
Shanum telah tiba di kontrakannya. Ia turun dari mobil Arga, dan langsung masuk kedalam kontrakannya. Setelah mengunci pintu, Shanum mengintip dari balik gorden jendelanya. Terlihat Arga yang mulai menjalankan mobilnya menjauh
"Andai kau bukan orang kaya" lirih Shanum
Shanum menuntun langkahnya menuju kamar, melepas dress, dan mengambil handuk. Ia segera menuju kamar mandi, membersihkan make-up yang sejak tadi membuat wajahnya terasa sangat kencang, dan hal itu membuat Shanum tidak nyaman. Mungkin, karena tidak terbiasa
Selesai membersihkan diri, Shanum segera mengenakan piyama. Kemudian ia memilih mengambil sebuah buku di laci nakas di samping ranjangnya, dan menyamankan diri dengan duduk diatas ranjang. Shanum sedikit melamun, membayangkan sesuatu yang tanpa sadar membuat senyumnya mengembang. Ia lantas mulai membuka buku miliknya, menuliskan rangkaian kata demi kata yang terlintas dalam benaknya
Andai kau adalah lautan, maka aku ingin memiliki perahu untuk bisa melihat segala keindahanmu. Tapi sayangnya, jika benar kau adalah sebuah lautan, mungkin aku akan memilih mundur ke tepian, sebab aku tidak bisa berenang, dan aku takut perahuku akan tenggelam
Shanum menghela napas kasar. Ia kembali menutup buku tersebut, dan meletakkannya di tempat semula. Ia beralih mengambil ponsel miliknya, dan membuka layanan pencarian. Entah mengapa, Shanum seakan tertarik untuk tahu tentang hidup laki laki yang saat ini dekat dengannya itu. Beberaa saat menunggu, akhirnya ia menemukan beberapa artikel yang memuat tentang Arga
"Jadi dia sudah tua?" monolog Shanum saat melihat usia yang tertera pada layar ponselnya menunjukkan angka tiga puluh tahun "Laki laki hebat, dia pasti di gilai banyak wanita. Andaikan aku memiliki keberanian, mungkin aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekatinya, tapi status sosial membuatku sadar diri"
Shanum menggelengkan kepala demi mengahalau segala pikiran hang sempat ia pikirkan. Ia lantas meletakkan ponselnya, dan memilih berbaring. Besok ia akan kembali bekerja, setidaknya hal itulah yang membuatnya memilih untuk tidur
*
"Selamat pagi Pak" sapa Shanum sembari membawa satu cangkir kopi kedalam ruangan atasannya
"Pagi Hann, terima kasih" ucap Arga, pekerjaan yang cukup menumpuk membuatnya benar benar serius dalam pekerjaannya pagi ini
Waktu berlalu begitu cepat. Shanum melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan jam istirahat. Ia segera keluar dari pantry dan menuju lift, tujuannya saat ini adalah kantin perusahaan. Ia akan mengisi stamina untuk melanjutkan pekerjaan hingga jam kerjanya selesai. Namun barusaja beranjak hendak menuju lift, ponselnya berdering
"Siapa ini?" monolog Shanum saat merasa tidak mengenal nomor yang saat ini menghubunginya, ia memilih menolak panggilan tersebut. Namun barusaja hendak menyimpan ponselnya, ponsel tersebut kembali berdering, membuat Shanum mengangkat panggilan dengan malas "Halo..."
"Ke ruanganku sekarang!"
Tut
Panggilan yang di matikan secara sepihak membuat Shanum geram. Ia mengenali suara yang barusaja ia dengar, dan itu tidak lain adalah suara atasannya, Arga. Dengan terpaksa Shanum melangkahkan kakinya menuju ruang kerja sang atasan
"Permisi Pak"
"Masuk"
Shanum membuka pintu kokoh ruangan atasannya tersebut. Terlihatlah Arga yang duduk di sofa panjang disana. Shanum melangkah mendekati Arga yang kini membelakanginya
"Bapak memanggil saya?"