
Selesai membuat teh, Shanum membawa teh tersebut ke ruang depan dimana Arga berada. Shanum ikut mendudukkan dirinya di samping Arga dengan menghidangkan secangkir teh yang tadi ia bawa "Di minum"
"Terima kasih" Arga meraih teh buatan Shanum, dan meminumnya "Kau tidak ada niat untuk pulang kampung?" tanya Arga
"Tidak"
"Kenapa?"
"Mungkin beberapa hari lagi aku akan pulang. Kenapa memangnya?" tanya Shanum
"Tidak, aku hanya bertanya saja"
"Sudahlah, tidak perlu banyak tanya. Lebih baik, kau habiskan teh ini, setelah itu silahkan pergi karena aku mau istirahat" ujar Shanum
"Kau jahat sekali, setidaknya biarkan aku berada di kontrakanmu sedikit lebih lama, memangnya kau tidak kasihan jika aku pulang dengan keadaan hujan begini"
"Terserah kau saja" Shanum bangkit dari duduknya, dan menuju kamar. Tidak lama, ia kembali keluar dari kamar dengan membawa satu buah bantal "Pakailah" ucapnya sembari menyerahkan bantal tersebut pada Arga
Dengan senang hati, Arga segera meraih bantal pemberian Shanum, kemudian merebahkan dirinya di lantai yang sudah beralaskan tikar. Ia menatap langit langit kontrakan Shanum, terkadang juga sedikit mencuri pandang pada Shanum. Namun begitu Shanum menyadari, ia akan berpura pura tidak melihat
"Hann..."
"Hm..."
"Kontrakanmu aman 'kan?"
Shanum mengernyitkan dahi saat mendengar pertanyaan Arga. Ia bahkan sudah memasang sikap waspada jika sewaktu waktu Arga berani macam macam padanya "Ada apa memangnya?" tanya Shanum
"Tidak masalah, kontrakanku cukup bebas. Hanya saja jika sampai mereka mengetahui adanya perbuatan tidak senonoh, maka mereka akan menikahkan secara paksa" ujar Shanum, nampaknya ia sudah sedikit mengerti tentang pertanyaan Arga
"Memang ada yang ketahuan berbuat semacam itu disini?" tanya Arga penasaran
"Ada, baru kemarin kejadiannya, dan pasangan itu akhirnya di nikahkan satu jam setelah kejadian. Kenapa memangnya?"
"Tidak, aku jadi berniat menjebakmu saja agar berdua denganku, dan menimbulkan asumsi orang lain terhadap kita, supaya kita juga bisa di nikahkan" ujar Arga dengan tersenyum jahil
"Kau jngan macam macam, atau aku akan menendangmu dari kontrakanku" ancam Shanum
Arga tersenyum mendengar ancaman Shanum. Ia bangkit dari posisi baringnya, dan kembali duduk di samping Shanum. Sekali lagi, ia meminum teh buatan Shanum yang sudah mulai dingin
"Hann..." Arga melirik Shanum yang kini juga menatapnya "Aku tidak tahu apa tanggapanmu tentang keseriusanku, tapi yang perlu kau tahu, aku benar benar serius dengan mengatakan bahwa aku menyukaimu, bahkan saat ini aku rasa aku sudah mulai mencintaimu"
"Tapi aku juga sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak bisa" jawab Shanum
"Boleh aku tahu alasan yang sebenarnya kenapa kau selalu menolakku?" tanya Arga
"Aku sudah pernah mengatakan..."
"Aku tidak percaya dengan semua alasan yang pernah kau katakan" potong Arga saat Shanum lagi lagi akan mengucapkan alasan tidak masuk akal menurutnya "Bolehkah aku melihat sisi dewasa dirimu malam ini, seorang wanita dewasa yang menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang sebenarnya. Aku tahu selama ini kau hanya beralasan"
Shanum diam, apakah ia benar benar harus mengatakan alasannya yang sebenarnya. Alasan mengapa ia menolak Arga selama ini. Tapi mengapa rasanya sangat sulit, ia takut akan membuat Arga berada pada tempat yang sulit, terlebih dengan adanya wanita angkuh yang siang tadi bersama Arga, membuat Shanum benar benar berniat untuk tidak mengatakan alasannya sebenarnya
"Hann..."