
Melihat Shanum yang kembali duduk di bangku halte, Arga juga ikut mendudukkan diri di sampingnya. Ia melepas jasnya, dan memakaikan pada Shanum saat tak sengaja sudut matanya menangkap Shanum beberapa kali mengusap lengannya sendiri "Jangan menolak atau kau akan sakit, udaranya sangat dingin" ucap Arga saat melihat pergerakan Shanum yang ingin menolaknya,
"Kenapa angkotnya masih belum datang?" monolog Shanum lirih
"Ini sudah terlalu sore Hann, angkotnya sudah lewat sejak kau belum keluar dari perusahaan tadi. Jadi bagaimana, kau tetap pada pendirianmu untuk menunggu disini, atau ikut aku, dan aku akan mengantarmu pulang" tawar Arga sekali lagi
Shanum seolah menulikan pendengarannya. Ia masih saja melirik kearah angkot biasanya datang. Namun hingga beberapa saat menunggu, angkot yang ia tunggu benar benar tidak lewat
"Sudah ayo aku antar" ajak Arga, ia bahkan sudah bangkit dari duduknya, dan kembali membuka payung. Ia segera menarik pergelangan tangan Shanum, meskipun sedikit mendapat penolakan. Setelah itu, ia membawa Shanum masuk kedalam mobil.
"Awas saja jika kekasihmu yang galak itu mempermasalahkan karena kau mengantarku pulang" ucap Shanum sembari melihat jalanan di depan sana
"Kenapa, kau takut?" tanya Arga
"Mana ada, tidak ada kata takut dalam kamus hidupku. Aku hanya tidak mau saja jika memiliki masalah dengan orang lain, apalagi jika itu menyangkut laki laki"
"Kenapa, bukankah laki laki yang kalian perebutkan setampan diriku, jadi sudah tidak apa apa" ujar Arga bangga
"Dih, percaya diri sekali"
"Aku ini memang tampan Hann, kau saja yang tidak bisa melihat ketampananku"
"Aku melihatnya, aku bisa melihat betapa tampannya kau, tapi kita berbeda. Kau adalah langit, dan aku buminya, selamanya tidak akan pernah bisa bersatu" batin Shanum
Beberapa saat mengendara, akhirnya mobil yang di kemudikan Arga tiba di depan kontrakan Shanum. Arga segera turun dengan membawa payung, dan kembali membantu Shanum untuk turun dengan mengandalkan payung kecil miliknya. Bahkan saking kecilnya, payung itu hanya mampu melindungi tubuh Shanum, sedangkan tubuh Arga justru basah sebagian
"Bukankah tadi kau juga berkendara dalam keadaan hujan, lalu apa bedanya?"
"Ya, kau benar. Tadi saja ku berkendara dalam keadaan hujan, dan semuanya tidak apa apa. Maafkan aku, kalau begitu aku pulang, selamat malam" Arga mengambil payungnya dan bersip untuk kembali masuk kedalam mobil. Namun tangannya di tahan oleh Shanum
"Ya sudah ayo masuk" ajak Shanum, ia sedikit tak tega saat mendengar nada bicara Arga yang terdengar tidak seperti biasanya
"Masuk?" tanya Arga memastikan, sebab seingatnya Shanum pernah mengatakan bahwa ia tidak boleh masuk kedalam kontrakannya
"Ya sudah kalau tidak mau" ujar Shanum jengah. Ia benar benar tidak suka mengulangi ucapannya, dan Arga bertanya dengan bodohnya akan ucapan yang telah ia lontarkan "Ini, keringkan rambutmu" Shanum menyerahkan sebuah handuk kecil pada Arga, setelahnya ia berlalu dan masuk kedalam kamar
Arga melihat seisi kontrakan Shanum. Tidak ada yang aneh, hunian ini memang cukup nyaman menurut Arga, dan yang pasti meskipun kontrakan ini terlihat kecil, akan tetapi barang barang di dalamnya tertata rapi, dan membuatnya terlihat luas. Tidak lama berselang, Shanum telah keluar dari kamar dengan membawa satu buah kemeja
"Ini, ganti pakaianmu di kamar mandi sana, atau tidak kau akan masuk angin"
Seolah terhipnotis, Arga segera meraih kemeja tersebut, dan membawanya menuju kamar mandi di ujung ruangan. Setelah selesai mengganti pakaiannya, ia kembali keluar, dan melihat Shanum yang tengah memasak sesuatu di kompor "Kau membuat apa?" tanya Arga
"Membuatkan teh hangat"
"Untukku?" tanya Arga lagi yang di jawab anggukan singkat oleh Shanum "Aku lebih suka kopi" ujarnya memberi tahu
"Aku tidak bertanya apa kesukaanmu. Aku hanya membuat teh hangat agar kau tidak masuk angin"