Shanum Hanania

Shanum Hanania
Bab 55



Arga mengikuti langkah Shanum menuju kamar milik Shanum. Begitu masuk, terlihat adanya ranjang kecil di dalam sana. Arga meneliti setiap bagian kamar milik Shanum, hingga tatapannya berhenti pada sebuah boneka usang berwarna cokelat yang berada diatas ranjang


"Kau bisa tidur disini untuk nanti malam" ujar Shanum, ia lantas berjalan menuju ranjang, dan mengambil satu buah kipas, lalu memberikannya pada Arga "Sesuai yang Ibu bilang bahwa rumah kami tidak memiliki pendingin ruangan, jadi kalau kau merasa panas, maka gunakanlah kipas ini"


Arga menerima kipas pemberian Shanum, dan langsung memakainya. Sebab, udara yang cukup terik membuat Arga benar benar merasa gerah. Ia berjalan melewati Shanum, dan membuka jendela kecil yang ada di dinding, dan langsung membukanya. Hingga akhirnya, udara yang semula terasa begitu panas, perlahan mulai berubah menjadi lebih sejuk karena semilir angin yang masuk


"Kau istirahatlah dulu, aku akan keluar" ujar Shanun


"Hann, tunggu" cegah Arga


"Ada apa lagi?"


"Kalau aku tidur disini, lalu kau akan tidur dimana?" tanya Arga


"Kamar Ibu sedikit lebih luas daripada kamar ini, nanti biar aku tidur bersama Ibu saja" jawab Shanum


"Lalu, Dimas dan Kiyara?"


"Kami akan tidur bersama di kamar Ibu. Sudahlah, kau tidur saja disini, dan jangan banyak bertanya, atau tidak kau tidur saja di mobilmu" ucap Shanum


"Tidak begitu" Arga melangkah mendekati Shanum, dan menggenggam kedua tangan Shanum "Bagaimana kalau kita menikah hari ini saja, agar kau, Ibu, Kiyara dan Dimas tidak perlu tidur bersama dalam satu kamar yang sempit. Akan lebih baik jika kita tidur bersama disini, dan Ibu, Kiyara serta Dimas, bisa tidur nyaman juga di kamar Ibu" usul Arga


"Kau jangan gila, menikah tidak semudah itu"


"Mudah Hann, asal kau dan aku bersedia, maka kita bisa menikah"


"Tidak Ga, semua tidak akan semudah itu. Menurutmu bagaimana aku bisa menikah denganmu, sedangkan keluargamu tidak menyukaiku, pikirkan aku Ga, aku tidak mungkin bisa bahagia dengan pernikahanku, sementara ada orang lain yang aku rugikan. Setidaknya, biarkan aku menenangkan diri, dan mempertimbangkan semuanya dulu" pinta Shanum "Kau istirahatlah, aku akan keluar" Shanum melepas tangannya dari genggaman Arga, dan keluar dari kamar


Shanum mengikuti langkah Bu Siti yang kembali membawanya menuju ruang tengah "Ada apa Ibu membawa Kakak kemari?" tanya Shanum


"Apa benar yang di katakan Nak Arga tadi?" tanya Ibu Siti


"Apa? Perkataan Arga yang mana yang Ibu maksud?" tanya Shanum tak mengerti


"Menikah"


"Apa Ibu meragukan Arga?" tanya Shanum hati hati


"Bukan Arga, tapi kau. Ibu meragukan keseriusanmu Kak. Ibu tahu seperti apa dirimu, taraf laki laki yang kau harapkan, dan tipe laki laki seperti apa yang menjadi idamanmu. Bukankah tolak ukurmu dalam menilai seorang laki laki adalah ayahmu, lalu apakah menurutmu Arga sudah layak, dan sama seperti ayahmu?"


"Bu..."


"Apa kau bisa menerima Nak Arga?" Ibu Siti tampak benar benar penasaran


"Dia sangat jauh dari tipe-ku Bu. Dia adalah laki laki paling menyebalkan yang pernah aku temui. Tapi sejauh ini, hanya dia laki laki yang bisa menunjukkan keseriusan dalam ucapannya, dan aku yakin untuk menikah dengannya"


"Lalu kapan?" tanya Bu Siti


"Mungkin tidak dalam waktu dekat Bu"


"Kenapa?"


"Kakak masih belum siap, dan keluarganya juga belum bisa menerima Kakak"