
"Bawakan segelas susu ke ruanganku sekarang" ucap Arga melalui sambungan interkom-nya. Tidak lama, terdengar pintu ruangan yang di ketuk
"Kau ambil susunya dan langsung berikan padaku dengan mesra" perintah Alina pada Arga
"Sure" tanpa bantahan, Arga segera beranjak dari kursinya dan membuka pintu, terlihat Shanum yang berdiri di depan sana dengan segelas susu hangat di tangannya "Terima kasih Hann..." Arga meraih susu tersebut dan berbalik mendekati Alina tanpa menutup pintunya "Sayang, ini susu untukmu"
"Terima kasih Sayang" jawab Alina, ia segera meraih susu hangat tersebut dan meminumnya. Sesekali matanya tampak menatap ke pintu ruangan, dapat ia lihat jika Shanum masih berada di depan sana. Tiba tiba ide gila muncul di kepala Alina "Sayang, aku merindukanmu..." ucapnya manja sembari terus melirik ke pintu ruangan, memastikan jika Shanum dapat mendengar ucapannya
Sedangkan Arga yang mendengar ucapan Alina hanya membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka jika Alina akan menggodanya seperti ini. Ia hendak melayangkan protes, tapi saat melihat kedipan mata Alina, ia jadi mengerti jika Alina tengah menjalankan perannya saat ini
"Aku juga merindukanmu" jawab Arga menahan senyum geli "Sebentar, aku akan menutup pintu dulu" Arga berjalan menuju pintu dan hendak menutupnya, barusaja ia meraih daun pintu, terdengar suara benturan yang cukup kuat dari arah luar
"Hann, ada apa denganmu?" tanya Arga, ia hendak melangkah mendekati Shanum yang masih tersungkur. Namun langkahnya segera di hentikan oleh suara manja Alina
"Sayang, kenapa lama sekali?"
Arga melirik kearah Alina yang tersenyum menggoda kearahnya. Kemudian, terlihat Alina berjalan mendekatinya dan mengamit lengannya dengan mesra. Arga tidak bisa berbuat banyak saat tangan Alina dengan cekatan menutup pintu ruangan
"Lin, Hanna tadi terjatuh, aku harus menolongnya" ucap Arga, berusaha melepas lengannya dari tangan Alina
"Biarkan Ga, ingat, kita harus tetap menjalankan rencana kita. Atau kau tidak akan mendapatkan jawaban atas rasa cintamu padanya"
"Apakah ini tidak kererlaluan? Dia terjatuh tadi"
"Dia hanya terjatuh ringan, sudah biarkan saja. Sekarang kau kerjakan pekerjaanmu, dan aku akan tidur. Bye" Alina berjalan santai menuju sofa dan mebaringkan tubuhnya disana.
Tanpa menghiraukan Alina, Arga kembali membuka pintu ruangannya, dan melihat keadaan Shanum yang ternyata sudah tidak ada lagi disana. Ia segera berjalan cepat menuju pantry, karena ia yakin jika saat ini Shanum pasti berada disana. Melihat Arga yang mengabaikan ucapannya membuat Alina menghela napas kasar, dan dengan menahan kantuk, ia mengikuti langkah Arga menuju pantry
Shanum sedikit kaget mendapati keberadaan Arga di depannya. Apalagi di sana tidak hanya ada Arga, tapi juga ada wanita yang tadi dengan manjanya mengatakan merindukan Arga. Entah mengapa, mengingat akan nada manja yang tadi wanita itu ucapkan, membuat Shanum mengepalkan tangannya menahan emosi
"Hann, biar aku obati lukamu" ucap Arga saat mendapati Shanum hanya diam. Tanpa persetujuan, ia segera menunduk hendak meraih kaki Shanum. Namun suara Alina menghentikan pergerakannya
"Sayang, apa yang kau lakukan?" tanya Alina
Arga kembali menegakkan tubuhnya, dan melihat Alina yang tersenyum hangat kearahnya. Bahkan Alina tanpa sungkan mengamit lengan Arga di hadapan Shanum. Membuat Arga merasa panas dingin karena melihat tatapan tajam yang di tunjukkan Shanum dan Alina
"Lin, ti... tidak, aku tidak melakukan apa apa" ucap Arga
"Benarkah, tapi tadi aku melihatmu begitu perhatian padanya, bahkan hendak mengobati kakinya. Ada apa ini sebenarnya, kalian bermain api di belakangku?" tanya Alina, dengan tatapan tajam
"Tidak, aku hanya ingin mengobati kakinya karena dia tadi terjatuh"
"Lalu apa pedulimu, bukankah dia hanya bawahanmu, jadi kau tidak perlu menunjukkan kepedulian yang terlalu besar padanya, atau dia akan besar kepala nanti"
Shanum bangkit dari kursinya saat mendengar ucapan Alina yang terkesan merendahkannya "Saya memang hanya karyawan Nona, tapi itu bukan berarti membuat anda memiliki kebebasan untuk merendahkan saya"
"Hei, kau berani menjawab ucapanku" Alina melangkah maju dan hendak menarik rambut Shanum. Namun belum saja tangannya menyentuh Shanum, Shanum sudah lebih dulu memlintir tangannya ke belakang hingga membuatnya menjerit
"Lepaskan" berontak Alina. Ia segera mengambil ancang ancang untuk melepaskan tngannya dari cekalan Shanum, ia memutar tubuhnya dan melepas cekalan Shanum dengan begitu kasar "Kau! Kau berani melawanku" ucapnya nyalang "Sayang, aku mau kau pecat dia" adunya dengan manja kepada Arga membuat Shanum yang mendengar hanya memasang wajah jengah.
"Sudah, ayo aku akan obati tanganmu di ruangaku" timpal Arga, dan membawa Alina untuk pergi
"Tapi Sayang..."