
Tuan Rapi terdiam saat mendengar pernyataan Arga. Benarkah sebegitu menderitanya mantan Adik Iparnya selama ini. Lalu benarkah keputusan yang ia ambil beberapa tahun yang lalu, sebuah keputusan yang akhirnya membuat Shanum kehilangan hak-nya atas segala kekayaan keluarga Argantara
Tuan Rapi mengusap wajahnya kasar, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Jujur saja, ia tidak pernah membenci Ibu Siti dan Shanum, yang ia benci hanya Harun, sang adik angkat yang tidak tahu diri. Namun tanpa sadar, ternyata dirinya telah berbuat begitu jahat, bahkan kekeliruan terbesar telah ia lakukan selama bertahun tahun. Ia memakai segala fasilitas dan kemewahan keluarganya, tanpa sadar jika sebenarnya apa yang ia nikmati, sudah sepatutnya ia bagi kepada orang lain. Terutama kepada Shanum yang hak-nya telah ia rampas
"Apakah Papa masih bisa mengatakan bahwa semua ini adil?"
Pertanyaan Arga membuat Tuan Rapi kembali tersadar. Ia menatap Arga dengan mata yang sudah berkaca kaca. Air mata yang selama ini tidak pernah keluar, tanpa terasa keluar begitu saja hanya karena mendengar cerita sang putra tentang hidup Shanum dan keluarganya.
"Apa Papa masih berkeras hati dan mengatakan bahwa apa yang mereka alami saat ini adalah hal yang pantas karena telah membunuh Kakek dan Nenek? Jika iya, maka mereka telah menebus segalanya. Mereka telah hidup dalam kesengsaraan selama dua puluh dua tahun lamanya, dan aku rasa, itu sudah cukup menjadi hukuman atas segala kesalahan yang Ayah mereka perbuat, dan sekarang, maukah Papa berbaik hati dan menemui mereka untuk meminta maaf?"
*
Di sinilah keluarga itu berada saat ini. Berdiri dengan mata berkaca kaca dan memandang kediaman yang selama ini Shanum dan keluarganya tinggali. Lagi lagi rasa sesak menghimpit dada Tuan Rapi dan Nyonya Brianna saat melihat hunian yang jauh dari kata layak itu. Mereka masih diam di tempat semula, hingga akhirnya pintu rumah yang sudah tampak reot itu mulai terbuka
"Mas..." sapa Dimas heran, sebab di sana bukan hanya ada Arga, tapi juga ada tiga orang asing yang tidak ia kenali
Arga mendekat pada Dimas, dan sedikit menundukkan tubuhnya "Apa Ibu dan yang lain sudah tidur?" tanya Arga
Menyadari tatapan Dimas, Arga kembali menegakkan tubuhnya, dan tersenyum "Mereka semua adalah keluarga Mas, apa mereka boleh masuk?"
Meski tidak mengerti sepenuhnya. Namun Dimas menjawab pertanyaan Arga dengan anggukan. Ia membuka pintu rumahnya, dan membiarkan Arga bersama keluarganya untuk masuk
Begitu masuk ke dalam, Nyonya Brianna melihat segalanya dengan tatapan nanar. Sebuah rumah kecil, dengan bahan dasar yang berupa seng berkarat memenuhi rumah ini. Bahkan di sudut sana hanya terdapat beberapa kursi kayu yang sudah tampak sangat usang, dan ruangan yang saat ini mereka tempati hampir tidak memiliki sekat dengan dapur kecil yang terlihat di pandangan Nyonya Brianna. Terdapat kompor minyak, dan neberapa peralatan memasak di sana
"Itu Bu, kata Mas Arga keluarganya..."
Terdengar suara Dimas yang semakin dekat. Bahkan langkah dua pasang kaki yang mendekat membuat dada Nyonya Brianna kian berdebar. Saat ini ia menundukkan kepalanya dan tidak berani untuk menatap wajah seseorang yang datang bersama Dimas
Sama hal-nya dengan Nyonya Brianna. Ibu Siti yang baru memasuki ruangan depan juga ikut terkejut saat melihat wajah dua orang yang sangat ia kenali. Ya, dua puluh dua tahun terpisah tidak membuat Ibu Siti melupakan dua wajah itu. Karena mereka berdua merupakan Kakak angkat dari suaminya, yang berarti kedua orang ini adalah Kakak Iparnya
"Apa kabar Mba?"