Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 63



Mobil mulai melaju membelah jalan kecil perkampungan tempat tinggal Shanum. Selama perjalanan ada saja suara Dimas yang terdengar berceloteh, dan menceritakan banyak hal, dan tampak sangat antusias. Tidak lama, akhirnya mobil yang di kemudikan Arga tiba di sekolah Dimas dan Kiyara. Sebuah sekolah yang cukup besar, dengan tingkat sekolah mulai dari SD sampai SMA.


"Terima kasih ya Mas" ucap Dimas


"Iya sama sama. Oh iya, tunggu sebentar" Arga mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang lima ribu kepada Dimas, dan sepuluh ribu kepada Kiyara "Ini uang jajan kalian" ucapnya


"Tidak perlu Mas, lagipula Kak Shan sudah memberi uang tadi" Kiyara menolak dengan halus, apalagi ia menyadari keberadaan sang Kakak disana, yang pasti akan marah jika mereka menerima uang dari orang lain


"Sudah, tidak apa apa, terima saja" Arga masih tetap memberikan uang di tangannya. Namun melihat Dimas dan Kiyara yang enggan menerima, membuat Arga akhirnya mengalihkan pandangannya kearah Shanum "Mereka boleh menerimanya 'kan Hann?" tanya Arga, membuat Shanum langsung mengangguk


"Terima kasih Mas, kalau begitu kami masuk dulu" Kiyara mengajak Dimas untuk masuk kedalam gedung. Namun seketika Dimas menghentikan langkahnya dan berbalik


"Mas, nanti jemput ya" bisik Dimas


"Dimas..."


Dimas meringis kecil saat melihat tatapan tajam sang Kakak tertua yang tertuju padanya. Segera ia berlari dan menyusul Kiyara yang sudah masuk kedalam sana. Sedangkan Arga hanya tersenyum kecil saat melihat Dimas yang langsung pergi setelah mendebgar suara Shanum yang tampak tidak suka


"Di daerah sini apa ada pasar?" tanya Arga sembari menjalankan mobilnya kembali


"Ada di ujung jalan sana, kenapa?"


"Kita belanja dulu ya"


"Keperluan rumah. Lagipula masa aku menginap di rumahmu tapi hanya sekedar numpang makan dan tidur, tidak tahu diri sekali aku ini"


Arga turun dari mobil setelah melihat pasar yang lumayan ramai. Ia masuk ke pasar bersama Shanum. Keduanya memilih berbagai jenis sayuran, bumbu dapur, dan tidak lupa beberapa karung beras juga turut mereka beli. Setelah selesai, mereka memilih untuk mampir di warung tenda terdekat, dan menikmati makanan ringan disana


"Ga... Kenapa kau membelikan barang sebanyak itu? Aku mana bisa membayarnya, lagipula kau juga tahu 'kan kalau aku sedang tidak bekerja sekarang, lalu aku akan dapat uang dari mana" ujar Shanum


"Tidak perlu di pikirkan"


"Iya, tapi itu tidak wajar. Aku tahu kau kaya, dan kau pasti ikhlas memberikan itu untukku dan keluargaku. Tapi aku tetap merasa tidak enak padamu, aku merasa seperti memanfaatkan dirimu"


"Kalau begitu, kita menikah saja secepatnya. Agar kegiatan seperti ini bukan lagi hal yang harus di permasalahkan, karena ini adalah nafkah dariku untukmu dan keluargamu"


Shanum kembali menghela napas berat. Selalu saja, Arga membuat pernikahan menjadi alasan di balik segala kebaikannya "Baiklah kalau begitu, aku bersedia menikah denganmu agar kami tidak perlu lagi harus meminimalisir makan agar yang lain kebagian"


Seketika Arga menoleh dan tersenyum dengan begitu tulus "Kau serius?"


"Tentu saja"


"Tapi kalian semua hebat. Kalian mampu berdamai dan hidup saling mengasihi di tengah keterbatasan. Bahkan, Dimas yang masih anak anak saja sudah mengerti cara menghargai, dan mementingkan orang lain selain dirinya sendiri. Ajaran Ibu pasti sangat luar biasa pada klian" ucap Arga, ia teringat dengan Dimas dan Kiyara yang sengaja makan sedikit agar Shanum dan Ibu Siti juga bisa menikmati makanan yang mereka makan, dan hal itu membuat Arga begitu kagum pada mereka semua