Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 23



Mobuil yang Arga kendarai tiba didepan sebuah rumah minimalis. Ia segera turun dari mobil, dengan diikuti oleh Shanum. Arga segera melangkah mendahului, tiba didepan pintu, ia segera mengeluarkan kunci dari saku jas-nya, dan membuka pintu kayu itu


"Bagaimana, kau suka?" tanya Arga


"Maksud Bapak?"


"Ini adalah rumahmu Hann, aku sudah membeli rumah minimalis ini untukmu, karena aku tahu kau tidak akan mau menerima jika rumah yang aku berikan berukuran besar, dan aku harap dengan ukuran rumah yang minimalis, kau mau menerima pemberianku"


"Bapak bermaksud merendahkan saya dengan harta kekayaan yang Bapak miliki? Dengar baik baik Bapak Argantara yang terhormat, saya tidak butuh uang anda sedikitpun, jadi harap jaga sikap anda pada saya" Shanum sudah melupakan janjinya pada dirinya sendiri untuk menahan emosi, karena nyatanya saat ini ia tengah meluapkan amarahnya pada Arga, Karena ia merasa apa yang Arga lakukan telah membuat harga dirinya jatuh


"Tidak, Hanna aku sungguh tidak berniat merendahkanmu, kau dengar bukan bahwa kau menempati tempat istimewa di hatiku, itulah sebabnya aku menghadiahkan rumah ini untukmu" ujar Arga


Shanum tidak lagi mendengarkan perkataan Arga. Yang ia lakukan sekarang justru segera pergi dengan tergesa dari rumah yang Arga berikan padanya. Ia tidak peduli jika pada akhirnya Arga akan memecatnya karena berlaku tidak sopan.


Ia memang orang miskin, tapi harga dirinya jauh lebih tinggi dari apapun. Diberikan rumah secara cuma cuma tanpa ada yang ia perbuat rasanya akan sangat aneh, dan hal itu membuat harga diri yang ia junjung menjadi runtuh. Dadanya bahkan bergemuruh hebat hanya karena perlakuan Arga yang memperlakukannya semaunya


"Tapi secara tidak langsung, anda sudah membuat saya tersinggung. Anda seakan menyadarkan saya akan ketidakmampuan saya untuk mencari tempat berlindung untuk diri saya sendiri, anda membuat saya sadar, seberapa tidak berdayanya saya, dan saya sangat membenci semua itu. Mulai hari ini, saya tidak akan bekerja lagi di perusahaan anda, anggap kita tidak pernah mengenal sebelumnya, dan jangan pernah dekati saya dengan alasan apapun"


"Hann, tidak seperti itu, kau lupa bahwa kau masih berhutang padaku. Aku sudah memberimu uang gaji untuk bulan ini, dan hal itulah yang membuat aku tidak akan mengizinkanmu untuk resign dari perusahaanku"


Shanum menghentikan langkahnya. Ia kembali membalik tubuhnya, dan melihat Arga dengan tatapan garangnya. Ia memejamkan mata, dan menghela napas berulangkali untuk mengurai perasaan marah yang menguasai hatinya


"Tolong izinkan saya mencicil hutang saya pada Bapak. Lima bulan, saya akan melunasi hutang saya pada Bapak lima bulan lagi. Tapi tolong lepaskan saya, saya tidak bisa bekerja dalam tekanan orang lain. Saya mohon" Shanum menangkupkan kedua tangannya, ia rela melakukan ini agar bisa terbebas dari jeratan Arga. Daripada dirinya harus terus menerus merasa harga dirinya di rendahkan


"Tidak Hann, aku tidak mau di cicil. Jika kau memiliki uang, maka bayarlah secara cash sekarang juga. Atau jika tidak, habiskan waktu satu bulan untuk bekerja di perusahaanku. Setelah itu, kau bebas menentukan pilihanmu"


Sesuai rencana awal. Ya, awalnya Shanum sudah berpikir untuk menghabiskan waktu satu bulan untuk bekerja di perusahaan Arga. Setelah itu, ia akan pergi dari hidup laki laki itu.


Karena jujur saja ia benar benar merasa terganggu dengan sikap menyebalkan Arga. Setelah melihat bagaimana Arga yang memberinya sebuah rumah dengan cuma cuma, membuat sesuatu dalam dirinya Shanum kembali meronta tidak terima, dan ia memutuskan untuk segera pergi dari hidup laki laki itu se-segera mungkin. Namun kini, ia harus menerima tawaran Arga untuk benar benar menghabiakan waktu satu bulan untuk melunasi hutangnya, dan ia akan melunasi hutang yang menjeratnya itu secepat mungkim.