
"Apa maksud perkataan Papa?" tanya Arga, setelah sebelumnya terdiam karena ia masih tidak menyangka jika kata kata seperti itu akan keluar dari mulut sang papa. Walaupun Papa-nya adalah sosok yang irit bicara, tapi yang ia tahu, sang papa tidak akan bicara keras dengan orang lain, apalagi wanita
Tuan Rapi menghela napas kasar, ia menatap Arga dan Shanum bergantian "Papa tidak bisa menerima Shanum untuk menjadi menantu di keluarga kita. Jika kau masih bersikeras untuk bersama dengannya, maka maafkan Papa jika hanya Selfi yang akan terdaftar sebagai ahli waris keluarga kita" ujar Tuan Rapi
"Tapi kenapa Pa?" tanya Arga
"Tanyakan siapa aku pada Ibu-mu Shan..." alih alih menjawab, Tuan Rapi justru berujar pada Shanum
Ucapan Tuan Rapi berhasil membuat Shanum menatap wajah laki laki itu. Tersirat pertanyaan tentang apa maksud dari ucapan Tuan Rapi. Namun ia seolah enggan untuk bertanya lebih, dan memilih diam
"Baik jika itu mau Papa, tapi perlu Papa ingat bahwa perusahaan yang aku pimpin, berdiri tanpa campur tangan dari Papa, dan itu adalah milikku sepenuhnya. Jadi jangan pernah coba untuk mengambilnya" Arga bangkit dari duduknya, dan menggenggam tangan Shanum "Ayo kita pergi" ajak Arga
"Tapi Ga..."
"Bukankah kau meminta kepastian dariku? Jadi mari aku buktikan, dengan atau tanpa restu dari orang tuaku, aku tetap akan menikahimu" Arga menarik tangan Shanum untuk pergi dari kediaman megah keluarga besarnya. Namun Shanum terlihat enggan untuk ikut, mengingat dirinya yang sama sekali tidak di terima oleh orang tua Arga
"Ga... jangan seperti ini, kita tidak bisa menikah tanpa restu kedua orang tuamu" bisik Shanum sembari mencoba menahan langkahnya
Arga menghentikan langkahnya, dan menatap wajah Shanum. Ia tersenyum kepada Shanum, seakan mengatakan bahwa semua akan baik baik saja. Ia lantas melepas genggaman tangannya, dan beralih merangkul bahu wanita itu, dan membawanya pergi
Mobil yang Arga kemudikan benar benar pergi dari kediaman keluarga besar Argantara. Selama perjalanan, hanya ada keheningan diantara keduanya, hingga akhirnya, mobil Arga berhenti di depan kontrakan Shanum. Keduanya turun dari mobil, dan masuk kedalam
"Segera siapkan barang bawaanmu, kita akan ke kampungmu sekarang" ujar Arga sembari menutup pintu
"Untuk apa?" tanya Shanum
"Tapi, orang tuamu"
"Yang akan menikah adalah kau dan aku, bukan mereka. Jadi biarkan mereka dengan pilihan mereka, dan aku tetap dengan pilihanku. Tolong percaya padaku, bahwa semua akan baik baik saja"
Shanum masih mematung. Bagaimana bisa ia menikah dengan laki laki ini, sementara keluarga dari laki laki ini jelas menolak dirinya. Bagaimana hal ini bisa terjadi
"Kau percaya padaku bukan?"
Shanum kaget saat kesadarannya kembali. Ia menatap Arga yang tengah menggenggam tangannya, dan menatap dirinya dengan intens. Ia bahkan tidak mampu untuk berkata apapun, karena demi apapun dirinya tengah merasa gugup sekarang, dan yang mampu ia lakukan hanya mengangguk
"Kalau begitu berkemaslah, kita akan ke rumahmu hari ini juga"
Shanum berlalu menuju kamar, dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas miliknya. Setelah selesai, ia membawa tas tersebut keluar, dan menemui Arga. Arga yang melihat kedatangan Shanum, segera mengambil alih tas dari tangan Shanum, dan membawanya menuju mobil. Setelah itu ia kembali mengitari mobil, dan mempersilahkan Shanum untuk masuk
"Ga..."
"Ada apa?"
"Jangan tinggalkan Jakarta jika hatimu tidak yakin. Akan lebih baik jika kau kehilangan aku, daripada kau harus di jauhi, atau bahkan tidak di akui oleh keluargamu sendiri" ujar Shanum, entah mengapa penolakan keluarga Arga atas dirinya benar benar mengganggu pikirannya
"Sudah aku katakan, bahwa aku akan tetap memilihmu"