Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 29



"Iya, duduklah Hann" ucap Arga


Shanum berjalan pelan, dan duduk di sofa panjang, berhadapan dengan Arga. Ia melirik diatas meja yang menjadi perantara antara dirinya dan Arga. Terdapat dua bungkus makanan dengan logo yang Shanum tahu, bahwa itu adalah makanan mahal


"Kau belum makan bukan?" tanya Arga


"Belum Pak, saya baru akan ke kantin tadi, tapi Bapak meminta saya kemari"


"Iya, aku yang memintamu kemari" Arga mengangguk singkat "Mmm Hann, sebenarnya ku memintamu kemari untuk mengajakmu makan siang bersama, tapi sebelum itu aku ingin mengatakan sesuatu yang serius padamu"


Shanum mengernyitkan dahinya. Atasannya ini tidak sedang berhadapan dengan berkas berkas menumpuk, tapi mengapa wajahnya terlihat begitu serius. Wajahnya tidak terlihat bercanda seperti biasanya


"Ada apa Pak?" akhirnya pertanyaan itu Shanum ucapkan


"Apa boleh saya mengenalmu? Maksudku, aku ingin mengenal dirimu secara keseluruhan. Tentang dirimu, makanan yang kau sukai, sesuatu yang tidak kau sukai, atau apapun itu" ujar Arga


"Maksud Bapak?" Shanum sedikit menangkap arah pembicaraan Arga. Namun dirinya tidak mau asal menyimpulkan, akan lebih baik baginya jika bertanya terlebih dahulu


Arga menghela napasnya, dan menatap Shanum dengan intens "Aku tertarik untuk mengenalmu Hann, bukan sebagai bos pada bawahannya, tapi sebagai laki laki dengan sebuah ketertarikan pada wanita. Aku menyukaimu"


Deg


Apa ini? Apa yang barusaja Shanum dengar bagai sebuah halusinasi yang melintasi kepalanya. Bukankah baru tadi malam ia menyadari bahwa dirinya tertarik dengan pribadi Arga yang begitu dewasa. Hari ini, Arga juga ikut mengatakan ketertarikannya pada dirinya. Shanum tidak tahu mengapa, tapi yang jelas dadanya sedikit berdebar, mendapati kenyataan ini


"Pak... saya tidak tahu apakah Bapak serius atau tidak, tapi terlepas dari itu semua, saya ingin mengatakan bahwa saya tidak bisa, saya tidak mengizinkan anda untuk mengenal diri saya lebih dalam"


"Katakan alasanmu menolakku" ujar Arga santai, meski sebenarnya hatinya sedikit merasa nyeri saat gadis incarannya justru menolak dirinya


"Saya tidak memiliki alasan apapun untuk menolak anda Pak, tapi yang pasti saya tidak bisa bersama anda"


Dada Shanum bergemuruh hebat. Dalam waktu singkat, ia sudah memikirkan jawaban tepat yang akan ia ucapkan, dan jawaban itu seakan meluncur begitu saja tanpa bisa ia cegah. Sesuai yang ia ucapkan tadi malam, bahwa status sosial yang begitu berbeda, menjadi alasan utama untuknya tidak berharap lebih pada Arga, atau laki laki manapun yang memiliki status sosial tinggi


"Apa kau tidak ingin meminta waktu untuk memikirkan jawaban atas pertanyaanku?" tanya Arga sedikit berharap


"Maaf Pak"


Arga menarik napas panjang, dan mengeluarkannya secara perlahan. Entahlah, pada awalnya dirinya tertarik hanya karena sebuah obsesi, dan merasa bahwa Shanum memiliki paras yang mirip dengan Hanna, mantan pacarnya. Namun kini semua itu seakan berubah haluan. Arga tidak mengerti apa yang ia rasakan, tapi ia yakin jika ini bukan lagi sebuah obsesi, ini adalah kenyataan yang baru ia sadari


"Ya sudah, makanlah" Arga menggeser satu porsi makanan ke hadapan Shanum, Shanum segera menerima pemberian Arga "Mau kemana?" tanya Arga saat melihat Shanum hendak beranjak


"Saya akan makan di pantry Pak"


"Makanlah disini bersamaku, aku tidak biasa makan sendiri" ujar Arga


Shanum terlihat ragu. Namun akhirnya ia kembali duduk dan mulai membuka makanan miliknya. Begitu ia membuka, benar dugaannya bahwa makanan yang diberikan Arga terlihat begitu lezat. Shanum segera menyantap makanan tersebut bersama Arga, meskipun sebenarnya masih ada sedikit kecanggungan yang ia rasakan setelah menolak Arga