
Sesuai pembicaraan antara Arga dan Dimas beberapa saat lalu. Saat ini, keduanya tengah berada di jalan yang sedikit jauh dari rumah keluarga Shanum untuk mencari barang bekas. Berbagai jenis botol, bekas minuman minuman soft drink, dan lain lain, menjadi target pencarian keduanya.
"Apa sudah banyak?" tanya Arga sembari mengintip isi dari karung yang di panggul Dimas
"Baru sedikit Mas, paling kalau di jual hanya dapat uang berkisar lima ribu rupiah" jawab Dimas
"What? Lima ribu rupiah, barang sebanyak ini?" tanya Arga tak percaya, sebab barang barang yang mereka peroleh sudah cukup banyak menurut Arga, apalagi kakinya juga cukup pegal karena sedari tadi mengikuti langkah Kaki Dimas
"Iya, kenapa, Mas Arga capek? Kalau capek, kita istirahat saja dulu" ajak Dimas
"Ya sudah, kita istirahat dulu, setelah itu lanjut lagi cari barang bekasnya" ucap Arga menyetujui
Arga melihat sekeliling tempat mereka, terdapat sebuah warung kecil di seberang jalan sana, dan tanpa kata, Arga segera menuju warung tersebut, meninggalkan Dimas. Tidak berselang lama, ia kembali menemui Dimas yang terduduk di pinggir jalan, dengan membawa dua botol minum, dan beberapa snack. Ia kemudian memberikan jajanan dan minuman tersebut pada Dimas, yang langsung saja diterima Dimas
"Terima kasih ya Mas"
"Iya sama sama" Arga ikut menegak minumannya, sembari mengelap keringat, sebab cuaca hari itu terasa cukup terik meskipun hari mulai beranjak sore "Setiap hari, apa cuaca disini se-panas ini?" tanya Arga
"Kadang kadang Mas. Kadang panas, kadang hujan, tidak tentu"
"Kau memang tidak pernah membawa minum dari rumah?" tanya Arga, sebab Dimas berangkat hanya dengan membawa sebuah karung yang berukuran cukup besar
"Tidak pernah Mas, soalnya kalau aku membawa minum dari rumah, takut Ibu dan Kak Kiyara curiga"
Arga mengangguk membenarkan, sebab ia juga ingat jika tadi Dimas mengatakan bahwa Ibu dan Kakak Kakaknya tidak akan mengizinkannya pergi jika tahu apa yang ia lakukan "Berarti, kau selalu membeli air minum di warung terdekat kalau haus?" tanya Arga
"Lalu bagaimana jika kau merasa haus?" tanya Arga penasaran
"Aku tahan sampai pulang nanti"
"Tidak tersiksa?"
"Tersiksa sih, tapi mau bagaimana lagi, aku 'kan tidak punya uang. Kalau mau hutang, takut di marah kak Shan, Kak Shan 'kan Kakak paling galak nomor satu di dunia"
Arga tersenyum mendengar gelar yang di berikan Dimas pada Shanum. Memang benar, Shanum merupakan wanita paling galak di dunia ini, dan pastinya paling susah juga untuk di takhluk 'kan. Arga meminum air-nya kembali, dan menatap di depan sana, rasa lelah karena berjalan cukup jauh, membuat Arga merasa badannya seperti di jatuhkan dari gedung tingkat tinggi dan jatuh menimpa tanah keras
"Kalau Kakak dan Ibu-mu tahu jika kau suka mencari barang bekas, bagaimana?" tanya Arga
"Tidak bagaimana bagaimana, paling dimarahi" Dimas kembali terkekeh membuat Arga juga ikut terkekeh "Mas sudah cukup istirahatnya, atau masih kurang?" tanya Dimas
"Sepertinya cukup, ada apa?"
"Kita lanjut lagi ya, takutnya kita pulang terlalu sore, malah membuat Kakak dan Ibu curiga"
"Oh baiklah, ayo"
Arga kembali berjalan bersama Dimas menuju tempat penampungan barang bekas. Sepanjang jalan, ia ikut memunguti beberapa barang bekas yang bisa di daur ulang untuk di jual. Tentunya untuk menambah penghasilan Dimas, si anak bungsu yang begitu kuat