Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 62



Aksi tatap tatapan diantara Arga dan Shanum masih berlanjut. Keduanya menatap dengan begitu dalam. Satu hal yang Shanum sadari saat berada di dekat Arga, warna bola mata indah yang di miliki Arga, membuatnya seakan enggan untuk berpaling


"Ga..."


"Hmm..."


"Kau benar benar siap melepas masa lajangmu?"


"Maksudmu?" tanya Arga tak mengerti, sebab pertanyaan Shanum seakan mengutarakan sebuah keraguan padanya


"Menikah itu bukan hanya hitungan hari, bulan, ataupun tahun. Menikah itu adalah ibadah paling lama, yang akan kita jalani seumur hidup. Jadi, jika kau masih ingin bermain main, dan berdekatan dengan banyak wanita, maka aku harap, kita akhiri kedekatan kita sampai disini"


Arga melepas rengkuhannya pada tubuh Shanum. Tangannya beralih untuk menggenggam kedua tangan Shanum, dan mengecupnya sekilas "Usiaku sudah bukan lagi usia remaja Hann, aku benar benar siap untuk menikahimu, apa kau masih meragukanku? Aku mencintaimu, sungguh. Jadi maukah kau menikah denganku?"


Shanum tersenyum dan mengangguk dengan yakin. Sejujurnya ia tidak meragukan Arga, ia hanya mengantisipasi dengan banyaknya kasus pernikahan di masa sekarang. Dimana suami ataupun istri kerap berselingkuh, atau setidaknya mereka tetap menikmati dunia malam setelah pernikahan. Maka dari itu, Shanum ingin mendapat laki laki yang benar benar siap melepas masa lajangnya, bukan laki laki yang memilih menikah karena dorongan usia


*


Pagi kembali menjelang. Arga menggeliat dari tidurnya, dan segera meraba sisi pembaringan untuk mencari ponsel, begitu menemukan apa yang ia cari, ia membuka sedikit matanya untuk melihat jam yang tertera. Baru kemudian ia bangun saat menyadari jam sudah menunjukkan pukul enam pagi


"Pagi Mas..." sapaan ramah itu menjadi sambutan bagi Arga begitu ia keluar dari kamar Shanum


"Tidaklah, 'kan aku memang terbiasa mandi pagi. Kalau Kak Shan mungkin akan merasa dingin, karena Kak Shan jarang mandi. Jadi begitu tubuhnya kena air, maka ia akan menggigil" Dimas terkikik geli saat menceritakan kebiasaan Kakak tertuanya itu. Sedangkan Arga hanya menanggapi dengan senyum kecil


Arga segera menuju kamar mandi, dan membersihkan dirinya. Setelah itu, ia ikut bergabung bersama yang lain di meja makan untuk sarapan bersama. Mereka sarapan dengan damai dan tenang. Terasa sekali kekeluargaan diantara mereka. Begitu selesai, Dimas dan Kiyara langsung bangkit dari kursi dan hendak berangkat sekolah. Namun langkah keduanya segera di hentikan Arga


"Biar Mas antar saja" ujar Arga


"Yeay, ayo Mas" Dimas tampak sangat antusias menerima tawaran Arga. Sebab, ia memang ingin sekali merasakan naik mobil mewah milik Arga


"Nak Arga, nanti malah merepotkan. Lagipula sekolah mereka tidak begitu jauh" Ibu Siti tampaknya sedikit tidak enak karena Arga begitu baik pada mereka


"Tidak apa apa Buk, tapi aku izin bawa Shanum juga"


Shanum menghentikan kunyahannya dan menatap Arga dan Ibu Siti secara bergantian. Baru setelah itu ia mengangguk, dan ikut serta untuk mengantar kedua adiknya sekolah. Kini mereka telah siap duduk di dalam mobil. Arga dan Shanum di kursi depan, sedangkan Dimas dan Kiyara duduk di belakang. Untuk Ibu Siti sendiri, wanita itu tengah menyiapkan gorengan yang akan ia jual


"Siap semuanya?" tanya Arga


"Siap Mas, lets go" Dimas yang bersuara menjawab pertanyaan Arga, membuat semua orang hanya tersenyum