Arga yang begitu mewah, apalagi ia sempat mendengar dari Dimas, bahwa Arga datang kemari dengan membawa mobil. Jadi bisa di pastikan jika Arga adalah orang berada, yang tidak mungkin bisa hidup sederhana seperti mereka


"Saya biasa kok Buk tidur di tempat sempit" jawab Arga


"Nak Arga yakin?" tanya Bu Siti tak percaya, dan Arga hanya menjawab dengan anggukan disertai senyum ramah