
Seperti yang sudah Arga katakan sebelumnya, bahwa ia akan membawa Shanum untuk mengunjungi tanah kelahiran wanita tersebut. Mobil telah berhenti di depan sebuah rumah sederhana, yang dindingnya hanya tertutupi seng seng bekas. Arga menatap rumah kecil itu dengan perasaan yang tidak bisa ia gambarkan
"Kau masih bisa membatalkan semuanya jika kau berubah pikiran" ujar Shanum saat melihat tataan Arga terhadap rumahnya. Ia segera turun dari mobil, tanpa menunggu Arga lagi. Begitu turun dari mobil, terlihat anak laki laki yang mungkin berusia sebelas tahun menunggunya di depan pintu, dia adalah Dimas, adik laki lakinya
"Kakak..." seru Dimas
Shanum mempercepat langkahnya untuk mendekati Dimas. Begitu ia tiba di hadapan Dimas, segera di rengkuhnya tubuh anak laki laki tersebut dalam pelukan. Baru satu bulan terpisah, tapi kerinduan benar benar merasuki jiwa Shanum
Dimas melepas rengkuhan sang Kakak, dan menatap ke belakang sana. Terlihat mobil mewah yang sejak tadi membuat berbagai pertanyaan dalam benaknya. Karena, selama ini tidak pernah ada mobil yang memasuki kawasan rumah mereka, apalagi jika sampai berhenti di depan rumahnya. Apalagi, kalau ia tidak salah melihat, tadi Kakaknya turun dari mobil mewah itu
"Kak... itu mobil siapa?" tanya Dimas
Shanum melirik ke belakang, dimana Arga masih berada di dalam mobil yang di tunjuk Dimas. Kemudian, ia kembali menatap wajah Dimas, dan tersenyum "Itu mobil teman Kakak"
"Tadi Kak Shan di antar dengan mobil itu?" tanya Dimas, yang langsung saja dijawab anggukan oleh Shanum "Lalu dimana teman Kakak, aku ingin mengucapkan terima kasih padanya karena sudah mengantar Kakak sampai ke rumah" ujar Dimas
"Tidak Dim, nanti biar Kakak saja yang sampaikan. Bisa tolong kau bawakan tas Kakak untuk masuk? Kakak akan bicara sebentar dengan teman Kakak"
Meski sedikit tidak rela, akhirnya Dimas mengangguk, dan mengambil alih tas dari tangan sang Kakak. Sedangkan Shanum, setelah Dimas menghilang dibalik pintu, ia kembali menemui Arga yang masih belum keluar dari mobil. Di ketuknya kaca mobil, hingga terlihat wajah Arga yang kini tengah menatapnya
"Kalau kau mau pulang, pulang saja tidak apa apa"
Shanum tersadar dari pikirannya yang sempat berkelana. Ia segera menyusul langkah Arga yang hampir menggapai pintu. Begitu tiba di pintu, Shanum segera membuka pintu, dan terlihat Dimas yang tengah menyapu ruang tengah
"Assalamu'alaikum" salam Shanum
"Wa'alaikum salam" jawab Dimas, ia meletakkan sapu yang di pegangnya, dan berjalan mendekati sang Kakak "Ini teman yang Kakak bilang tadi?" tanya Dimas, sembari menunjuk Arga
"Iya, perkenalkan, aku temannya Kak Shanum, panggil saja Mas Arga" ujar Arga ramah
"Hai Mas..." sapa Dimas
"Ibu dan Kak Kiyara dimana Dim?" tanya Shanum saat tidak mendapati ibunya di rumah
"Ada Kak, Ibu lagi di halaman belakang memanen sayuran, Kak Kiyara juga membantu Ibu tadi. Tunggu sebentar, aku sampai lupa untuk mengatakan pada Ibu bahwa Kakak sudah tiba, Kakak tunggu di kursi saja bersama Mas Arga" ujar Dimas
Arga mendudukkan dirinya pada kursi kayu yang tampak usang di ruangan itu. Sedangkan Shanum memilih menuju dapur untuk mengambil air putih. Tidak Lama, ia kembali keluar dan bergabung bersama Arga kembali.
"Silahkan di minum, tapi maaf disini hanya ada air putih. Karena di rumah ini tidak ada yang minum kopi ataupun teh"
"Tidak apa apa" Arga meraih cangkir yang sudah terisi air putih dan menegaknya hingga tandas